Bengkulu, Mozaik Sejarah yang Mengurat Nadi

Ditulis oleh admin web   // Mei 9, 2011   // 0 komentar

Benteng Fort de Marlborough. Tampak Dalam | Febrian Alsah/SUMA Benteng Fort de Marlborough. Tampak Dalam | Febrian Alsah/SUMA

 

Febrian Alsah, Mahasiswa FE UI – Program Studi Manajemen 2007Febrian Alsah, Mahasiswa FE UI – Program Studi Manajemen 2007

Pantai putih berpasir halus  ditingkahi aneka makhluk hidup yang asik bermain di tapal batas darat. Awan semarak beranak di megamega . Di tempat lain lembah hijau pegunungan berhias cemara. Di dahannya, kaki kecil burung gereja kuat bertengger. Kicaunya sahut bersahut dengan desir angin. Ada juga riuh rendah pantonim riak air sungai. Berdiri di bebatuan, terasa bulir air terjun menyentuh muka. Sedang kaki sibuk bercanda dengan puluhan ikan kecil. Ya, itulah yang disebut  keindahan bagi saya dan mungkin juga anda. Tapi, di Bengkulu saya mendapatkan sesuatu yang berbeda. Keindahan itu terdefenisikan sebagai mozaik sejarah yang masih menunjukkan keberadaannya secara utuh dan mempengaruhi pola kehidupan masyarakatnya hingga saat ini. Hal ini menarik, apalagi ditengah kebobrokan negeri ini yang sangat susah menghargai simbol perjuangan bangsanya.

Salah satu Mozaik itu berupa benteng  bernama Ford de  Malrborough. Satu dari 9 benteng yang dikategorikan berkondisi baik di Indonesia. Juga satu dari beberapa benteng yang masih di kelola dengan benar  dan menjadi objek wisata andalan. Menurut beberapa sumber, benteng ini merupakan pertahanan terkuat inggris kedua di samudra hindia setelah sebuah benteng di madras, india.

Situs sejarah yang terletak di kawasan bernama kampung ini kokoh berdiri menghadap samudra hindia. Di depannya terhampar pemandangan pantai panjang. Untuk mencapai tempat ini tidaklah sulit. Kita cukup sekali naik angkot kuning dari terminal. Hanya perlu meronggoh kocek Rp 2000,00 saja. Komplek benteng terbilang luas. Dari luar langsung terlihat dinding kokoh khas arsitektur inggris berhiaskan rumput hijau di sekelilingnya. Jadi sangat mudah untuk mengenalinya.

Untuk masuk, cukup bayar Rp 2500,00. Selanjutnya, kita dapat menikmati  kemolekan dan segala fasilitasnya. Sebelum masuk, berfoto sejenak tidaklah rugi. Sesampainya didalam, jangan langsung simpan kamera, karena kita bisa bergaya di atas jembatan yang di seberangnya ada gapura ford de Marlborough. Halaman benteng langsung tampak selepas gapura. Luasnya, kalau dari pandangan mata, kira kira 45 m X 45 m. ada beberapa pohon rimbun untuk berteduh dan juga 2 meriam perang. Nah sebelum sampai di halaman, di kiri kanan nya ada dua ruangan. Seingat saya, satu ruangan untuk museum, satu lagi untuk ruangan tahanan. Tepat saat memasuki halaman, di depannya ada makam 3 orang yang di tata dengan baik. Saya tidak tahu siapa orangnya. Mungkin inggris atau belanda. Di kiri halaman, ada ruangan yang juga di jadikan museum dan dulunya di sini merupakan ruang kerja dari prajurit inggris ini. Di seberang halaman, ada pustaka dan juga ruang kerja. Di pojoknya ada ruang amunisi. Dan benteng ini terdiri dari 2 tingkat. Di tingkat atas ada berbagai pernak pernik pertahanan. Berbagai lubang persembunyian masih terlihat. Selain itu ada beberapa meriam yang tampak di hadapkan ke laut lepas. Beberapa tidak berada di posisi aslinya seperti dulu. Penempatan  ke laut lepas untuk menghadang kapal dan menghalau serangan lawan dari laut.

Benteng Fort de Marlborough. Tampak Dalam | Febrian Alsah/SUMA

Benteng Fort de Marlborough. Tampak Dalam (dua) | Febrian Alsah/SUMA

Saya cukup betah berkunjung kebenteng ini 2 hari berturut turut, di sinilah saya melihat simbiosis antara benteng dengan masyarakat Bengkulu. Pertama, tempat ini jadi sumber pendapatan kota. Pemerintahan kota serius merawat benteng. Sehingga situs ini menjadi tempat yang wajib di kunjungi meskipun anda tidak menyukai peninggalan sejarah. Kedua, banyak masyarakat yang menggantungkan periuk nasinya di sini. Bengkulu yang sejatinya bukan merupakan kota wisata, mampu dipaksa benteng ini untuk sedikit merubah wajahnya dengan keberadaan Marlborough. Mulai dari didepan kompleks benteng,  terdapat beberapa pedagang asongan. Di seberang benteng, berjejeran tempat makan seperti yang saya ceritakan di tulisan sebelumnya. Ada juga berbagai toko kelontong, pakaian dan elektronik. Di sisi lainnya, beberapa hotel tersedia bagi para turis. Yang menarik lagi, pantai panjang yang berdekatan dengan marlboroug di tata lebih ciamik dari pada sisi lain pantai ini. Ada berbagai hiburan dan penjaja makanan di sepanjang pantai yang menghadap benteng.  Hal ketiga yang saya temui adalah  tempat ini menjadi tempat tongkrongan anak muda Bengkulu. Jika sore menjelang, ramai muda mudi yang berkunjung, bukan untuk wisata sejarah, tapi merintang rintang hari bersama teman atau pacar di padang rumput yang banyak terdapat di tingkat satu dan dua benteng. Mereka asik bercengkrama dengan pandangan lepas ke samudra hindia. Menjemput senja di marlborogh seperti jadi rutinitas sehari hari mudamu di bumi raflesia.

“Saat tahun baru menjelang , kembang api dari Jakarta diimpor kesini. Sorak sorai  dan sujud sukur pergantian tahun di pimpin bapak gubernur” Begitulah kata seorang bapak di warung makan. Kata beliau lagi banyak harta berupa emas di dalam benteng. Letaknya berada di dalam gua gua yang menghubungkan seluruh kota Bengkulu dengan benteng. Suatu ketika pernah diadakan penggalian besar-besaran disini. Tidak mudah untuk mendapatkan harta tersebut, dibutuhkan “orang berilmu” untuk mengambilnya.”

Kota Bengkulu belumlah sebesar kota-kota di jawa ataupun seramai medan dan Palembang di sumatera. Warganya berupaya untuk terus saling mengangkat taraf hidup dalam ke gotong royongan.  Sebagian kecil dari mereka masih terlena akan hegemoni tukar guling Bengkulu-singapura antara belanda dan inggris. Banyak yang masih berandai andai, kalau saja kita tetap di asuh inggris tentu sudah semaju singapura sekarang.

Masih ada beberapa kepingan sejarah yang turut membentuk pola sosial masyarakat disini. Ada rumah pengasingan bung karno, rumah fatmawati, juga patung sentot ali basa dan lainnya. Semua cerita dan pola sosial masyarakat itu saling mempengaruhi dengan mozaik mozaik sejarah yang di miliki kota ini.

Sebuah kota yang sangat menghargai nilai sejarah bangsanya. Menjaga memori perjuangan bangsa seperti kesabaran melestarikan bunga raflesia. Bunga endemik  yang juga punya nilai histori tinggi bagi masyarakat Bengkulu.

(Febrian Alsah, Mahasiswa FE UI – Program Studi Manajemen 2007)


Berita Terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat surel Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *