Diskusi dan Screening Film Jakarta Maghrib

Ditulis oleh Fariz Panhegar   // November 29, 2011   // 0 komentar

Jumat (25/11), Diskusi dan Screening Jakarta Maghrib diadakan oleh Divisi Seni dan Budaya Himpunan Mahasiswa Sosiologi di Auditorium Lantai 2 Gedung SMCC FISIP UI pukul 14.00 WIB. Rangkaian acara dimulai dengan penayangan film Jakarta Maghrib dan kemudian dilanjutkan dengan diskusi bersama narasumber.

Jakarta Maghrib disutradarai oleh  Salman Aristo, bercerita tentang rutinitas warga Jakarta sesaat sebelum adzan maghrib. Dalam film ini digambarkan lima kisah warga Jakarta dan satu kisah yang merupakan benang merah dari kelima kisah tersebut. Aktor dan aktris yang terlibat dalam film ini antara lain Lukman Sardi, Adinia Wirasti, Reza Rahadian, Ringgo Agus Rahman, Widi Mulia, Deddy Mahendra Desta, Indra Birowo, Fanny Fabriana, Aldo Tansani, Sjafrial Arifin dan Asrul Dahlan.

Pada akhir penayangan film, suasana ruangan menjadi riuh karena decak kagum dan tepuk tangan para hadirin yang menonton dari awal. Alin, mahasiswa Sosiologi 2010 berpendapat bahwa film Jakarta Maghrib sangat simpel tetapi menarik.  Walaupun hanya dihadiri sekitar 20 orang di dalam ruangan, bisa dikatakan antusiasme para penonton tetap tinggi terlihat dari respon penonton saat situasi komedi, sedih, maupun seru ditampilkan di salah satu bagian omnibus (film pendek). Misalnya kisah Iman Cuma Ingin Nur yang menceritakan keinginan Iman (Indra Birowo) untuk  bercinta dengan istrinya namun terhalang oleh adzan maghrib dan gangguan mertua cukup menghadirkan gelak tawa penonton. Atau kisah preman Jakarta, Baung (Asrul Dahlan) yang mengganti tugas mengumandangkan adzan karena penjaga musholla yang meninggal mendadak.

“Tujuan acara ini sebenarnya menunjukan kalau film tidak hanya di-screening saja tetapi bisa dibuat diskusi untuk tahu latar belakang pembuatan film dan pendapat sutradara yang membuat film,” ujar Rukita Wustari sebagai koordinator acara. Alasan memilih film Jakarta Maghrib ujar mahasiswi Sosiologi 2008 ini yakni karena film tersebut unik dan menceritakan maghrib sebagai batasan rutinitas warga Jakarta dipandang dari sisi Islam maupun  sudut pandang sekuler.

Sesi terakhir acara ini dihadirkan pembicara sekaligus sutradara film Jakarta Maghrib Salman Aristo bersama Adrian Jonathan dari filmindonesia.or.id. Dari kedua pembicara ini, para hadirin mendapat cerita dan ide dibalik pembuatan film omnibus yang pernah ditampilkan di Jakarta International Film Festival (JiFFest) tanggal 4 Desember 2010.
Jonathan Nainggolan


Berita Terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat surel Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *