Jakarta Kota Para Ninja

Ditulis oleh admin web   // Desember 17, 2011   // 0 komentar

Foto Istimewa Foto Istimewa

Di pinggiran jalan terminal Blok M, Jakarta Selatan, seorang wanita berusia sekitar dua puluhan menggunakan masker penutup hidung. Terlihat wajar dan biasa saja. Sepintas, saya mengira dia memakainya karena sedang flu. Tapi orang-orang yang lalu-lalang di jalan itu seakan memiliki seragam: menggunakan masker penutup hidung.

Ada pemandangan unik di sana. Orang-orang di sekitar terminal Blok M itu berpenampilan seperti ninja. Bukan sedang ada festival tertentu disitu. Mereka mengenakan baju yang biasa saja dengan berbagai model seperti kaus, kemeja, blus, dan lainnya. Baju-baju itu bukan pula seragam para ninja.

Hanya saja masker-masker yang mereka kenakan mengingatkan saya pada film kartun ninja di televisi. Salah satu atribut yang menonjol dari ninja adalah kain yang biasa digunakan untuk penyamaran. Kain itu menutup sebagian wajah, dari hidung sampai dagu.

Kurang bijaksana bila menyimpulkan bahwa orang-orang di terminal itu memakai masker karena sedang terkena flu atau ingin meniru ninja. Saya mendekati si wanita di pinggir jalan itu, beramah-tamah dan mengobrol ringan. Rupanya dia sedang menunggu bus.

Wanita itu adalah Reni, 25 tahun, seorang ibu rumah tangga yang tinggal di daerah Sukabumi Selatan, Jakarta Barat. Walaupun mengaku jarang ke Terminal Blok M, Reni cukup terganggu dengan kondisi terminal ini.

Asap dari kendaraan umum yang berwarna kehitaman itu menyebar disana, terhirup begitu saja oleh pengguna terminal. “Kalau badan sedang tidak fit, tambah tidak nyaman kalau terkena asap kendaraan,” keluhnya. Tentu Reni tidak nyaman, dia sendiri sedang hamil dua bulan. Apa yang ia makan, ia minum, ia hirup, akan ia bagi ke janinnya.

Polusi adalah masalah perkotaan yang dihadapi masyarakat urban sehari-hari. Penyumbang polusi yang cukup kontributif di perkotaan adalah angkutan umum. Di jalanan Ibu Kota, bukan saja di Blok M, asap hitam dari kendaraan menjadi hal yang biasawalaupun pengguna jalan di Jakarta sering mengeluhkan udara Jakarta yang semakin sesak. Bukan saja ibu rumah tangga seperti Reni, tetapi aparat negara yang tempat kerjanya di jalanan seperti polisi pun ikut menyimpan keluh untuk kota ini.

Hadi, salah satu polisi di kepolisian sektor Blok M juga tidak nyaman dengan polusi dari angkutan umum. Dalam obrolan ringan di siang yang cukup lengang di Blok M, Hadi bercerita pada saya bahwa angkutan umum di Jakarta sebenarnya jauh dari kata layak. Angkutan umum itu seolah asal jalan, yang penting ada wujudnya, tidak peduli bagaimana kondisi mesin. Polusi yang dikeluarkan tidak jarang membuatnya terbatuk.

Sebenarnya pemerintah sudah mengantisipasi hal ini dengan diadakannya uji kelayakan bagi kendaraan umum. Tapi pada kenyataan sehari-hari, sebagian besar angkutan umum yang beroperasi dalam keadaan tidak layak. Angkutan umum yang tidak layak ini didominasi oleh jenis bus non AC. Terkait uji kelayakan ini, Hadi mengatakan, ”kalau standar uji kelayakan yang benar, ada satu aspek saja tidak lulus maka kendaraan tidak bisa lolos dan harus melakukan servis atau perbaikan. Tapi karena pengusaha trayek kebanyakan tidak mau berlama-lama menunggu hasil tes dan ditambah ada oknum dinas perhubungan yang suka ‘sogokan’, uji kelayakan menjadi percuma. Dengan ‘sogokan’, kendaraan yang seharusnya tidak lolos uji kelayakan dapat diloloskan. Mungkin pihak Dishub bagian uji kelayakan ditertibkan dulu baru bisa berjalan baik.”

Pihak Dinas Perhubungan (Dishub) sebagaimana yang dikatakan Oskar Sairin, kepala terminal Blok M, sebenarnya memiliki pandangan yang sama seperti warga kota lainnya. Angkutan umum di Jakarta banyak yang belum layak dan ramah lingkungan. “Seharusnya pengusaha trayek lebih peduli dengan kendaraannya, mulai dari mesin sampai mutunya,” katanya. Karena itu, dirinya kerap kali memimpin inspeksi mendadak di terminal Blok M. Angkutan umum yang melanggar aturan, seperti tidak lolos uji kelayakan akan mendapatkan teguran bahkan sanksi.

Kota ini memang menarik, dilihat dari segi mana pun. Jakarta memang memiliki magnetnya sendiri yang menarik untuk (tetap) didatangi meski polusi menjadi bagian dari udara kota. Setelah obrolan-obrolan ringan saya di suatu siang di Blok M dengan beberapa orang, saya jadi semakin menyukai ninja. Bisa dibilang, orang Jakarta bukan hanya maskernya yang menyerupai ninja, tetapi juga perilakunya: pandai membela diri.

Terlepas dari perilaku masyarakat kota, baik pengguna jalan, pemilik trayek, maupun pihak pemerintah, polusi adalah masalah bersama. Polusi memiliki bahaya yang sama-sama dirasakan penduduk kota. Timbal dari hasil pembakaran mesin tidak dapat diuraikan dalam tubuh. Budi Haryanto, salah satu dosen fakultas kesehatan masyarakat universitas Indonesia mengatakan bahwa zat-zat beracun seperti timbal yang tidak sengaja terhirup akan terus berakumulasi dalam paru-paru. Akibatnya bisa menimbulkan reaksi radang pada paru-paru.

Selain itu polusi udara oleh angkutan umum ternyata bersifat karsinogen tanpa batas aman, artinya dapat menimbulkan kanker bila seseorang sering menghirup polusi. Efek lainnya adalah terganggunya stimulasi sistem saraf otonom dan nosioreseptor yang mengatur kerja jantung dan saluran napas. Yang paling berbahaya adalah efek adjuvant, yaitu tubuh secara tidak langsung mengaktifkan sistem imun terhadap sistem imunitas tubuh, misalnya logam golongan transisi dan DEP (diesel exhaust particulate). Hal ini dapat menurunkan sistem pertahanan tubuh normal dengan menekan fungsi alveolar makrofag pada paru.

Walaupun masker hanya berupa kain tipis yang kurang ampuh menyaring udara kotor, belakangan masker menjadi salah satu atribut kaum urban. Mobilitas warga kota yang cukup tinggi juga menuntut mereka untuk peduli pada kesehatan dan kenyamanan. Saat ini pengguna angkutan umum memang baru memiliki alternatif penggunaan masker untuk mengurangi polusi yang mereka hirup. Budi Haryanto mengatakan, “orang Jakarta harus memperbanyakminum susu karena kandungan kalsium dalam susu dapat mengurangi timbal yang sudah masuk ke tubuh.”

(Kartika Laras Panduhati) – Artikel Feature Terbaik ke-2 Workshop Klinik Jurnalistik Suma UI


Berita Terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat surel Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *