Nelayan di Jakarta

Ditulis oleh admin web   // Desember 17, 2011   // 0 komentar

Foto Istimewa Foto Istimewa

Puluhan perahu tertambat rapi dibibir pantai cilincing menghiasi pemandangan disore hari. Sejenak terlihat perahu berayun-ayun mengikuti aliran ombak yang datang silih berganti. Tumpukan berbagai macam sampah plastik dan styrofoam bercampur dengan air laut yang sudah menghitam seperti kopi hitam menghiasi bibir pantai sepanjang kampung nelayan Cilincing. Bau amis menyeruak masuk langsung menusuk hidung ketika saya datang di tempat ini.

Sore itu Pak Suwardjo sedang asik beristirahat di bale depan rumahnya sambil menghirup sebatang rokok setelah lelah mencari ikan ditengah laut dari pukul 6 pagi hingga pukul 3 sore. Ibu Nilem istri Pak Suwardjo sedang duduk disampingnya sedang membersihkan beberapa kerang hasil tangkapan untuk makan malam. Irma anak pertama bapak Suwardjo sedang menyuapi putra kecilnya yang bermain dijalanan. Sedangkan Saiful anak kedua Bapak Suwardjo sedang asik membuat beberapa box tempat ikan didekat Ibu Nilem.

Tumpukan sampah yang terdapat di bibir pantai menyulitkan beberapa nelayan ketika ingin melaut. Sampah yang terlalu banyak sering tersangkut dibaling-baling yang membuat beberapa nelayan harus mendayung perahunya sampai ketempat yang tidak ada sampah. “Kalau mau melaut, dimatiin dulu mesinnya biar sampahnya gak nyangkut dibaling-baling” . kata pak Suwardjo.

Perjalanan sejauh 10km dari bibir pantai menuju Pulau Damar dan Pulau Air tempat mencari ikan tidak pernah menyurutkan langkah dari Pak Suwardjo untuk mencari nafkah buat anak dan istrinya. Meskipun kadang-kadang pendapatannya tidak sebanding dengan ongkos melautnya. Solar yang begitu tinggi menjadi halangan yang cukup besar bagi Pak Suwardjo. Kebutuhan sekali melaut sebanyak 60 liter solar cukup berat bagi Pak Suwardjo dan nelayan-nelayan yang lain dengan harga solar Rp5000/liter. “Untuk solar modalnya Rp300.000, kebutuhan yang lain Rp100.000. Lumayan berat  bagi nelayan” Kata Pak Suwardjo sambil menghisap rokok.

Pendapatan yang lumayan besar bagi Pak Suwardjo dalam sekali melaut bisa mencapai Rp1.000.000. Sedangkan bila sedang tidak beruntung Pak suwardjo pernah mendapatkan Rp100.000 saja dalam sekali melaut. Hal ini tentu saja tidak sebanding dengan pengeluaran Pak Suwardjo dalam sekali melaut. Ikan yang cukup menguntungkan diantaranya Bawal dan Cumi karena kedua jenis ini biasa diekspor ke beberapa negara tetangga.

Pengerukan sampah didaerah bibir pantai yang dilakukan oleh Dinas Kebersihan DKI Jakarta setiap satu bulan sekali meringankan pekerjaan nelayan bila ingin melaut. Akibat dari banyaknya sampah didaerah ini menyebabkan pendangkalan dan berbagai macam penyakit bagi warga kampung nelayan. “Kita terbantu dengan program pemerintah dengan pengerukan sampah, bahkan kalau musim hujan hampir setiap hari dikeruk.” Ujar Pak Suwardjo.

Tantangan yang dihadapi oleh Pak Suwardjo tidaklah hanya sampah belaka. Akan tetapi, badai dan ombak yang ganas hampir merenggut nyawa Pak Suwardjo. Ketika angin sedang kencang dan ombak sedang tinggi, perahu Pak Suwardjo yang diberi nama Sumber Jati mengalami kebocoran dibeberapa tempat. “Saya langsung membuang jaring dan alat-alat lain supaya bisa selamat. Untungnya dari Pulau Damar ke bibir pantai bisa ditempuh dalam 1 jam. Jadi saya masih selamat. “ kata Pak Suwardjo.

Perahu-perahu kecil yang berada di daerah Cilincing jarang memiliki surat-surat yang lengkap.  Sebagian besar perahu-perahu ini hanya memiliki kartu Pass (semacam BPKB untuk kendaraan bermotor) tanpa dilengkapi oleh SKK (Surat Kecakapan Kepelautan) dan SIUP (Surat Izin Usaha perdagangan). “Mahal kalau mau buat SKK dan SIUP. Biayanya Rp500.000.” kata Pak Suwardjo. Hal ini menjadi masalah ketika ada petugas kelautan, Polisi Air, dan Marinir merazia beberapa kapal.

Ketika musim angin barat, kebiasaan Pak Suwardjo adalah kembali ke kampung halamannya di daerah Brebes. Hal ini dilakukannya karena bila musim angin barat di Cilincing tidak bisa melaut. Terlalu berbahaya dan beresiko tinggi.Sebaliknya, di Brebes angin sedang bersahabat untuk nelayan.

Sorot mata dari Pak Suwardjo ketika diwawancara menggambarkan keletihan setelah lelah berjuang mencari nafkah seharian. Dengan mengontrak sepetak rumah cerminan kebersahajaan dari seorang nelayan yang sudah puluhan tahun merantau di daerah Cilincing ini. Beliau juga mengajarkan dan menamkan  kepada anak-anaknya agar selalu jujur dan mencari duit yang halal meskipun sedikit.

Semburat cahaya oranye dari arah barat menyilaukan pandangan saya dan Pak Suwardjo di akhir-akhir wawancara. Bau amis amis yang cukup menusuk tetap tercium sejak awal wawancara sampai akhir dari wawancara saya dengan Pak Suwardjo. Kopi hitam dan sebatang rokok menjadi teman selama wawancara berlangsung. Suara tawa canda anak-anak kecil terdengan sangat girang diselingi oleh suara kapal motor yang hendak melaut pada malam hari. “Terima kasih Pak sudah mau diwawancara” kata saya. “Mudah-mudahan kamu bisa jadi wartawan besar ya dek.” jawab Pak Suwardjo. Percakapan ini menjadi akhir dari perjumpaan dengan Pak Suwardjo.

(Hadi Permana) - Artikel Feature Terbaik Workshop Klinik Jurnalistik Suma UI


Berita Terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat surel Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *