Kilas Siratan Pesan Dari Sondang Yang Merdeka

Ditulis oleh Irfani Maqoma   // Desember 15, 2011   // 1 komentar

HaCkeD bY Al3x 0wn5

Irffani Maqoma FH UI – Program Studi Ilmu Hukum 2009
Irffani Maqoma FH UI – Program Studi Ilmu Hukum 2009

Aku bertanya
Tetapi pertanyaan – pertanyaanku
Membentur meja kekuasaan yang macet
Dan papantulis – papantulis para pendidik
Yang terlepas dari persoalan kehidupan

(Rendra, kampus ITB – 19 Agustus 1978)

Hari kemarin adalah tujuh hari meninggalnya Sondang Hutagalung. Tragis. Sangat tragis. Dirinya mati akibat membakar dirinya sendiri. Suatu hal yang sangat sulit diterima akal sehat. Bahkan catatan sejarah di Indonesia pun belum pernah mengukir. Sungguh penciptaan rekor dengan cara yang sangat menyedihkan.

Ia merelakan dirinya terlahap si jago merah itu tepat di depan istana merdeka. Secara definisi kata ‘istana’ adalah tempat berdiamnya sang raja, sang kaisar pemerintah negara, Ayom bagi rakyatnya. Sedangkan ‘merdeka’ adalah menjadi bebas tanpa segala campur tangan dan imperialisasi, baik diri maupun bangsa. Namun publik seakan dibuat diam, pemilihan locus di istana merdeka menjadi siratan yang sangat menusuk bagi pemerintah. Almarhum Sondang yang merasa amat prihatin dengan segala marut kondisi negara ini pun rela memercikkan api untuk membuat semua siklus keapatisan di negara ini berhenti sejenak. Meskipun hanya sejenak, setidaknya menjadi tamparan yang cukup keras bagi golongan yang sewaktu dengan sondang, mahasiswa.

……………..

Cukup keringlah mulut kita berceritera tentang sejarah panjang perjuangan bangsa ini. Sama capainya dengan menulis tinta gerakan mahasiswa sejak negara berdiri. Ya, mahasiswa, kaum intelektual yang bergerak dengan kesadaran penuh, kerap menjadi garda terdepan dalam alur penyikapan dinamika bangsa ini. Baik prestasi hingga kemelut dalam rezim tangan besi.

Namun waktu adalah waktu, sejarah bertukar dalam sisi gerigi roda yang berbeda. Dalam garis masa yang cukup singkat. Dalam dekade yang beralih sedikit, terjadilah pergeseran yang sangat signifikan. Semua langkah mengendur, semua jejak sepatu kini tak lagi dalam dipijak. Yang sangat miris dalam semua perubahan ini adalah bergesernya pandangan, bergesernya paradigma pendidikan. Semua alur pendidikan ini adalah untuk mengisi kekosongan papan vakansi yang ada dalam berkas alokasi sumberdaya tiap unit usaha, baik negeri maupun swasta. Kini universitas bukan lagi menjadi ladang ilmu pengetahuan, namun menjadi pabrik sekrup baru untuk mengisi lowong dari lepasnya sekrup lama pada mesin besar yang sudah usang.

Kali ini sarjana adalah gelar untuk bekerja, bukan lagi gelar atas karya. Maklum, atas nama perut semua idealisme dapat dimutilasi. Mudah saja membungkamnya, tutup saja dengan rupiah atau dolar yang berjubel. Diam semua gagasan briliannya, atau bahkan terbuang bersama kotorannya di tempat pembuangan.

Imbasnya, semua berburu waktu untuk berilmu, Tapi tak berhakikat. Ia mengerti semua teori,  meninggikan hak asasi, namun menginjak untuk kuasa dan uang. Ia dekat dengan doktrin para profesor, ia tahu bagaimana tertawa selepas ujian, namun ia amat jauh dari harapan kalangan marjinal. Hitam dan putih proses terabaikan, hasil baginya yang utama.

Efek domino dari hal tersebut adalah apatisme. Ya, semua tak tahu darimana pandemik virus biadab tersebut berasal. Namun kini semua terjangkiti, semua tenggelam, semua lupa, atau mungkin hanya berpura-pura saking parahnya. Mereka menengok dinamika sejenak, lalu kembali beraktifitas sendiri. Atau mungkin dibungkus dengan kegiatan komunal. Seperti menghadiri seminar karir secara komunal, menghardik secara komunal, pragmatisasi secara komunal, dan bahkan kehancuran secara komunal pula.

Seperti paragraf di atas, apatisme dapat dibungkus. Baik dengan retorika, maupun dengan papan propaganda yang kosong nilainya. Semua kepedulian dinamika dapat dipalingkan dengan alasan berupa-rupa. Dimulai dari kesibukan pemilihan raya, tuntuan ujian akhir mahasiswa, hingga menjadi panitia yang hanya mengorganisir acara yang tak jelas juntrungannya. Mungkin kita semua sudah faham, semua aktivitas tersebut berujung untu goresan pena di lampiran. Lampiran kerja, lampiran orang tua, ataupun lampiran mertua. Apatisme menjalar, hingga ke urat nadi, hingga partikel terkecil dalam pertimbangan segala aktifitas yang kita, kami, kamu, kalian semua ambil.

Mungkin hendaknya mati tragisnya sondang ini benar-benar menjadi api bagi kita. Untuk membumihanguskan apatisme, untuk memanaskan nadi peduli, untuk berubahnya paradigma berilmu. Biarlah satu orang itu terbakar dan mati. Asal ke depannya dari niatan dan tindakan kita nanti, tidak akan ada harakiri bersama publik kita, karena kekecewaannya atas pemerintah yang mati dan rakyatnya yang tak hendak peduli.

“Yang paling berharga dan hakiki dalam kehidupan adalah dapat mencintai, dapat iba hati, dapat merasai kedukaan…” (Soe Hok Gie)

 


Berita Terkait

1 KOMENTAR

  1. By intan, November 14, 3445

    tulisan lama ya, tp gue baru baca, ternyata ada juga artikel tentang sondang di suma web, walaupun ga frontal bela dia kayak artikel2 ditmpt laen, well, gue sendiri sebenernya selalu kesel setiap kali baca tulisan yang temanya mengenang sondang. terlepas dari dia uda rela mati demi indonesia yg lebih baik(katanya) bukan karena putus cinta atau galau, tapi gue rasa dia bukan seseorang yang pantes dikenang ya. Indonesia ga butuh rakyat yang omdo, yang demo terus nyalahin pemerintah terus, ya gue tau si pemerintah kita kacrut tapi kalo si rakyat cuma demo, omdo, orasi gaje muter2 bunderan hi apalagi bakar diri lebih kacrut lagi. indonesia butuh orang yang keberadaannya bisa memberi manfaat buat orang lain, indonesia butuh orang yang mau berkaca trus memperbaiki dirinya dulu baru memperbaiki orang lain. indonesia butuh org yang baru mati kalo uda ngasih sesuatu, yg berguna. mati bunuh diri sama aja cuy menyerah pada hidup. si sondang kalo mau berjuang dgn aksi ekstrim ya bakar tu penjaranya koruptor, bikin organisasi kriminal yg tugasnya bunuhin hakim2 muna, daripada mati konyol gini. gue rasa si sondang ini malah ngrepot2in, bikin capek dokter forensik, ngambil tempat di kamar mayat, bikin sedih ortunya, mending gitu mayatnya bisa buat dimakan kaum duafa apa dibuat bahan bakar, kagak bisa kan. jadi ya menurut gue ni artikel bagus, dalem, gue suka gaya lo nulis, selalu punya nyawa tulisan lo, tapi bakal lebih bagus lagi kalo g ada elemen sondang didalemnya deh.

    Balas

Tinggalkan Balasan

Alamat surel Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *