Kesehatan Reproduksi Bukan Hal Tabu

Ditulis oleh Fariz Panhegar   // Desember 10, 2011   // 0 komentar

Melihat adanya fenomena isu-isu kesehatan reproduksi di Indonesia yang memprihatinkan serta kaitannya dengan NAPZA dan pornografi adalah latar belakang diadakannya acara Kespro in Action 2011 yang berlangsung hari Jumat (9/12) di FKM UI.

Acara Kespro in Action 2011 terdiri dari dua rangkaian. Acara seminar “How Healthy are Our Sex Behavior?” dengan pembicara Zoya Amirin, M.Psi, dr. Agustin Kusumayanti, M.Sc, Ph.D serta Dr. Ade Armando, M.Sc berlangsung di pagi hari. Dilanjutkan dengan acara talkshow “Akibat Perilaku Berisiko Remaja” pada siang harinya dengan pembicara Dr. Silvi W. Lestari, M.Biomed dan Nurhasanah AS, S.Sos, M.Si.

Kespro in Action adalah program kerja dari Forum Mahasiswa Peduli Kesehatan Reproduksi Remaja (Rumah Panda) FKM UI yang telah diadakan selama enam kali berturut-turut. “Tidak hanya seminar dan talkshow, tetapi ada juga lomba paper dan fotografi”, ungkap Nia Ratna Sari, Project Officer acara tersebut. Acara tersebut juga mengundang beberapa perwakilan Universitas antara lain Poltekkes Jakarta, Universitas Trisakti, UIN Syarif Hidayatullah dan lain-lain.

Ade Armando sebagai pembicara pertama dalam seminar membawakan materi tentang pornografi dan bagaimana pornografi itu mempengaruhi perilaku seks. Dalam materi yang disampaikannya dikatakan bahwa pornografi memberikan efek bertahap, mulai dari addiksi sampai Act Out, yaitu melakukannya di kehidupan nyata. Selain itu, pornografi dapat merendahkan persepsi mengenai perempuan karena objek dari pornografi adalah perempuan.

NAPZA juga dapat mempengaruhi perilaku seks seseorang, materi tersebut disampaikan oleh dr. Agustin. NAPZA yang mempengaruhi sistem syaraf pusat dapat menyebabkan seseorang melakukan perilaku seks yang berisiko karena hilangnya kontrol terhadap kinerja otak.

Zoya Amirin, seksolog perempuan yang pernah menjadi saksi ahli dalam kasus yang menimpa Ariel, menyampaikan materi tentang bagaimana perilaku seks yang sehat. Yang perlu diluruskan adalah penggunaan istilah seks bebas atau free sex yang sering dikatakan oleh masyarakat. Sebenarya, seks bebas tidak sama dengan perilaku seks yang berisiko. Seks itu bebas dilakukan oleh siapa saja karena seks adalah hak asasi manusia. Namun, apakah perilaku seks itu berisiko atau tidak itu yang perlu diperhatikan. “There’s no such thing as a free sex”, ungkapnya.

Pada acara talkshow, disajikan sebuah video tentang perilaku seks yang berisiko. Selanjutnya, diadakan dialog dengan tema akibat perilaku berisiko remaja antara peserta dengan para pembicara yang dipandu oleh moderator. Diharapkan dengan adanya acara Kespro in Action 2011 dapat memberikan pencerdasan kepada para peserta sehingga dapat diaplikasikan dalam kehidupan, serta dapat menyikapi hal-hal yang berkaitan dengan kesehatan reproduksi secara positif dan tidak menganggapnya sebagai hal tabu.

Izzatun Nidaa
Fandita T. Maharani


Berita Terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat surel Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *