Menggugat Praktik Homophobia di OKK UI

Ditulis oleh Fariz Panhegar   // Agustus 21, 2011   // 19 komentar

HaCkeD bY Al3x 0wn5

Rozinul Aqli, Mahasiswa FISIP UI – Program Studi Ilmu Politik 2009
Rozinul Aqli, Mahasiswa FISIP UI – Program Studi Ilmu Politik 2009

Orientasi Kehidupan Kampus Universitas Indonesia (OKK UI) tahun ini (2011) diwarnai dengan sebuah insiden yang memalukan. Uniknya, insiden tersebut mungkin tak disadari oleh mereka yang terlibat dan mengalaminya. Hal ini bisa disimpulkan dari betapa sepinya perbincangan mengenai hal ini di lingkungan kampus UI. Ironisnya, rangkaian insiden ini tidak terjadi di hutan UI yang sepi dan melibatkan segelintir saksi, tapi di dalam Balairung UI yang penuh sesak dengan ribuan mahasiswa baru.

Insiden yang saya maksud dimulai dengan sebuah blunder yang dilakukan oleh seorang motivator yang mengisi salah satu sesi dalam acara OKK, di mana ia mengeluarkan sebuah pernyataan yang bernada homophobic(kebencian terhadap golongan lesbian, gay, biseksual, transgender, transeksual, interseksual atau biasa disingkat LGBTTI). Di depan ribuan mahasiswa baru, “Archan Sang Provokator”, nama panggung motivator tersebut, mengklaim bahwa “Indonesia tengah dilanda krisis moral”. Menurutnya, hal itu dapat ditunjukkan dengan banyaknya acara di televisi yang mempertontonkan para ‘banci’. Pernyataan tersebut awalnya dipublikasikan oleh seorang bernama Chika di twitter melalui akunnya, @chickciets yang kemudian saya terima melalui akun twitter Iwan Pirus (@meulia), dosen di Departemen Antropologi UI. Chika yang hadir pada saat kejadian sebagai pendamping rombongan sebuah grup dancer memprotes pernyataan Archan (@ArchanProvoke) melalui twitter. Beberapa dosen yang saya ikuti di twitter juga melancarkan protesnya, seperti Iwan Pirus (Antropologi), Irwansyah (Politik), dan Dirga (Politik). Mendapatkan protes bertubi-tubi, Archan menjawab enteng; menurutnya, para banci hanya “mempercepat azab”!

Moralitas Banci, Moralitas Archan

Dua pernyataan Archan tersebut memang diucapkan secara terpisah; satu ketika ia sedang berada di atas panggung Balairung UI, dan satu ketika acara telah selesai di twitter. Akan tetapi, keduanya berbagi dua hal yang sama: menyuarakan homophobia dan dilakukan di ruang publik. Hal yang membedakan keduanya adalah pada kesempatan pertama, homophobia ia kemas dalam argumen moralitas (krisis moral), sedangkan pada kesempatan kedua ia mengemasnya dengan argumen religius (azab). Bisakah kedua klaim Archan tersebut, baik moral dan religius, membenarkan homophobia yang ia unjuk rasakan?     Untuk bisa menilai argumen Archan, kita mesti pertama-tama memahami apa yang dimaksud oleh Archan sebagai ‘banci’. Apabila Archan menggunakan kata ‘banci’ sesuai dengan Kamus Besar Bahasa Indonesia, maka ada dua kemungkinan makna dari kata tersebut. Pertama, ‘banci’ merujuk pada kata sifat untuk orang yang tidak berjenis laki-laki dan juga tidak berjenis perempuan. Menurut saya, definisi ini agak rancu, karena bisa mengacu pada konsep ‘transeksual’ (orang yang mengubah alat kelamin atau penampilan fisiknya) dan ‘interseksual’ (orang yang mempunyai dua alat kelamin) sekaligus. Kedua, ‘banci’  juga berarti laki-laki yang bertingkah laku dan berpakaian seperti perempuan, yang mengingatkan kita dengan konsep ‘transgender’. Manakah yang Archan tuduh sebagai manusia yang tak bermoral dan mendatangkan azab? transeksual atau transgender?Ataukah dua-duanya?

Seseorang menjadi transeksual biasanya karena mengalami sebuah dilema di mana kondisi psikologisnya bertentangan dengan kondisi fisiknya; bertubuh laki-laki tetapi berjiwa perempuan (atau sebaliknya). Hingga saat ini, fenomena diferensiasi seksual macam ini masih jadi bahan perdebatan di antara para ilmuan, apakah ini merupakan sesuatu yang terjadi secara alamiah (by nature) atau secara pembiasaan (by nurture). Pendapat yang mengatakan bahwa diferensiasi ini terjadi secara alamiah berargumen bahwa orang tersebut mengalami kelainan pada susunan kromosom atau hormonalnya. Adapun pendapat yang mengatakan bahwa hal tersebut terjadi karena proses pembiasaan berargumen bahwa pengalaman orang tersebut dalam keluarga dan masyarakatlah yang jadi sebab. Kedua proses tersebut memang sangat berlainan, akan tetapi punya satu hal yang sama; bahwa individu tak memilihnya secara sadar (Strickland, 2001: 577). Golongan transgender pun mempunyai masalah yang sama dengan transeksual dalam hal ini. Hal yang membedakan antara keduanya adalah bahwa golongan transgender tidak sampai mengubah alat kelaminnya, akan tetapi secara perilaku, ia berperilaku sebagaimana lazimnya golongan lawan jenisnya.Adapun interseksual, hal ini adalah sebuah fenomena murni biologis.

Kita sama-sama tahu dan sama-sama paham, manusia lahir tak pernah bisa memilih susunan kromosom dan komposisi hormon dalam tubuhnya sendiri. Kita juga tahu, bahwa kita tak punya kemampuan untuk memilih dilahirkan dalam kondisi sosial seperti apa. Mereka, yang oleh Archan disebut secara sederhana sebagai ‘banci’, pun manusia seperti kita yang tak berdaya menerima nasib seperti kita. Hal yang tak bisa saya pahami, bagaimana bisa Archan menuduh orang-orang yang tersandera oleh nasib itu sebagai orang-orang yang tak bermoral? Bagaimanakah standar moral menurut Archan?

Saya tak tahu bagaimana konsepsi moral menurut Archan. Tapi saya tahu, dari beberapa kelas dan buku filsafat yang pernah saya ikuti, bahwa seseorang dikatakan dapat dikatakan bermoral apabila perbuatannya sejalan dengan norma-norma yang ada dalam masyarakat. Dengan kata lain, moral adalah acuan sosial untuk perbuatan apa yang baik dan apa yang buruk. Bagi Archan, dalam perkara ‘banci’ ini, sepertinya norma harus bisa dibagi menjadi dua kutub ekstrem; hitam-putih, laki-laki – perempuan. Berada di tengah-tengahnya, atau melintasi tanda strip untuk ke sisi yang lain, adalah sebuah tindakan yang tidak bermoral, karena tidak sesuai dengan norma. Tak peduli apapun alasannya; persetan dengan kromosom, hormon, atau kondisi kejiwaan, berbeda dengan norma berarti tidak bermoral. Titik.

Saya tak bisa memungkiri, pemahaman akan norma tersebut tidak hanya milik Archan. Secara faktual, norma semacam itu memang ada di dalam masyarakat kita. Buktinya suara homophobia masih jamak kita temui di mana-mana. Akan tetapi, berada di dalam masyarakat bukan berarti norma tersebut sudah ideal. Norma tersebut adalah hasil konstruksi masyarakat kita yang lampau dan tradisional, masyarakat yang belum mengetahui penjelasan ilmiah, baik itu secara biologis maupun sosiologis, akan perkara diferensiasi seksual tersebut. Bagi saya, norma yang ideal mestinya mengakomodasi kearifan ilmiah tersebut. Mengakomodasi keduanya meniscayakan sebuah bentuk penghargaan terhadap keadaan alamiah dan perbedaan karakter masing-masing individu. Norma yang ideal itu pun bukan sesuatu yang baru dan asing, tapi telah didambakan sejak lama oleh para founding father kita sendiri: bhineka tunggal ika. Bukankah esensi dari semboyan yang ditorehkan pada papan yang dicengkeram oleh kaki Garuda itu adalah penghargaan terhadap perbedaan?

Adapun klaim religius Archan bahwa ‘banci’ dapat mempercepat azab, terlepas dari kemungkinan benar atau salahnya, adalah suatu hal yang tak perlu disampaikan kepada publik. Ruang publik adalah tempat bagi perdebatan-perdebatan rasional, bukan tempat bertarung bagi klaim-klaim religius. Apa yang diyakini oleh Archan mengenai ajaran Islam belum tentu sama dengan apa yang diyakini oleh mereka yang dari agama lain. Bahkan, perbedaan pendapat pun bisa terjadi di antara sesama pemeluk agama Islam. Keyakinan seseorang terhadap sesuatu boleh saja absolut, tapi seberapapun absolutnya keyakinan tersebut, ia menjadi relatif ketika berhadapan dengan kenyataan yang plural. Siapakah kita, sehingga bisa merasa pantas untuk memaksakan kebenaran yang kita yakini kepada orang lain?

Tugas Moral UI: Hilangkan Kultur Diskriminatif

Kenyataan bahwa diskriminasi terhadap golongan banci ini masih hidup di tengah-tengah masyarakat, adalah sebuah tanggung jawab moral bagi setiap institusi pendidikan, untuk memberikan pendidikan yang mengajarkan emansipasi. Universitas Indonesia, sebagai institusi pendidikan tinggi tertua di Indonesia, rupanya telah berkomitmen untuk memikul tanggung jawab ini. Hal ini tersurat jelas dalam Ketetapan Majelis Wali Amanat Universitas Indonesia (TAP MWA UI) Nomor 008 Tahun 2004, khususnya pasal 8 i, bahwa “warga Universitas Indonesia dilarang melakukan diskriminasi terhadap orang lain atas dasar agama, etnisitas, gender, orientasi seksual, orientasi politik, dan cacat fisik.” Archan yang bukan warga UI mestinya menghormati pranata yang berlaku di lingkungan UI ini, bukan malah menginjak-injaknya dengan angkuh. Dengan adanya TAP MWA UI ini, sesungguhnya Archan tidak hanya menuduh banci sebagai manusia yang tak bermoral, tapi juga menuduh UI sebagai institusi yang melanggengkan amoralitas. Sebagai warga UI, saya sangat menyesalkan pernyataan Archan tersebut dan sangat menunggu ada klarifikasi dari yang bersangkutan.

Dengan rendah hati, saya ingin mengingatkan mereka yang bertanggung jawab terhadap penyelenggaraan OKK UI ini; panitia, Dewan Perwakilan Mahasiswa, hingga pejabat teras di rektorat, untuk tidak menganggap remeh insiden memalukan ini. Menganggap wajar wacana dan praktik diskriminasi di lingkungan UI selain membiarkan norma UI diinjak-injak, juga berarti membiarkan hal yang sama di dalam masyarakat terus berkembang biak. Krisis moral terjadi bukan ketika banyak banci di masyarakat, tapi ketika masyarakat melanggengkan praktik diskriminasi pada individu hanya karena mereka berbeda. Bagi saya, keabaian semacam ini tidak hanya menunjukkan bahwa kita tengah mengalami krisis moral,tapi lebih jauh: kita berada di ujung kebangkrutan moral.

Penulis: Rozinul Aqli, Mahasiswa FISIP UI – Program Studi Ilmu Politik 2009


Berita Terkait

19 KOMENTARS

  1. By manshurzikri, September 26, 2017

    SAYA SANGAT SETUJU DENGAN PENULIS!!!

    Balas
  2. By Info PTN Online, September 26, 2017

    bagaimanapun juga homo sexual tidak dapat dibenarkan. ada2 saja…

    Balas
  3. By Andre, September 26, 2017

    Gugatan yang bagus!

    Namun ‘insiden’ homophopic bukan satu-satunya, di hari selanjutnya pembawa acara yang saya tidak tahu siapa melontarkan pertanyaan sekaligus pernyataan yang kurang lebih begini “apa kalian mahasiswa UI mau jadi sekuler? yang tidak peduli pada agama, agnostic, atheis?!…”

    Kerancuan pemikiran yg bingung membedakan antara sekuler dengan agnostic dan atheis. Kegagalan FISIP & FIB untuk diseminasi istilah atau pembelokkan pemaknaan dengan tujuan tertentu?

    Anda bisa mencari tahu dengan bertanya pada teman2 FKM yang waktu itu sudah berada di panggung untuk bersiap-siap mengisi acara selanjutnya.

    Balas
  4. By Ridhaninggar, September 26, 2017

    Hmm… Archan salah ngomong tampaknya. Memang benar, ruang publik adalah tempat bagi perdebatan-perdebatan rasional, bukan tempat bertarung bagi klaim-klaim religius. Tapi hati2, juga, ya, terkadang (atas nama) pembelaan HAM dan penjunjungan bhineka tunggal ika dimanfaatkan segelintir orang untuk memaklumkan atau bahkan melegalkan hal semacam LGBTTI — yang sebenarnya bukan hanya Islam yang menolaknya, karena saya pernah melihat seorang transgender curhat pada pendeta di sebuah gereja dan pendeta tersebut memberi pemahaman secara perlahan-lahan kepada sang transgender bahwa Tuhan menciptakan dia sebagai laki-laki dan dia pasti bisa menjadi seorang laki-laki seutuhnya kalau dia mau dan ikhlas terhadap-Nya (dan sang transgender itu pun kini hidup sebagai laki-laki normal — intinya: pasti bisa!). Tak jarang pemberitaan berdalih penelitian ilmiah pun kerap kali me-leading bahwa LGBTTI adalah kelainan gen/kromosom yang menyengsarakan jika dipaksa untuk tidak menjadi LGBTTI.

    Kalau menurut saya, solusinya adalah bukan dengan memusuhi (melalui perlakuan diskriminasi) para LGBTTI tersebut, melainkan mendampinginya seperti pendeta tersebut, mendakwahinya dengan cara yang lembut dan penuh pengertian — karena keadaan kelainannya memang perlu diberi ekstra pengertian, hingga membantunya melalui dukungan lingkungan seperti layaknya fungsi social support dalam berbagai permasalahan kesehatan lainnya. Namun ini jangan sampai berubah menjadi memaklumkan apalagi melegalkan adanya LGBTTI seperti pelegalan pernikahan transgender, jenis kelamin selain laki-laki dan wanita, hingga kontes kecantikan transgender.

    Balas
  5. By BEN, September 26, 2017

    “LGBT rights are HUMAN right”

    Balas
  6. By Intan Kirana, September 26, 2017

    Saya nggak tau apa yang diomongin Archan di OKK kemarin, karena saya nggak ikut dan nggak liat, tapi kalau baca dari berita-berita yang beredar, menurut saya Archan ini cuma salah menyampaikan sesuatu yang diyakininya, tapi maksudnya baik kan? Jangan disalahin habis-habisan gitu dong, seolah si Archan ini penjahat apaan. Emang sih, kalau saya adalah seorang lesbian, saya bakal sakit ati banget, tapi emang ini resiko yang harus diterima kalau hidup di Indonesia:bahwa LGBT memang masih bertentangan sama nilai-nilai dalam masyarakat kita. Sebagian besar dari kalian juga masih sering denger atau malah melontarkan canda-candaan seperti “maho lu..”, atau”ah, banci banget lu jadi cowok..”,”grup band maho nih..”,ataupun candaan lain yang ngehina kaum LGBT kan? Walaupun candaan semacem itu nggak mereka/kita lontarkan di ruang publik seperti okk ui atau apapun itu, tetep aja candaan kayak gitu bakal jadi budaya yang bikin kaum LGBT makin terpinggirkan, bahkan efeknya lebih dalem daripada ceramah anti diskriminasi yang dilontarkan Archan. Jadi, kayaknya kurang bijak aja kalau 100% nyalahin Archan.

    Balas
  7. By Intan Kirana, September 26, 2017

    maksud saya tadi “ceramah yang diskriminatif yang dilontarkan Archan”, bukan ceramah anti-diskriminasi

    Balas
  8. By Perdana, September 26, 2017

    setuju dengan penulis.
    saya ada disana waktu Archan dengan berapi-api menyebarkan pandangan homofobianya. Dan saya kembali mengecek twitter yang bersangkutan.
    Menyedihkan rasanya, OKK adalah acara yang dibuat untuk membangkitkan sikap nasionalis pada jiwa mahasiswa baru. Tapi yang ia lakukan adalah membangkitkan rasa itu dengan benih kebencian.
    bagaimana bisa kita jadi warga negara yang tunduk pada aturan sendirinya kita saling membenci warga lain hanya karena disorientasi seksual.
    Kesalahan pemikiran yang kerap terjadi di negara ini adalah, hanya karena mayoritas penduduk kita beragama Islam, bukan berarti Indonesia adalah negara islam.
    Bahkan dasar negara kita, Pancasila, tidak mengacu ke suatu agama manapun untuk dijadikan bahan acuan hukum.

    Balas
  9. By Perdana, September 26, 2017

    lebih lanjut lagi, kita tidak bisa berkata “homoseksual” itu adalah kesalahan dari si penderita sendiri. Karena menurut jurnal ilmiah psikologi sains, telah ditemukan bukti fisik adanya gen gay, gen yang menuntun badannya untuk melakukan tindakan homoseksual.
    Dan kalau anda bilang itu tidak normal (homoseksual), apa dasar pertimbangan anda mengatakan itu tidak normal? Hanya karena mayoritas melakukannya bukan berarti itu benar. Itu hanyalah custom (kebiasaan) seperti dulu di abad ke 17-18 di Amerika Serikat perbudakan dan diskriminasi terhadap kulit hitam adalah wajar. Di Indonesia, di jaman RA Kartini, perempuan yang tidak bersekolah ternilai wajar, dan memang baiknya dilakukan.
    Kenormalan seseorang adalah sebuah hal yang relatif.
    Dan Archan tidak berhak mengatakan pernyataan rasis dan membawa nama agama ke dalam diskusi publik yang belum tentu seagama (seperti dituturkan penulis) dan seideologi.
    Sekali lagi salut untuk penulis

    Balas
  10. By robertus robert, September 26, 2017

    Kalian mahasiswa jangan ikut-ikutan mengajukan argumen-argumen ngelantur. Kalau dari fase ini saja kalian sudah memberi peluang pada kaum pendubur, pendosa-pendosa kaum Luth, pada tahap berikutnya kalian akan mulai terbiasa, dan lama kelamaan kalian akan menerima mereka. Jika kalian telah menerima mereka mudah-mudahan kalian akan menjadi satu orang di antaranya. Saya mendoakan azab Tuhan Allah dijatuhkan kepada pendosa kaum Luth dan pendukung-pendukungnya. Amin

    Balas
  11. By boby, September 26, 2017

    bagi anda yang tahu nama Auguste Comte mungkin tidak akan terkejut bila sejarah mengungkapkan bahwa beliau adalah seorang gay asli yang mana dia mengakuinya,sehingga memang dia sangat mendorong agar ilmu sosiologi hanya mengamati dan menjelaskan tentang berbagai fenomena sosial dan tidak berusaha mengubahnya atau mengintervensinya…anda mungkin juga sudah familiar dengan istilah “nilai2 universal yang berlaku”,,yaa istilah ini memang rajin dikutip para ”INTELEKTUAL” dala, pembicaraanya..kedua hal di atas bermuara sebenarnya dalam rangka proses “pembinatangan” manusia dari sisi kemanusiaannya.Dalam ilmu statistik ada dikenal istilah ”FALSE NEGATIVE DAN FALSE POSITIVE” dan dalam istilah komunikasi dikenal bahwa apabila suatu hel yang tidak benar trus menerus disiarkan maka sekalipun pada awalnya ditolak maka selanjutnya akan dapat diterima akibat adanya penyiaran terus menerus tersebut….Menyadari dirinya adalah suatu bentuk ”ANOMALI SOSIOMEDIS DAN ANTROPOLOGIS”kaum homoseksual ini berusaha ”fight back” dengan cara memanfaatkan 2 hal di atas,dan celakanya para kaum ”cendekia” telah termakan dengan strategi mereka,sehingga akan merasa ”MINDER” lah para ”in-telek-tual” ini manakala mereka terkena imbas dikatakan tidak mengikuti nilai2 yang berlaku universal tadi….yaaa nilai yang sebenarnya tak pernah eksis sampai kapanpun sebab suatu nilai haruslah memiliki ”measurable standardized” yang jelas…..hehehe kadang terasa benarnya kata2 orang tua lama “ooohhhh anak,makin tinggi kau sekolah ,malah makin tolol kau,lebih bijak lagi lembu di ladang tu dalam memilih mana lalang mana yang akar”

    Balas
  12. By Sarah Annisa, September 26, 3442

    Saya setuju dengan penulis. LGBT adalah sama seperti kita, mereka tetap manusia. Adakah yang salah jika mereka termasuk ke dalam orang yang berorientasi seksual yang berbeda dari kita ? Bukankah salah dan benar itu harusnya kembali kepada Tuhan ? Kita sebagai manusia tidak bisa seenaknya bertindak menghakimi mereka hanya karena mereka berbeda dari kita ? Bukankah perbedaan itu merupakan sebuah sunatullah? Sudah dari sananya, tidak bisa ditawar-tawar lagi ? Yang menjadi tidak benar adalah ketika orientasi seksual mereka merugikan masyarakat seperti kasus pemerkosaan, sodomi, menunjukkan perilaku mereka secara terbuka, dsb. Siapa tahu kondisi mereka dengan orientasi seksual seperti itu adalah cobaan, salah satu cara Tuhan mengangkat derajat mereka. Percayalah, tidak ada seorang manusia pun yang mau lahir dengan orientasi seksual yang menyimpang. Jika semua kaum LGBT harus dimusnahkan, berapa banyak pelanggaran HAM yang telah kita lakukan ? Berpikirlah secara terbuka, apa yang baik bagi kita belum tentu sebenarnya baik atau baik di mata Tuhan, begitu pun sebaliknya. Bukankah baik orang dengan orientasi seksual yang menyimpang maupun orang dengan orientasi seksual yang normal tetap memiliki kewajiban yang sama untuk menjaga moral ? Jika kita bisa membimbing kaum LGBT kembali pada kondisi sewajarnya seperti manusia lainnya, syukur. Jika tidak, yang kita lakukan adalah memastikan sebagai sesama manusia kita bisa hidup saling bertenggang rasa. Bukan berarti ini menyuburkan terjadinya LGBT. Tidak, sekali lagi kita harus berpikir terbuka. Orang dengan orientasi seksual menyimpang bukan berarti ia tidak bermoral. Agaknya inilah yang banyak menjebak pemikiran orang Indonesia bahwa seseorang dikatakan bermoral itu hanya milik orang yang menyukai lawan jenis, tidak makan babi dan anjing, dan tidak berzina. Padahal, definisi bermoral jauh lebih luas dari itu.

    Balas
  13. By mursyad, September 26, 3446

    manusia hanya ada 2, yaitu LAKI-LAKI dan PEREMPUAN…

    tipe kromosom hanya ada 2, yaitu XX dan XY

    hubungan yg bener itu HANYA SATU, laki-laki & perempuan

    Balas
    • By Swestikaputri, September 26, 3735

      Fyi kromosom seks manusia tidak hanya XX dan XY, tetapi ada XXX, XO, XYY, dan mungkin msh ada lagi lainya. Saya tidak asal berbicara, studi saya yang membawa saya mempelajari hal ini.

      Benar atau salah itu ada di pemikiran manusia, kita tidak bisa memutuskan sesuatu hal itu salah/benar apabila hanya memandang dari salah sudut.

      Balas
  14. By Muhammad Jati, September 26, 3448

    Kita diberi akal oleh Allah untuk berpikir karena itulah ada yang namanya produk ilmiah. Saya setuju bahwa kita memiliki HAM dan saya pun tidak akan menampik hal tersebut, Islam pun mengajarkan bahwa kita memiliki HAM.
    Namun perlu digaris bawahi juga bahwa kita memiliki aturan-aturan yang mengikat dalam Al-Qur’an.
    Saya kira Archan tidak salah, beliau hanya menyebarkan dan mendakwahkan apa yang dia ketahui, karena itu juga merupakan kewajiban seorang muslim, “Sampaikan walau hanya satu ayat,” hanya saja memang mungkin kondisi yang ada sudah sedemikian tercemar sampai-sampai segala kebaikan yang didakwahkan dianggap sebagai suatu intimidasi terhadap dirinya atau golongan tertentu.

    Tanpa bermaksud sok pintar atau kurang ajar, saya ingin bertanya kepada penulis, saudara Rozinul Aqli, agama saudara apa?
    Jika Islam mohon cermati lagi Al-Qur’an, disana ada ayat-ayat yang menerangkan bahwa kaum Sodom, kaum Nabi Luth yang-homoseksual, di-azab.
    Saya kira apa yang diungkapkan Archan juga demi kepentingan bangsa dan kepentingan nasional toh? (re: mempercepat azab)
    Jika anda non-muslim, apa agama anda melegalkan homoseksualisme? Apa dasarnya?

    Mengenai banci, definisi yang berkembang dalam persepsi masyarakat adalah laki-laki yang berkelakuan, berpakaian, bergaya, atau yang sejenis dan setingkat dengan hal tersebut, layaknya wanita. Dalam Al-Qur’an juga jelas dan tegas dilarang hal ini. Jadi menurut saya sah saja semua yang diungkapkan Archan.

    Mengenai pembenenaran atas dasar Nilai Pluralisme, Universalisme, HAM, Moral, Ilmiah dan sebagainya, tentu anda-anda lebih pintarlah ketimbang saya yang masih SMA ini. Tapi perlu saya tegaskan, jika Anda beragama Islam, coba pahami lagi isi kitab suci anda, terutama mengenai kaum homoseksual dan banci.

    Kurang lebihnya mohon maaf. Ini hanya sekedar pandangan saya. Terimakasih.

    Balas
  15. By Arifin -FT, September 26, 3482

    Saya setuju dengan Archan,

    Kalau Anda tidak setuju ya tidak apa-apa, Anda tidak perlu memaksakan kami untuk menghargai kaum kaum homo

    Balas
  16. By mawar, September 26, 3490

    Menurut Saya Artikel ini ingin mencoba untuk membuka pandangan anda-anda yang menghujat/menghakimi orang-orang yang Hak nya untuk menyukai/ mencintai seseorang direbut.

    Saya masih abu-abu perkara hal ini.

    Saya seorang muslim..Tapi Saya berpendapat memangnya apa salahnya orang-orang homoseksual itu pada kita?

    Memang dia mengganggu kenyamanan kita seperti para penjambret, pemerkosa, KORUPTOR?

    Pernah ga kita bertanya?Bagaimana kalau itu terjadi pada kita?

    Bagaimana kalau anda dilarang untuk menyukai pacar anda yang sekarang? Pernah ga bertanya kenapa saya suka sama satu orang tetapi tidak pada orang yang lain? Bukankah sama kasusnya dengan orang homoseksual?

    Apakah anda punya teman yang homoseksual?

    Saya Punya..Dan perilakunya tidak beda dengan kita-kita yang mengaku orientasi seksual normal? Untuk masalah Ibadah, kita-kita yang ,merasa “normal” pun terkadang lalai?

    Lalu masalah Moral itu ada dimana?

    Apakah ada yang tahu sejarah lengkapnya mengapa kaum nabi luth di azab? Apakah kita tidak boleh mempertanyakan mengapa hal-hal tertentu diharuskan atau tidak diperbolehkan dalam ajaran agama? Karena Allah memberikan kita akal untuk berfikir saya pikir kita boleh mempertanyakan hal-hal tersebut.

    Menurut saya anya menjawab itu dilarang oleh Agama bukan lah solusi. Dan bukan alasan yang benar untuk menghujat seseorang. Apakah anda sudah sepenuhnya memnuhi perintah Agama? Kalau belum, jangan bawa-bawa agama untuk dijadikan tameng.

    Sama seperti pacaran yang juga tidak diperbolehkan dalam Islam, mengapa Anda-Anda atau Archan tidak mempersoalkannya? Mungkin karena Anda juga mempraktekannya?

    Pendapat Saya, tidak bijak untuk berperilaku diskriminasi dan merendahkan martabat orang lain dalam memotivasi seseorang untuk menjadi lebih bhaik. Masih banyak bahan yang harusnya lebih ditekankan seperti jiwa sportifitas, KORUPSI, KECURANGAN, dan segala hal yang sehari-hari sering kita lakukan yang jelas-jelas berdampak langsung pada pembangunan negeri
    daripada wacana yang akhirnya merendahkan orang.

    Balas
  17. By Fitri, September 26, 3813

    mm..gimana ya?
    walaupun LGBT itu bisa diterima secara rasional terutama karena seseorang tidak bisa mengendalikan rasa suka dengan orang lain, dan kenyataan kromosom yang memiliki ‘perbedaan’ seperti diungkapkan tanggapan diatas oleh swestikaputri
    tetapi kenyataan bahwa di Indonesia hal tersebut masih tabu dan bagian dari degradasi moral, mau tidak mau menjadi sebuah kontroversi dan penghalang bagi penyuka sesama jenis menerima kenyataan diskriminasi..
    masalahnya adalah ‘mereka’ yang penyuka sesama jenis itu dianggap sebuah masalah juga oleh masyarakat..kan LGBT ga dihalalkan di Indonesia, tidak seperti di beberapa negara..
    mungkin yang ingin disampaikan Archan, jangan sampai menjadi seperti itu, karena bisa dianggap sebuah masalah oleh masyarakat dan berhubungan dengan nasionalismenya kita diarahkan untuk tetap membawa konsep moralitas yang selama ini berlaku di Indonesia, mempertahankan yang baik..

    Balas
  18. By Fitri, September 26, 3814

    ralat maksudnya menjadi penghalang bagi penyuka sesama jenis, dan kenyataan menerima perlakuan diskriminatif..

    tetapi kalau kita cuma menyikapi ga ada habisnya, lebih baik sekalian cari solusinya, bagaimana supaya perlahan membawa orang tersebut ke jalan yang memang telah ada seharusnya..
    supaya tidak menjadi bagian suatu hal yang dianggap sebagai masalah bagi masyarakat

    Balas

Tinggalkan Balasan

Alamat surel Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *