Dokumentasi Buletin Bergerak! Suara Mahasiswa

Ditulis oleh admin web   // Mei 12, 2011   // 1 komentar

aksi di kampus UI salemba aksi di kampus UI salemba

Mahasiswa Trisakti Tewas Terbantai Peluru Penguasa

Di depan gedung Syarif Taheb kampus A Universitas Trisakti Grogol kini terdapat sebuah karangan bunga duka kecil. Terlalu kecil artinya bila dibandingkan dengan duka yang disimpan benda-benda di dekatnya. Disamping anggrek-anggrek ungu anggun itu terlihat bercak-bercak merah kering serta bongkah-bongkahan kecil lembek berwarna putih keruh. Inilah benda-benda yang menyimpan sebuah cerita nestapa. Percayalah, ini bukan rekaan. Benda-benda yang ada di tempat itu adalah darah dan serpihan otak Hendriawan seorang mahasiswa yang kepalanya tertembus peluru timah, bukan peluru karet, yang ditembakkan oleh polisi anti hru-hara. Benda inilah bukti nyata telah terjadinya pembantaian biadab terhadap mahasiswa oleh penguasa.

Hendriawan adalah salah satu mahasiswa Universitas Trisakti (Usakti) yang tewas dibunuh oleh aparat keamanan kemarin (12/5) ketika sedang menyuarakan aspirasi mereka di kampus A Usakti Grogol yang terletak di depan Jl. S. Parman, salah satu jalan paling ramai di Jakarta. Sampai saat ini tercatat tujuh mahasiswa yang jiwanya melayang, belasan sedang meringkuk di rumah sakit, puluhan tak diketahui rimbanya. Ini semua terjadi ketika aparat beruaha menghalau ribuan mahasiswa yang tengah mengadakan aksi duduk selama 4 jam di Jl. S. Parman setelah ditolak kehendaknya untuk long march ke Gedung DPR/MPR RI.

Berdasarkan keterangan berbagai sumber, aparat menghalau mahasiswa tanpa rasa kemanusiaan. Mereka tidak memberi peringatan dini berupa pengumuman atau tembakan pendahuluan. Melainkan langsung menyerbu mahasiswa dengan berondongan peluru dari senapan otomatik laras panjang yang diarahkan ke tubuh dan kepala mahasiswa. Sejumlah saksi mata –termasuk awak TV3 Malaysia- yang tengah berada di tingkat enam gedung rektorat Usakti (Syarif Taheb) melihat pendembak-penembak tepat (sniper) berada di atap Citraland untuk membantai mahasiswa. Saksi lain melihat mereka berada pula di tempat lain.” Ungkap satu saksi. Feby, koordinator SM Usakti untuk insiden kemarin menyatakan, “Mereka menembak dari helikopter yang terbang rendah di atas kampus kami.”

Tetapi penuturan seorang saksi mata mahasiswa Teknik Sipil yang melihat kebiadaban di depan mata mungkin dapat mewakili kekejian aparat. Ia mengatakan bahwa di antara kerumunan mahasiswa Usakti yang berusaha menghindari serangan aparat, ia melihat seorang mahasiswi tersungkur yang kemudian berusaha untuk terus tiarap agar tidak dilukai aparat. Namun setan telah membutakan mata petugas dan sepertinya tak puas bila tak menuai hasil. Ia mendatangi si mahasiswa laki-laki itu dan menembak kepalanya dari jarak sangat dekat. Dor! Satu mahasiswa pun tumbang dan tubuhnya dilempar ke truk.

mahasiswa menggelar aksi di kampus salemba
mahasiswa menggelar aksi di kampus salemba

Kisah-kisah yang bergerak! dapatkan tadi malam langsung di lokasi seakan tak bisa dipercaya. Bagaimana mungkin aparat keamanan bisa menjadi begitu sadis? Bagaimana mungkin mereka menembak langsung ke kepala mahasiswa? Bukankah itu melanggar semua apa yang didoktrinkan kepada mereka sebagai pelindung rakyat. Tetapi kisah-kisah yang dituturkan oleh tiap mahasiswa dan dosen Usakti yang hingga dinihari tadi masih ada di kampus universitas swasta itu semua bernada sama. Walau berlainan dalam segi detail, kisah mereka semua punya kesamaan dari segi sikap keseluruhan petugas.

Polisi anti huruhara yang dikenali dari Brimob telah menjadi penjagal mahasiswa.“kita bukan binatang. Bukan penjahat. Masa kita ditembak seperti itu,” ujar pembantu Dekan III Fakultas Teknik Industri Usakti Ir. Husein Aziz kepada bergerak! Yang langsung mendatangai ruangan jenazah RS Sumber Waras Grogol begitu mendapat kabar terjadinya pembantaian. Sampai berita ini diturunkan, rumah sakti itu sendiri masih penuh dengan handai-taulan mahasiswa yang menjadi korban. Isak tangis, gejolak emosi pengutukan dan wajah-wajah marah campur sedih yang teramat sangat. Semua seakan tak percaya bahwa kekejian seperti ini bisa terjadi dirinya, temanya, keluarganya atau kenalannya.

Kronologi

Bila ditelusuri secara kronologis, indikasi ke arah pembantaian sebenarnya tidak terlihat di awal aksi. Aksi dimulai jam 10.30 WIB di halaman parkir kampus A. Sampai jam 12.00, mahasiswa masih bisa menahan diri untuk tidak turun ke jalan. Mereka penguasa yang semakin lama semakin tak mempedulikan rakyat. Namun niat untuk turun ke jalan akhirnya tak tertahankan. Mereka kemudian keluar kampus ke Jl. S. Parman dan berusaha untuk mengadakan long march ke Gedung DPR/MPR yang terletak sekitar 3 km di jalan yang sama.

Melihat hal ini, aparat tentun saja mencoba menghadang sesuai dengan prosedur yang saban mereka katakan di media umum. Massa Usakti yang dipimpin olhe Dekan Fakultas Hukum Usakti Andojo Soetjipto berusaha bernegosiasi dengan aparat keamanan yang diwakili Komandan Kodim Jakarta Barat Letnan Kolonel Amril. Dengan alasan dapat memacetkan lalulintas, sang Dandim melarang massa untuk melakukan niatnya.Sementara itu, mahasiswa kadung telah berada di luar kampus. Mereka memenuhi Jl. S. Parman sampai Gedung Walikota Jakarta Barat yang terletak 200 m dari kampus. Dan memang sudah nyata bahwa telah terjadi kemacetan di daerah itu. Melihat massa tak mau mundur, aparat pun mulai menambah pasukannya. Kedatangan 2 truk polisi anti-hruhara dan 5 panser yang dipimpin oleh Kolonel Polisi Arthur Damanik menandakan bahwa aparat tak mau sedikit pun membiarkan mahasiswa untuk bergerak.

Massa mahasiswa melihat hal ini mengurungkan niat untuk long march. Mereka sepakat menggantinya dengan melakukan aksi duduk di jalan raya itu. Pada pukul 14.00, hujan mengguyut Kawasan Grogol seperti hendak membubarkan massa. Namun mahasiswa tetap tidak bergemin. Kurang lebih pukul 15.30 WIB ada pemberitahuan dari pihak keamanan bahwa aksi mahasiswa Usakti harus bubar sebelum jam 16.00 WIB. Saatitu tingga 2000 mahasiswa yang berada di luar, sementara 6000 lainnya menunggu di dalam kampus Usakti yang teduh. Para dosen mendengar ancaman ini membujuk mahasiswa untuk mundur dan kembali ke kampus, namun mahasiswa meminta aparat mundur dulu. Aparat saat itu sudah berlapis delapa dengan peralatan lengkap. Beberapa petugas terlihat di atas jembatan penyebrangan di depan kampus Usakti. Beberapa sudah stand by di Mal Ciputra yang berada di seberang, Mahasiswa tak tahu apa maunya mereka yang berada di tempat-tempat itu. Fungsi prajurit itu baru ketahuan setelah pembantaian terjadi. Massa mahasiswa kemudian mundur teratur setelah bujukan dosen dan alumni semakin dapat diterima. Namun ternyata aparat malah mendekat dan mengurung mahasiswa. Melihat gelagat tak baik dari aparat, mahasiswa naik emosi. “Kita mundur kok mereka maju,” teriak beberapa mahasiswa yang mencoba untuk tidak terbawa arus mundir dan dorongan aparat. Reaksi maju mahasiswa ternyata dibalas dengan suara sebuah tembakan. Setelah itu pembantaian pun terjadi.

Mahasiswa tunggang-langgang berusaha menghindari aparat yang seaakan gelap mata. Pentungan berkelebatan menghantam badan mahasiswa yang terdekat. Puluhan gas air mata dilemparkan ke dalam kampus Usakti. Senjata mereka memuntahkan peluru-peluru tajam yang diarahkan langsung ke tubuh mahasiswa. Apapun yang berada di depan mereka sikat, tembak, hancurkan. Ada dua cara yang dipalai untuk menembak mahasiswa. Pertama membidik secara sengaja ke tubuh dan kepala mahasiswa dari belakang. Ini terlihat dari sebagian luka tembakan ada di bagian belakang tubuh mahasiswa termasuk di tubuh Ketua Senat Mahasiswa Usakti Julianto Hendro yang terluka parah akibat dua peluru logam bersarang di pinggangnya. Cara kedua adalah mengangkat senjat tinggi-tinggi di atas kepala dan menembak massa di depan dengan membabi bita. Darah berceceran dimana-mana. Cipratan cairan otak pun mengenai bangunan Usakti yang telah jadi saksi bisu sebuah pembantaian mahakeji terhadap insan intelektual bangsa. Banyak pula mahasiswa yang jatuh, namun tetap dihantap dan diinjak-injak oleh aparat. Jeritan-jeritan mereka tak juga dapat meredakan kebrutalan aprat yang sudah tak segan lagi masuk ke dalam wilayah kampus dalam pesta pembantaiannya. Saat itu tembakan seakan berasal dari setiap sudut. Dari sebarang jalan, dari gedung universitas yang sedang dibangun, dari helikopter yang terbang rendah di atas kampus dari Jl. S. Parman dan Jl. Kyai Tapa yang mengelilingi kampus utama Usakti itu. Bahkan dari tengah-tengah kampus sendiri. Ratusan selongsing peluru yang ditemukan, ceceran darah dan bekas tembakan di kaca adalah bukti nyatanya.

Beberapa korban yang jatuh dibawa ke RS Sumber Wara yang berada dekat kampus Usakti. Tragisnya, banyak korban yang tak dapat diselamatkan dari tangan aparat. Beberapa tubuh dilemparkan ke dalam truk militer yang sepertinya sudah siap untuk menghilangkan bukti. Tetapi rasanya, penghilangan bukti adalah tindakan bodoh sementara beribu-ribu mahaiswa menyaksikan pembantaian dengan mata kepala sendiri. CNN pun ada di lokasi dan terus menerus menyiarkan kondisi Usakti ke selurh dunia tiap satu jam. Demikian pula media massa lainnya tak segan-segan memberitakan kejadian ini.Di rumah sakit sendiri, timbul masalah baru. Pihak RS Sumber Waras tidak mau melakukan visum. Menurut Husein Aziz, penyambutan rumah sakit tidaklah tanggap. “Mereka menunda visum karena belum mendapat laporan polisi”

Pada pukul 12.45 WIB, tim dokter RS Sumber Waras baru mulai memvisum setelah didampingi beberapa dokter militer. Kehadiran dokter militer ini memicu reaksi dari mahasiswa. Mahasiswa yang sudah kadung benci dengan aparat mengusir dokter-dokter militer itu. “Pergi jangan ke sini. Udah mayat juga masih mau diculik!” teriak mahasiswa-mahasiswa itu.Dari visum jelas terbukti bahwa mahasiswa tewas akibat tembakan peluru timah sungguhan dan bukan peluru karet, yang katanya merupakan senjata paling keras yang bakal digunakan militer dalam membubarkan aksi mahasiswa. Berita pembantaian di Usakti ini begitu cepat tersebar dan langgung ditanggapi oleh badan-badan yang punya kredibilitas. Komisi Nasional Hak Asasi Manusia (Komnas HAM) yang diwakili Marzzuki Darusman dan Araujo telah berada di rumah sakit malam tadi. Arajuo telah berada di rumah sakit malam tadi.

“Kejadian ini merupakan shock bagi kita semua. Setiap tindakan kekerasan seperti ini merupakan pelanggaran HAM”. Terlihat pula pakar politik Dr. Hermawan Sulistyo, aktivis dari berbagai LSM, mahasiswa dari berbagai perguruan tinggi Jabotabek, mantan aktivi kampus UI dan juga Pimdam Jaya Kol. CPM Hendardji yang disambut oleh teriakan cemooh oleh mahasiswa.Hendardji  diteriaki oleh puluhan mahasiswa selama ia ada di situ. “Pembunuh rakyat! PKI! Apa gunanya ABRI! Pengecut!” Sang Komandan Pomdam V Jaya yang mukanya sudah begitu tegang itu sendiri hanya bisa mengeluarkan komentar generik. “kita akan memprosesnya sesuai dengan hukum yang ada.”

“Hukum apa? ABRI anjing pembunuh rakyat! Sekarang ngomong hukum! Dasar ABRI! Tak beda dengan PKI!” lantun mahasiswa mahasiswa terus mendesak Hendardji yang kemudian berusaha keluar rumah sakit. Bahkan sebuah mobil dinas CPM sempat dirusak massa.

Di sudut lain rumah sakit, seorang ibu sedang meratap. Tangisnya yang berkepanjangan menandakan betapa sakit hatinya. Ia adalah Ibu Rasmiyati, orangtua dari Heri Herianto, mahasiswa hurusan Teknik Mesin angkatan 1996 yang tewas dalam kampus tempat ia belajar.“Dia pamit untuk belajar bersama teman dua hari lalu.” Isaknya. “Dia bukan penjahat. Dia bukan penjahat. Kok, harus ditembak. Kan nggak perlu ditembak.”

Mahasiswa memang bukan penjahat. Mahasiswa hanyalah pembawa suara rakyat yang jujur. Mereka yang membantai mahasiswa itulah yang penjatah. Semoga Tuhan menghujat mereka dengan laknat

Mad/Bas/Win/Gus/Isk/Den/Itu

HarianBergerak !

mei 1998


Berita Terkait

1 KOMENTAR

  1. By Nuriza Saputra, September 26, 2017

    Merinding bacanya. :(

    Balas

Tinggalkan Balasan

Alamat surel Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *