Konferensi Mahasiswa Indonesia

Ditulis oleh Fariz Panhegar   // Oktober 29, 2011   // 1 komentar

HaCkeD bY Al3x 0wn5

 

Pada 21-24 Oktober lalu, Pusgerak BEM UI bekerja sama dengan Mahkamah Konstitusi mengadakan Konferensi Mahasiswa Indonesia di hotel Arya Duta, Jakarta. Maman Abdurrakhman, Ketua BEM UI 2010 mengatakan bahwa sudah saatnya mahasiswa Indonesia merevitalisasi gerakan supaya lebih efektif, selin itu peranan advokasi dan pelayanan basis harus diseimbangkan.

Ganjar Prima Anggara, perwakilan dari BEM Universitas Brawijaya mengatakan,“Menurut saya, acara ini merupakan salah satu awal mula bagi mahasiswa indonesia untuk menjadikan gerakan sebagai garda terdepan bagi perjuangan untuk memerdekakan indonesia secara utuh”. “Terlebih ketika kita melihat keadaan saat ini, mahasiswa terpecah menjadi berbagai aliansi massa sehingga butuh sekali pertemuan-pertemuan seperti ini sehingga kita bisa memperhatikan teman-teman disekitar kita” tambahnya.

Acara yang berlangsung selama empat hari ini dibuka oleh Sekretaris Jenderal Mahkamah Konstitusi (MK), Janedjri M. Gaffar. Selanjutnya, acara diisi dengan Workshop MK yang dibagi menjadi tujuh sesi. Workshop yang bertema Pendidikan Pancasila, Konstitusi, dan Hukum Acara Mahkamah Konstitusi diisi oleh pembicara-pembicara  yang kompeten di bidangnya seperti wakil ketua MPR RI, Lukman Hakim Saifudin serta hakim konstitusi, Harjono, Hamdan Zoelva, dan Anwar Usman.

Selain workshop juga terdapat kegiatan Studium General, pemilihan presidium dan sidang komisi.  “Ga perlu ke mana mana, kita bisa melakukan perubahan.” Kata Mochammad Faisal Karim ketika memberikan materi di stadium generale.

Menurut Faisal, saat ini aksi jangan untuk menuntut, akan tetapi untuk membangun bangsa. Salah satu caranya adalah dengan meningkatkan keahlian sehingga dapat membantu orang lain di sekitar. Selain Faisal, ada juga pembicara yaitu Muhammad Fikri yang membahas mengenai gerakan mahasiswa melalui sosial media.

Setelah studium generale, dilanjutkan dengan pembahasan tata tertib sidang dan pemilihan presidium. Dan presidium terpilih terdiri dari tiga orang, yaitu Hezron Latunussa sebagai ketua (Universitas Pattimura), Rifki Issac Prasadana (Universitas Diponegoro) dan Tasyah Istitika Utari (Universitas Brawijaya).

Pada hari ketiga, tepatnya setelah penutupan workshop MK, rangkaian acara dialihkan ke Fakultas Hukum dan Wisma Handayani. Disana para peserta melakukan sidang komisi. Komisi sendiri terbagi menjadi enam yaitu, sains dan teknologi, advokasi hukum, community development, social entrepreneurship, lingkungan, dan seni budaya.

Hari berikutnya (24 oktober), peserta dibagi menjadi tiga kelompok untuk kemudian melakukan site visit ke tiga tempat yang berbeda yaitu, Koperasi Kasih Indonesia, LBH Jakarta dan Yayasan Keanekaragaman Hayati Indonesia. Hasil kunjungan tersebut kemudian didiskusikan saat rapat pleno.

Seluruh rangkaian acara ini pun ditutup dengan menyanyikan lagu Indonesia Raya yang dipimpin oleh ketua presidium, Hezron Latunussa, serta orasi dari ketua BEM Universitas Indonesia, Maman Abdurrakhman. “Sungguh acara yang menarik apalagi bisa tahu pemikiran-pemikiran dari BEM seluruh Indonesia yang sangat beragam, plus kearifan-kearifan lokalnya.” Kata Muhammad Hadi Miza, delegasi BEM STAN. “Sukses dan terus tingkatkan.” Tambahnya.

 

Azzahra Ulya


Berita Terkait

1 KOMENTAR

  1. By Sawssen, November 14, 3730

    He he he Oh seandainya .(Arab sama Islam itu beda, bro)Hanya saja emamng, banyak orang merasa lebih islami kalau terlihat seperti berbudaya’ Arab. Padahal tahu ngga, kenapa Muhammad SAW diturunkan di tanah Arab? Salah satunya adalah untuk memerangi budaya ARAB JAHILIYAH . OK?(semoga cukup untuk tidak ada lagi yang mendeskriditkan ISLAM sebagai bagian’ dari ARAB. Yang benar : ARAB bagian dari ISLAM sebagimana CHINA dan lain-lain )

    Balas

Tinggalkan Balasan

Alamat surel Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *