Majalah Dinding dan Tantangan Zaman

Ditulis oleh Natya Laksita   // April 21, 2011   // 0 komentar

Majalah Dinding Majalah Dinding| Foto: Istimewa

Suara Mahasiswa Online, Universitas Indonesia- Majalah dinding merupakan salah satu media klasik yang masih ada hingga saat ini. Namun kini penggunaannya mulai tidak optimal bahkan mulai terlupakan.

Di FIB, banyak majalah dinding dari Himpunan Mahasiswa Program Studi (HM Prodi) yang tidak diganti secara rutin. Menjadi pertanyaan masihkah mading menjadi media yang efektif untuk menyampaikan informasi.

Eva, staff media DPM (Dewan Perwakilan Mahasiswa) FIB UI menyatakan pendapatnya. “Mading merupakan salah satu jembatan komunikasi yang penting, namun sangat disayangkan karena pemanfaatan mading di FIB belum maksimal”, ujarnya. Menurutnya, minat mahasiswa di FIB untuk membangkitkan majalah dinding belum sempurna. Mading-mading yang telah tertempel pun kebanyakan kurang rapi dan seadanya saja.

Minimnya kesadaran mahasiswa untuk mengembangkan majalah dinding juga disebabkan karena minimnya tempat untuk menaruh majalah dinding yang ada di FIB. Selain itu, letak tempat majalah dinding yang kurang strategis pun juga menjadi salah satu pemicu. “Tempat-tempat majalah dinding di FIB sangat kurang strategis, seperti misalnya majalah dinding yang terletak di belakang gedung XI. Jarang sekali dilewati oleh mahasiswa”, ungkap Nurul, Kepala Bidang media BEM FIB UI.

Terkait dengan minimnya tempat yang ada untuk menaruh majalah dinding, menurut Nurul, BEM FIB akan mengajukan surat ke dekanat untuk dapat menambah tempat-tempat majalah dinding yang ada di FIB dengan sebelumnya mengadakan riset ke beberapa fakultas di sekitar untuk mengetahui akan minat mahasiswa mengenai majalah dinding.

Urgensi majalah dinding ternyata dirasakan pula oleh beberapa mahasiswa FIB UI. Ryana Purba salah satunya. “Majalah dinding tuh penting banget, makanya sayang aja kalo tempatnya kurang strategis,”,terangnya singkat. Dia juga berpendapat kurangnya minat mahasiswa mengenai majalah dinding juga dapat disebabkan karena faktor teknologi yang sudah maju. “Zaman sekarang udah ada twitter, facebook, internet. Di situ informasi bisa langsung diakses, lebih praktis dari majalah dinding”, kata mahasiswa jurusan sastra Inggris tersebut.

Seperti senada dengan Ryana, Sallina, mahasiswa sastra Inggris juga berargumen hal yang serupa. “Buat apa majalah dinding kalo isinya cuma copy paste dari internet? Gue setuju sama adanya majalah dinding, namun konten di dalamnya harus murni dari kerja otak mahasiswa itu sendiri. Kalau hanya copy paste sih mending lihat langsung di internet aja”, katanya.

Kemunculan teknologi media baru yang lebih efisien seperti internet dengan fasilitas jejaring sosialnya menjadi tantangan bagi eksistensi media klasik seperti mading. Jika mading tidak dikelola dengan baik seperti tidak rutin meng-up date isi, bukan tidak mungkin madding akan semakin jarang ditengok.

Penulis- Natya Laksita`09 / SUMA UI

Penyunting- Fariz Panhegar`08 / SUMA UI


Berita Terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat surel Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *