Warisan Megalitikum di Negeri Matahari Terbit (Bawomataluo)

Ditulis oleh admin web   // Mei 9, 2011   // 5 komentar

Lompat batu: tradisi kedewasaan di nias | Febrian Alsah/SUMA Lompat batu: tradisi kedewasaan di nias | Febrian Alsah/SUMA

Febrian Alsah, Mahasiswa FE UI – Program Studi Manajemen 2007

Bawomataluo berada diatas bukit dengan ketinggian jauh dari permukaan laut. Dari desa dapat kita lihat sang surya bangun dari lelapnya. Maka, disebutlah desa ini dengan nama Bawomataluo yang merupakan bahas Nias yang berarti “matahari terbit”. Dari sini juga dapat dirasakan matahari terik menyengat ubun ubun kepala. Di kejauhan, keelokan pantai Sorake dan Lagundri dapat tertangkap oleh mata.

Bawomataluo terletak jauh di pedalaman kepulauan Nias yang berada di kabupaten Teluk Dalam. Untuk mencapai tempat ini, kita dapat mengaksesnya dari Sorake selama 45  menit. Tidak ada kendaraan umum yang memasuki wilayah desa. Ini dikarenakan geografisnya yang sulit dan penduduk yang sepi. Alat transportasi adalah kendaraan sewaan dari warga sekitar. Tapi sebaiknya kita menyewa ojek atau angkutan berikut sopirnya  dibanding mengendarai sendiri. Kebiasaan dan cara berkendaraan penduduk yang belum bisa dikatakan tertib serta watak yang keras membuat kita lebih nyaman dan aman didampingi oleh guide atau sopir.

Sepanjang perjalanan dari sorake menuju desa, desir ombak dan hamparan sawah saling berebutan menemani kita. Setelah 20 menit perjalanan, formasi landscape nya berganti dengan jalanan menanjak menuju ke atas bukit dengan sesekali dijumpai rumah warga di kiri-kanan jalan. Saat hampir mencapai desa, barulah ada perkampungan yang ramai oleh penduduk. Setelah memarkir kendaraan di dekat pintu masuk desa, kita harus menaiki tangga yang cukup tinggi untuk mencapai gerbang Bawomataluo. Mungkin sekitar 45 anak tangga.  Nah, ketika sudah mencapai anak tangga terakhir, barulah terlihat desa Bawomataluo.

Jejak-jejak megalitikum

Menjejakkan kaki di desa ini kita seperti ditarik kembali ke masa lampau, tepatnya zaman megalitikum. Pemberian predikat untuk bawomataluo dan beberapa desa lainnya di nias sebagai salah satu dari sepuluh warisan dunia zaman megalitikum yang masih hidup hingga saat ini adalah bukti nyata “kekunoan” desa ini.

Ada rumah adat yang begitu gagah bercengkrama dengan langit. Rumah adat penduduk yang disebut juga omo hada dalam bahasa Nias ini berusia ratusan tahun dan masih dirawat serta ditempati oleh penduduk desa. Hampir semua rumah di bawomataluo adalah omo hada. Rumah-rumah ini tertata dengan rapih di sisi-sisi desa dengan satu omo sebua (rumah adat raja) yang didiami kepala suku yang berukuran lebih besar di banding lainnya.

Untuk membuat omo sebua, dibutuhkan waktu 15 tahun lebih. Kayu laban adalah material yang menjadi komponen utama dalam membangunnya. Kayu ini didapat dari pohon laban yang banyak tumbuh di tanah Nias. Laban yang bisa digunakan untuk rumah haruslah dibacakan doa-doa tertentu oleh sesepuh adat. Seperti umur omo hada sendiri, kayu laban juga mampu terus menompang kontruksi rumah selama seabad.

Patung Ono Niha | Febrian Alsah/SUMA

Patung Ono Niha | Febrian Alsah/SUMA

Di sekitar pekarangan rumah, jamak ditemui arca batu berbentuk hewan dan peralatan perang. Di dalam rumah warga juga dapat kita jumpai arca yang berwujud manusia dan hewan.  Yang berbentuk hewan umumnya berupa reptil sedangkan manusia berwujud sesepuh adat orang nias dahulu kala. Semua arca yang merupakan peninggalan sejarah berumur 50 sampai ratusan tahun lebih ini menunjukkan tingginya cita rasa seni ono niha (orang nias). Karena memang tidaklah mudah membuat pahatan-pahatan batu ini.

Pakaian adat khas nias juga bisa didapati di Bawomataluo. Baju terbuat dari anyaman dedaunan hingga bulu binatang. Aksesoris berupa kalung kayu, gelang dan berbagai perangkat perang turut melengkapi. Jenis pakaian adat yang dikenakan menunjukkan identitas si pemilik. Laki-laki yang mengenakan pakaian dari bulu hewan, gelang kayu dari emas, anting pada telinga kanan (fondruru), tombak, perisai, belati dan pedang dengan taring babi hutan di ganggangnya memiliki status sosial yang tinggi di antara ono niha lainnya.

Lalu ada juga upacara adat yang masih melekat erat di desa. Perkawinan adalah salah satu  upacara yang sangat prestisius bagi ono niha. Selain pakaian adat, upacara perkawinan menjadi ajang unjuk status sosial bagi warganya. Jangan heran jika dalam sebuah perhelatan perkawinan, 50 hingga 100 babi bisa dikorbankan. Mampu atau tidak untuk membayar, kadang menjadi urusan belakangan.Selain dari upacara dan pakaian adat, pentingnya status bagi penduduk desa juga dilihat dari nama atau gelar serta harta bergerak/tidak seperti rumah adat dan pesta. Penyambutan tamu merupakan upacara adat lainnya. Untuk menghormati tamu,dilakukan penyuguhan sirih. Tamu yang datang dihidangkan sirih (tawuo) , pinang muda, daun gambir yang sudah kering dan kapur dalam satu wadah yang di sebut gado. Kadang kala tembakau ikut ditambahkan dalam gado. Sirih ini dimakan dengan menggunakan tangan secara langsung.

Seperti acara sunatan di banyak tempat, penduduk desa bawomataluo juga punya upacara kedewasaan. Upacaranya khas sekali dan tentu tidak asing bagi kita karena gambarnya terpajang pada uang lembaran Rp. 1000,00. Setiap laki-laki yang ingin disebut dewasa harus bisa melompati batu lompat setinggi 2,1 meter yang terletak ditengah-tengah lapangan desa. setiap anak akan berlatih dahulu secara tekun. Jika merasa telah siap, upacara lompat batupun digelar. Lompat batu menjadi ukuran kedewasaan karena disinilah terlihat keberanian, kekuatan mental, fisik dan semangat juang dari anak muda bawomataluo. Jika upacara terlewati dengan baik maka dia pantas mengemban amanat sebagai laki-laki dewasa nias. Amanat itu antara lain adalah menjaga desa dari serangan musuh.

Asimilasi dan reduksi budaya

Dahulunya antar desa sering terjadi pertikaian yang berujung perang. Perang inilah yang membuat tiap desa punya pola sosial yang dipersiapkan untuk menghadapi kemungkinan terburuk ini. Ono niha memilih lokasi desa secara cermat seperti bawomataluo yang terletak di atas bukit dan terasing. Ada upacara kedewasaan lompat batu yang berguna untuk mempersiapkan generasi penerus untuk menjaga desa. latihan perang juga sering diadakan.

Penduduk Bawomataluo: Bersiap untuk tarian perang | Febrian Alsah/SUMA

Penduduk Bawomataluo: Bersiap untuk tarian perang | Febrian Alsah/SUMA

Arus modernisasi yang terjadi saat ini ikut masuk ke nias dan desa-desa didalamnya. Secara tidak langsung, masyarakat nias ikut membaur dengan modernisasi. Sudah jarang terjadi perang antar desa di nias. Kondisi ini membuat tarian perang yang sebelumnya tenggelam menjadi popular dibandingkan perang itu sendiri. Warga menumpahkan hasrat perangnya pada tarian. Kewajiban untuk menjaga desa juga tidak ada lagi. Upacara lompat batupun tidak lagi menjadi suatu keharusan. Tidak setiap pemuda desa bawomataluo lihai dalam lompat batu.

Tapi atraksi lompat batu tetap mudah dijumpai karena masih sering dilakukan sebagai upacara penyambutan tamu dan permintaan dari wisatawan yang berkunjung ke desa. pakaian adat tidak setiap hari digunakan karena ono niha mulai beralih pada pakaian yang dikenakan masyarakat umumnya seperti kaus dan daster. Seiring sulitnya mencari kayu laban dan proses pembuatan rumah yang memakan waktu lama, jumlah rumah adat nias turut berkurang. Di bawomataluo sendiri, beberapa keluarga mulai memilih rumah permanen.

Semua arus modernisasi itu sedikit demi sedikit menggerus kekayaan budaya bawomataluo. Belum lagi dengan banyaknya pencurian dan penjualan ilegal dari benda benda perang dan arca batu. Benda perang berupa pedang berganggang taring babi hutan, baju perang dan peralatan lainnya dijual ke luar nias dan luar negeri. Arca batu bahkan lebih parah lagi, peninggalan ini paling banyak diselundupkan karena harga jualnya tinggi yaitu ratusan juta. Ketamakan para kolektor mau tidak mau ikut mereduksi kekayaan budaya desa dan Nias keseluruhannya.

Menjaga warisan dunia

Desa Bawomataluo dan desa desa lainnya di Nias sampai saat ini masih bertahan dengan budaya megalitikumnya yang khas. Tapi pengaruh dari luar terus menggangu. Tarik menarik budaya mau tidak mau akan terus terjadi. Sekarang saja dapat dilihat perubahan dalam pola konsumsi dan berpakaian warga desa. jika tidak ada upaya pencegahan, tradisi ono niha ini akan lapuk ditelan zaman.

Pariwisata merupakan salah satu cara yang diterapkan pemerintah untuk mempertahankan keberadaan desa Bawomataluo dan desa lainnya. Beragam program wisata dirancang pemerintah. Ketika saya berkunjung, sedang berlangsung lomba foto sagara nias bangkit . salah satu bagian dari acara ini adalah melakukan kunjungan selama 4 hari di desa Bawomataluo. Sebagai salah satu desa adat yang tertata dengan baik, tidak salah memang penunjukan desa ini. Dengan mengundang para peserta lomba yang terdiri dari kalangan umum dan photographer media nasional, acara ini pun menjadi sangat meriah. Ada upacara perkawinan, tarian perang, lompat batu dan pembuatan video. Pariwisata memang menjanjikan. Warga Bawomataluo yang kedatangan turis untuk melihat kekayaan budayanya tentu akan terus berusaha menjaga tradisinya.

Banyaknya penyelundupan benda-benda cagar budaya Nias tampaknya belum menjadi perhatian pemerintah. Dari obrolan saya dengan seorang penyelundup benda antik di desa tersebut dapat saya simpulkan betapa mudahnya menyelundupkan barang keluar nias. Setiap bulan, selalu ada saja ada selundupan. Nilai uang yang menggiurkan memang jadi motif utama.

Jika menunggu pemerintah terus, tentu akan lama beresnya. Bukankan beliau-beliau juga harus memikirkan banyak hal lainnya untuk kesejahtraan rakyat? Lalu kita bisa apa? Berpariwisata dan mengenalkan tradisi nias dengan cara masing-masing melalui media dan komunitas yang kita punya itulah yang bisa kita lakukan, kata seorang kawan. Ada benarnya juga tampaknya. Jadi, tunggu apalagi, ayo berkunjung ke Nias teman teman..

 

(Febrian Alsah, Mahasiswa FE UI – Program Studi Manajemen 2007)


Berita Terkait

5 KOMENTARS

  1. By Rifki #16, November 19, 2017

    Ayo terus support suma ui yg jauh lebih niat, mengumpulkan tulisan dan berita :D btw tulisan rian ok juga, menambah pengetahuan ttg nias, jd pengen ke sana :)

    Balas
  2. By quliah alfendah, November 19, 2017

    keren banget foto2nya nih :D maju terus web suma

    Balas
  3. By wanitamisterius, November 19, 2017

    jadi pengen ke sini…

    Balas
  4. By Rifky Ferdiansyah, November 19, 2017

    Sebuah deskripsi perjalanan yang bagus. Apalagi dilengkapi dengan semangat untuk tetap menjaga warisan kebudayaan Megalitikum dunia yang sudah jadi barang langka ini. Usaha saudara Febrian untuk menulis perjalanannya dalam Suma secara tidak langsung telah ikut membantu pemerintah (dalam hal ini Kemenbudpar)dalam mempromosikan pariwisata Indonesia.

    Pernah suatu ketika berfikiran mengajak beberapa teman yang mencintai tanah air ini dengan tulus untuk mengucap sumpah, semacam sumpah palapanya gajdah mada, namun dalam versi yang berbeda. Isinya kurang lebih bahwa “Kami pemuda/i Indonesia bersumpah tidak akan melancong keluar negeri sebelum menjelajahi dan menikmati semua keindahan alam dan budaya Indonesia”.

    Ini sebenarnya hanyalah sebuah wacana yg saya buat pribadi tapi belum pernah direalisasikan karena masih menimbang apakah ini benar-benar memberi efek positif bagi kita pemuda Indonesia untuk terus belajar mencintai negerinya sendiri ditengah gerusan budaya global yg tengah mengikis kearifan lokal dan bangsa.

    Salam,

    Balas
  5. By Taufiq, November 19, 3761

    ya ho fuu…Info yang sangat menarik apalagi budaya yg unik,..aku sendiri blum pernah kesana padahal aku asli Nias,..jd pengennn,..melihat kampung Umi di teluk dalam dan bawomataluo pasti sangat indah tanah Ono niha ..

    Balas

Tinggalkan Balasan

Alamat surel Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *