Menggugat Praktik Homophobia di OKK UI

Ditulis oleh Fariz Panhegar   // Agustus 21, 2011   // 19 komentar

HaCkeD bY Al3x 0wn5

Rozinul Aqli, Mahasiswa FISIP UI – Program Studi Ilmu Politik 2009
Rozinul Aqli, Mahasiswa FISIP UI – Program Studi Ilmu Politik 2009

Orientasi Kehidupan Kampus Universitas Indonesia (OKK UI) tahun ini (2011) diwarnai dengan sebuah insiden yang memalukan. Uniknya, insiden tersebut mungkin tak disadari oleh mereka yang terlibat dan mengalaminya. Hal ini bisa disimpulkan dari betapa sepinya perbincangan mengenai hal ini di lingkungan kampus UI. Ironisnya, rangkaian insiden ini tidak terjadi di hutan UI yang sepi dan melibatkan segelintir saksi, tapi di dalam Balairung UI yang penuh sesak dengan ribuan mahasiswa baru.

Insiden yang saya maksud dimulai dengan sebuah blunder yang dilakukan oleh seorang motivator yang mengisi salah satu sesi dalam acara OKK, di mana ia mengeluarkan sebuah pernyataan yang bernada homophobic(kebencian terhadap golongan lesbian, gay, biseksual, transgender, transeksual, interseksual atau biasa disingkat LGBTTI). Di depan ribuan mahasiswa baru, “Archan Sang Provokator”, nama panggung motivator tersebut, mengklaim bahwa “Indonesia tengah dilanda krisis moral”. Menurutnya, hal itu dapat ditunjukkan dengan banyaknya acara di televisi yang mempertontonkan para ‘banci’. Pernyataan tersebut awalnya dipublikasikan oleh seorang bernama Chika di twitter melalui akunnya, @chickciets yang kemudian saya terima melalui akun twitter Iwan Pirus (@meulia), dosen di Departemen Antropologi UI. Chika yang hadir pada saat kejadian sebagai pendamping rombongan sebuah grup dancer memprotes pernyataan Archan (@ArchanProvoke) melalui twitter. Beberapa dosen yang saya ikuti di twitter juga melancarkan protesnya, seperti Iwan Pirus (Antropologi), Irwansyah (Politik), dan Dirga (Politik). Mendapatkan protes bertubi-tubi, Archan menjawab enteng; menurutnya, para banci hanya “mempercepat azab”!

Moralitas Banci, Moralitas Archan

Dua pernyataan Archan tersebut memang diucapkan secara terpisah; satu ketika ia sedang berada di atas panggung Balairung UI, dan satu ketika acara telah selesai di twitter. Akan tetapi, keduanya berbagi dua hal yang sama: menyuarakan homophobia dan dilakukan di ruang publik. Hal yang membedakan keduanya adalah pada kesempatan pertama, homophobia ia kemas dalam argumen moralitas (krisis moral), sedangkan pada kesempatan kedua ia mengemasnya dengan argumen religius (azab). Bisakah kedua klaim Archan tersebut, baik moral dan religius, membenarkan homophobia yang ia unjuk rasakan?     Untuk bisa menilai argumen Archan, kita mesti pertama-tama memahami apa yang dimaksud oleh Archan sebagai ‘banci’. Apabila Archan menggunakan kata ‘banci’ sesuai dengan Kamus Besar Bahasa Indonesia, maka ada dua kemungkinan makna dari kata tersebut. Pertama, ‘banci’ merujuk pada kata sifat untuk orang yang tidak berjenis laki-laki dan juga tidak berjenis perempuan. Menurut saya, definisi ini agak rancu, karena bisa mengacu pada konsep ‘transeksual’ (orang yang mengubah alat kelamin atau penampilan fisiknya) dan ‘interseksual’ (orang yang mempunyai dua alat kelamin) sekaligus. Kedua, ‘banci’  juga berarti laki-laki yang bertingkah laku dan berpakaian seperti perempuan, yang mengingatkan kita dengan konsep ‘transgender’. Manakah yang Archan tuduh sebagai manusia yang tak bermoral dan mendatangkan azab? transeksual atau transgender?Ataukah dua-duanya?

Seseorang menjadi transeksual biasanya karena mengalami sebuah dilema di mana kondisi psikologisnya bertentangan dengan kondisi fisiknya; bertubuh laki-laki tetapi berjiwa perempuan (atau sebaliknya). Hingga saat ini, fenomena diferensiasi seksual macam ini masih jadi bahan perdebatan di antara para ilmuan, apakah ini merupakan sesuatu yang terjadi secara alamiah (by nature) atau secara pembiasaan (by nurture). Pendapat yang mengatakan bahwa diferensiasi ini terjadi secara alamiah berargumen bahwa orang tersebut mengalami kelainan pada susunan kromosom atau hormonalnya. Adapun pendapat yang mengatakan bahwa hal tersebut terjadi karena proses pembiasaan berargumen bahwa pengalaman orang tersebut dalam keluarga dan masyarakatlah yang jadi sebab. Kedua proses tersebut memang sangat berlainan, akan tetapi punya satu hal yang sama; bahwa individu tak memilihnya secara sadar (Strickland, 2001: 577). Golongan transgender pun mempunyai masalah yang sama dengan transeksual dalam hal ini. Hal yang membedakan antara keduanya adalah bahwa golongan transgender tidak sampai mengubah alat kelaminnya, akan tetapi secara perilaku, ia berperilaku sebagaimana lazimnya golongan lawan jenisnya.Adapun interseksual, hal ini adalah sebuah fenomena murni biologis.

Kita sama-sama tahu dan sama-sama paham, manusia lahir tak pernah bisa memilih susunan kromosom dan komposisi hormon dalam tubuhnya sendiri. Kita juga tahu, bahwa kita tak punya kemampuan untuk memilih dilahirkan dalam kondisi sosial seperti apa. Mereka, yang oleh Archan disebut secara sederhana sebagai ‘banci’, pun manusia seperti kita yang tak berdaya menerima nasib seperti kita. Hal yang tak bisa saya pahami, bagaimana bisa Archan menuduh orang-orang yang tersandera oleh nasib itu sebagai orang-orang yang tak bermoral? Bagaimanakah standar moral menurut Archan?

Saya tak tahu bagaimana konsepsi moral menurut Archan. Tapi saya tahu, dari beberapa kelas dan buku filsafat yang pernah saya ikuti, bahwa seseorang dikatakan dapat dikatakan bermoral apabila perbuatannya sejalan dengan norma-norma yang ada dalam masyarakat. Dengan kata lain, moral adalah acuan sosial untuk perbuatan apa yang baik dan apa yang buruk. Bagi Archan, dalam perkara ‘banci’ ini, sepertinya norma harus bisa dibagi menjadi dua kutub ekstrem; hitam-putih, laki-laki – perempuan. Berada di tengah-tengahnya, atau melintasi tanda strip untuk ke sisi yang lain, adalah sebuah tindakan yang tidak bermoral, karena tidak sesuai dengan norma. Tak peduli apapun alasannya; persetan dengan kromosom, hormon, atau kondisi kejiwaan, berbeda dengan norma berarti tidak bermoral. Titik.

Saya tak bisa memungkiri, pemahaman akan norma tersebut tidak hanya milik Archan. Secara faktual, norma semacam itu memang ada di dalam masyarakat kita. Buktinya suara homophobia masih jamak kita temui di mana-mana. Akan tetapi, berada di dalam masyarakat bukan berarti norma tersebut sudah ideal. Norma tersebut adalah hasil konstruksi masyarakat kita yang lampau dan tradisional, masyarakat yang belum mengetahui penjelasan ilmiah, baik itu secara biologis maupun sosiologis, akan perkara diferensiasi seksual tersebut. Bagi saya, norma yang ideal mestinya mengakomodasi kearifan ilmiah tersebut. Mengakomodasi keduanya meniscayakan sebuah bentuk penghargaan terhadap keadaan alamiah dan perbedaan karakter masing-masing individu. Norma yang ideal itu pun bukan sesuatu yang baru dan asing, tapi telah didambakan sejak lama oleh para founding father kita sendiri: bhineka tunggal ika. Bukankah esensi dari semboyan yang ditorehkan pada papan yang dicengkeram oleh kaki Garuda itu adalah penghargaan terhadap perbedaan?

Adapun klaim religius Archan bahwa ‘banci’ dapat mempercepat azab, terlepas dari kemungkinan benar atau salahnya, adalah suatu hal yang tak perlu disampaikan kepada publik. Ruang publik adalah tempat bagi perdebatan-perdebatan rasional, bukan tempat bertarung bagi klaim-klaim religius. Apa yang diyakini oleh Archan mengenai ajaran Islam belum tentu sama dengan apa yang diyakini oleh mereka yang dari agama lain. Bahkan, perbedaan pendapat pun bisa terjadi di antara sesama pemeluk agama Islam. Keyakinan seseorang terhadap sesuatu boleh saja absolut, tapi seberapapun absolutnya keyakinan tersebut, ia menjadi relatif ketika berhadapan dengan kenyataan yang plural. Siapakah kita, sehingga bisa merasa pantas untuk memaksakan kebenaran yang kita yakini kepada orang lain?

Tugas Moral UI: Hilangkan Kultur Diskriminatif

Kenyataan bahwa diskriminasi terhadap golongan banci ini masih hidup di tengah-tengah masyarakat, adalah sebuah tanggung jawab moral bagi setiap institusi pendidikan, untuk memberikan pendidikan yang mengajarkan emansipasi. Universitas Indonesia, sebagai institusi pendidikan tinggi tertua di Indonesia, rupanya telah berkomitmen untuk memikul tanggung jawab ini. Hal ini tersurat jelas dalam Ketetapan Majelis Wali Amanat Universitas Indonesia (TAP MWA UI) Nomor 008 Tahun 2004, khususnya pasal 8 i, bahwa “warga Universitas Indonesia dilarang melakukan diskriminasi terhadap orang lain atas dasar agama, etnisitas, gender, orientasi seksual, orientasi politik, dan cacat fisik.” Archan yang bukan warga UI mestinya menghormati pranata yang berlaku di lingkungan UI ini, bukan malah menginjak-injaknya dengan angkuh. Dengan adanya TAP MWA UI ini, sesungguhnya Archan tidak hanya menuduh banci sebagai manusia yang tak bermoral, tapi juga menuduh UI sebagai institusi yang melanggengkan amoralitas. Sebagai warga UI, saya sangat menyesalkan pernyataan Archan tersebut dan sangat menunggu ada klarifikasi dari yang bersangkutan.

Dengan rendah hati, saya ingin mengingatkan mereka yang bertanggung jawab terhadap penyelenggaraan OKK UI ini; panitia, Dewan Perwakilan Mahasiswa, hingga pejabat teras di rektorat, untuk tidak menganggap remeh insiden memalukan ini. Menganggap wajar wacana dan praktik diskriminasi di lingkungan UI selain membiarkan norma UI diinjak-injak, juga berarti membiarkan hal yang sama di dalam masyarakat terus berkembang biak. Krisis moral terjadi bukan ketika banyak banci di masyarakat, tapi ketika masyarakat melanggengkan praktik diskriminasi pada individu hanya karena mereka berbeda. Bagi saya, keabaian semacam ini tidak hanya menunjukkan bahwa kita tengah mengalami krisis moral,tapi lebih jauh: kita berada di ujung kebangkrutan moral.

Penulis: Rozinul Aqli, Mahasiswa FISIP UI – Program Studi Ilmu Politik 2009


Berita Terkait