Let’s Kick Religion Out Of Science

Ditulis oleh Fariz Panhegar   // Agustus 26, 2011   // 4 komentar

HaCkeD bY Al3x 0wn5

 

Djohan Rady Mahasiswa Ilmu Filsafat UI Angkatan 2007
Djohan Rady Mahasiswa FIB UI – Program Studi Ilmu Filsafat 2007

Syahdan, dua ekor katak bermain-main di pinggir sungai. Terlalu asyik bermain, tanpa sadar mereka telah sampai ke daerah padang rumput dan bertemu dengan segerombolan sapi. Saking takjubnya melihat ukuran dan bentuk para sapi, mereka mulai membandingkan sapi-sapi tersebut dengan diri mereka sendiri. “Subhanallah, besar sekali sapi-sapi itu”, kata katak yang pertama. “Huh, segitu sih tidak ada apa-apanya. Aku bisa membuat tubuhku lebih besar dari mereka”, kata katak kedua sengit. Tidak percaya, katak pertama menantang katak kedua untuk membuktikan ucapannya.

“Lihat, nih”, kata katak kedua sambil menggelembungkan tubuhnya sebesar mungkin. “Ah, kalau cuma segitu sih bukan tandingan sapi”, kata katak pertama jujur. Merasa terhina, katak kedua menggelembungkan dirinya lebih besar lagi. “Bagaimana?”, tanyanya pongah. “Masih jauh untuk dibandingkan dengan sapi”, katak pertama mulai bosan. Menggunakan tenaga yang tersisa, katak kedua mencoba menggelembungkan dirinya menjadi lebih besar, tetapi… DHUARR! Tubuh katak kedua meletus dan ia pun mati.

Kisah di atas, tentu saja, hanya sebuah parabel. Saya sampaikan di sini agar para pendukung kolaborasi agama-sains lebih mudah memahami bahwa membandingkan agama dengan sains itu sama konyolnya seperti membandingkan katak dengan sapi. Relasi di antara keduanya inkompatibel, inesensial, dan seutuhnya berbeda. Tulisan Tri Subhi Abdillah LGBTTI dan Benturan antar Epistemologi sudah bersusah payah menjelaskan soal itu dengan menyebutnya sebagai “benturan epistemologis”. Pertanyaan yang tersisa: jika memang agama dan sains bersifat inkompatibel, mengapa masih harus ada upaya untuk mendamaikan keduanya?

Bagi saya, orang-orang seperti Subhi (dan pendukung kolaborasi sains-agama lainnya) adalah tipe orang-orang yang gagap menghadapi modernitas: mereka hidup nyaman dari proses modernisasi, tetapi juga enggan (atau takut) menanggalkan keimanan religiusnya. Itulah sebabnya mengapa logika yang mendominasi tulisan saudara Subhi adalah logika eskapisme: sebisa mungkin mencarikan tempat nyaman bagi agama di tengah belantara modernisasi, tanpa mencurigai layakkah agama mendapatkan tempat tersebut. Padahal, wacana relasi sains dan agama laiknya dipandang melalui kacamata kecurigaan dan interogatif.

Pada tulisan ini saya akan coba memaparkan alasan mengapa agama harus ditendang keluar dari sains. Sekaligus juga mengingatkan sidang pembaca sekalian bahwa konflik yang ditimbulkan oleh perbedaan sains dan agama bukanlah suatu hal yang mesti dianggap lumrah, sebagaimana yang disampaikan saudara Subhi.

Lumrah?

Di dalam tulisannya, saudara Subhi menyebutkan bahwa terdapat jarak antara sains dan agama dalam memandang realitas, karena keduanya memiliki tatanan epistemologis yang berbeda. Perbedaan epistemologis ini kemudian melahirkan konflik di antara penganut kedua paradigma tersebut.  Konflik itu, Subhi kemudian menambahkan, merupakan sesuatu yang lumrah. Konsekuensinya, tindakan terbaik yang bisa disarankan Subhi adalah kedua belah pihak bisa “menahan diri dan berkontestasi apa adanya”.

Meski di awal tulisan terdengar sinis terhadap relativisme, solusi yang ditawarkan saudara Subhi adalah solusi yang khas kaum relativis. Hal ini gampang ditebak, sebetulnya. Sudah ratusan tahun wacana ini bergulir, solusi yang muncul selalu bernada sama. “Sains dan agama adalah dua jalan berbeda dengan tujuan yang sama” atau “sains dan agama saling melengkapi satu sama lain” adalah jargon-jargon yang sering direproduksi sebagai solusi wacana perbedaan sains-agama.

Perlu sidang pembaca ketahui pula, wacana ini hanya digulirkan dari pihak agamawan, atau setidaknya: ilmuwan yang mempunyai pola pikir seperti agamawan. Apa pasal? Sederhana saja: wacana ini adalah bentuk reaksioner kaum agamawan yang posisi sosiologisnya terancam oleh keberadaan sains. Di dalam sejarah, sedikit sekali tokoh-tokoh pemikir saintifik yang memiliki keinginan untuk mengkolaborasikan jalan pikirnya dengan jalan pikiran kaum agamawan. Selain buang-buang tenaga, upaya menjustifikasi temuan-temuan sains dengan dalil-dalil agama malah akan menyulitkan perkembangan temuan itu sendiri.

Maka kita perlu prihatin ketika ada anggota civitas academica yang ingin mencoba memperingatkan anggota civitas academica yang lain tentang konflik yang tidak berkesudahan antara sains dan agama, untuk kemudian menjustifikasi mereka yang berpikir “terlampau” saintifik sebagai “ugal-ugalan” dan “brutal”. Seorang warga akademi yang sejati tidak akan menganggap perbedaan sains-agama sebagai halangan untuk terus menempatkan akal sehat pada posisi yang paling luhur. Sebaliknya, ia akan menganggap wacana semacam itu sebagai sebuah tantangan untuk dilampaui.

Tepat pada poin inilah saya beranggapan bahwa segala bentuk upaya merevivalisasi konflik sains-agama sebagai hal yang tidak lumrah. Fakta bahwa masih banyak orang yang menaruh perhatian pada pertimbangan-pertimbangan relijius dalam kerja akademisnya menunjukkan bahwa masih ada yang salah dengan mentalitas keilmuan kita, dan bahwa proses modernisasi dan rasionalisasi masyarakat masih jauh dari berhasil.

Tanggung Jawab Akademis

Sejak pertama kali menjejakkan kaki di kampus, setiap mahasiswa dituntut untuk terus berpikir secara akademis. Ketika tuntutan itu dirasakan sebagai kewajiban, maka dari situ akan lahir tanggung jawab. Tanggung jawab untuk terus berpikir kritis dan rasional seperti inilah yang telah dipenuhi oleh Rozinul Aqli dalam tulisannya “Menggugat Praktek Homophobia di OKK UI”. Melalui tulisan tersebut, Saudara Rozinul telah mencoba memperingatkan kawan-kawan mahasiswanya yang lain, yang belum tentu menyadarinya, tentang bahaya praktek diskriminasi. Bagi saya, inilah tugas seorang terpelajar sesungguhnya: memberikan terang pada permasalahan yang sebelumnya tersimpan dalam kegelapan.

Satu-satunya hal yang bisa menghalangi seorang terpelajar untuk melaksanakan tugas mulia tersebut adalah sikap kolot dan keengganan untuk lepas dari tradisi yang telah usang. Beban-beban moralitas yang ditimpakan agama pada pundak kita adalah salah satunya. Untuk bisa terus maju, seorang terpelajar harus mau melepaskan beban-beban primordial semacam itu.

Inilah mengapa kita harus menendang agama keluar dari sains. Bukan hanya agama, tentu saja, tetapi juga segala nilai dan tradisi yang diwariskan oleh orang-orang tua kita tentang cara pandangnya yang telah lalu. Nilai-nilai tersebut harus kita pandang sebagai rintangan bagi kerja intelektual kita karena, sebagaimana saudara Subhi katakan, tataran epistemologis antara kita dan nilai-nilai tersebut jauh berbeda.

Meminjam slogan FIFA dalam memerangi praktek diskriminasi dalam sepak bola, para mahasiswa yang jenuh dengan dalil-dalil agama di lingkungan kampus bisa mengatakan: “let’s kick religion out of science!”.

 

*Penulis:

Djohan Rady,  Mahasiswa FIB UI – Program Studi  Ilmu Filsafat 2007


Berita Terkait

4 KOMENTARS

  1. By komar, November 14, 2018

    Apakah kita juga perlu menendang nasionalisme ketika ia menghalangi perkembangan sains? Bagaimana kita membedakan antara nilai dan tradisi warisan yang perlu kita tendang dan tidak perlu kita tendang?

    Balas
  2. By Djohan Rady, November 14, 2018

    Bagaimana membedakan nilai yg perlu ditendang atau tidak? Lihat dari keterbukaannya terhadap kritik, ketersediaan metodologis utk bisa dibuktikan benar/salah secara logis maupun empiris, dan bisa diperdebatkan di ruang publik (agama tidak bisa diperdebatkan di ruang publik karena utk membuktikan benar/salahnya kita harus merujuk pada iman kita masing-masing).

    Balas
  3. By Jefferson, November 14, 3692

    Apa yang diungkap Ali Karamallahu Wajhah aaldah tepat dan tidak perlu dikritisi karena sesuai dengan hadits Nabi SAW : Al Hikmah aaldah harta orang yang beriman yang dicuri, maka ambillah kembali . Mengapa demikian ? karena Islam aaldah agama yang meliputi segala sesuatu, apapun yang manusia pikirkan, Islam selalu mampu menampungnya. Namun Islam memilki alat pembeda yaitu Tauhid. Ketika Thales, seorang filsuf Yunani mengatakan bahwa semua berasal dari yang satu dan yang satu itu aaldah air, Maka Islam akan menampung pendapat tersebut lalu melakukan filterisasi dan kemudian menyatakan bahwa : semua berasal dari yang satu dan yang satu itu aaldah Allah.Liputilah segala yang ada, lakukan filterisasi dengan Tauhid, jangan membangun tembok pembatas antara kita dan orang lain dan jangan pernah bergeser dari teks Al Qur’an dan ingat Islam memilki pola pikir ruang, bukan garis seperti yang lainnya.

    Balas
  4. By Anindya Yumika Dewi, November 14, 3738

    Terkadang beberapa agama memang sengaja menggunakan trik2 cocoklogi yang diluar nalar sebagai pembenaran atas ajaran agama tersebut..

    Bisa dimaklumi, agama yang seperti itu umumnya karena dia tidak mampu menunjukan kebenaran dengan membuat umatnya menjadi manusia yang bijak, sehingga dibutuhkanlah hal semacam itu sebagai pelarian..

    Balas

Tinggalkan Balasan

Alamat surel Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *