Pentingnya Regenerasi Artis Cilik

Ditulis oleh admin web   // Juli 16, 2011   // 0 komentar

Tasya Kamila'10 | Pravitasari/SUMATasya Kamila’10 | Pravitasari/SUMA

Tasya pernah Berjaya sebagai artis cilik. Kini ia telah beranjak dewasa. Regenarasi artis cilik yang sangat minim membuatnya kehilangan penerus.

Shafa Tasya Kamila mengawali kariernya dengan membintangi sebuah iklan pada tahun 1996. Tasya kemudian dikenal sebagai penyanyi cilik dengan lagu andalannya Anak Gembala. Tasya telah menghasilkan empat album yakni Libur Telah Tiba (2002) dan Istana Pizza (2003).

Lagu anak-anak banyak bermunculan pada era tersebut. Lagu-lagu tersebut menjadi lagu yang dapat bertahan pada waktu yang cukup lama. Namun, pada era sekarang, lagu anak-anak jarang terdengar. Industri musik didominasi oleh lagu-lagu dewasa. Acara-acara musik di televisi menyediakan ruang yang sangat sempit bagi tumbuh kembang lagu anak-anak. Pilihan lagu anak-anak bisa dibilang menjadi sulit didapatkan.

Saat ditanya mengenai keadaan tersebut, Tasya mengungkapkan, “Sedih juga sih anak-anak zaman sekarang nyanyinya lagu-lagu orang dewasa”. Program musik bagi anak-anak sangat jarang disajikan di media. “Untuk bikin konsep acara anak-anak itu tak mudah. Media sendiri udah enggak nganggep acara anak-anak itu bisa mengangkat rating,” ujarnya.

Perempuang yang lahir pada tanggal 22 November 1992 ini juga mengungkapkan harapan akan adanya regenerasi penyanyi cilik. Anak-anak, yang lahir pada periode setelah tahun 2000, tak dibesarkan oleh lagu-lagu yang sesuai dengan usianya. Anak-anak zaman sekarang lebih pandai menyanyikan lagu-lagu orang dewasa. ”Semoga bisa ada regenerasi baru yang bisa breakthrough, bisa menghidupkan kembali kehidupan entertainment anak-anak.”

“Sedih juga sih anak-anak zaman sekarang nyanyinya lagu-lagu orang dewasa” (Tasya Kamila’10)

Hingga saat ini, identitas artis cilik masih melekat pada perempuan yang kini telah menjadi mahasiswi Akuntansi FE UI 2010. “Sekarang masih di transisi,” ujarnya. Untuk mengubah kesan tersebut, Tasya mengungkapkan bahwa ia berusaha mengubah penampilan, cara berbicara, dan pembawaan. “Secara karier sekarang lebih nyari  FTV atau sinetron yang lebih bertemakan remaja”, tambahnya. Di sisi lain, Tasya juga masih harus mempertahankan identitas artis cilik tersebut. “Aku masih terus nge-remind orang-orang tentang Tasya, ini Tasya yang dulu.”

Identitas sebagai artis cilik diakui Tasya memang susah dihilangkan. Hal tersebut terjadi karena Tasya telah dikenal sebagai artis cilik. Ia pertama kali terjun ke dunia hiburan sebagai artis cilik. “Agak susah untuk menghilangkan image itu, tapi yang penting sekarang orang lebih melihat perubahan gue sebagai seseorang yang telah beranjak dewasa.”

Pada usianya yang ke-14, Tasya dinobatkan sebagai Duta Lingkungan. Kementerian Lingkungan Hidup memilih Tasya sebagai representasi anak muda yang dapat menyosialisasikan kepedulian terhadap lingkungan. “Mungkin mereka melihat latar belakang prestasi dan image yang Alhamdulillah baik” ujarnya. Tasya lebih focus kepada anak remaja dan anak-anak. “Karen ague juga dulu artis cilik jadinya mungkin approach ke anak-anaknya lebih gampang”.

Kini perempuan penggemar Justin Timberlake ini sedang mempersiapkan album baru yang akan dirilis tahun ini. Album tersebut bersegmentasi remaja. “Remaja yang belum terlalu berat banget lagunya, masih yang ringan, masih fun. Semoga aja nanti bisa diterima dengan baik oleh masyarakat,” ujarnya. Ia juga ikut bergabung dan bekerjasama dalam proyek album kompilasi garapan Fadly dan Rindra Padi.

(Maharddhika) -Diterbitkan juga di Majalah Suara Mahasiswa Edisi 27, 2011


Berita Terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat surel Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *