Membenahi Problema Jakarta dari Universitas Indonesia

Ditulis oleh Irfani Maqoma   // Desember 22, 2011   // 0 komentar

Faisal Basri Memaparkan Pendapatnya Mengenai Pembangunan Jakarta


Bertempat di selasar Dekanat FE UI, Diskusi publik bertajuk UI untuk Jakarta “Mengokohkan Peran UI dalam Pembangunan Jakarta” dilaksanakan pada hari Rabu, 21 Desember 2011.

Jakarta merupakan ibukota negara dengan berbagai fenomena dan problema. Universitas Indonesia yang notabene berawal dari kota Jakarta dirasa perlu berkontribusi untuk pembangunan Jakarta. Berangkat dari pemikiran itulah Suara Mahasiswa UI mengadakan diskusi publik dengan tema Jakarta. Setidaknya itulah yang disampaikan oleh Adi Pratama, ketua pelaksana acara dalam sambutannya sebelum diskusi dimulai.

Diskusi ini dihadiri oleh Faisal Basri M.A (Dosen Ekonomi Makro FE UI), Prof Paulus Wirutomo Phd (Guru Besar Sosiologi Perkotaan FISIP UI, Ketua Lembaga Pemberdayaan Masyarakat Jakarta), Prof. Hasbullah Tabrani (Guru Besar Asuransi Kesehatan dan Jaminan Sosial FKM UI), dan Maman Abdurakhman (Ketua BEM UI 2011).

Acara ini didahului oleh presentasi kajian dari mahasiswa  jurusan ilmu politik  yang tergabung dalam kelas politik perkotaan. Pada presentasi ini dipaparkan mengenai berbagai persoalan mulai dari banjir, hingga tata ruang di berbagai wilayah Jakarta.

Acara berlanjut ke diskusi inti yang dimoderatori oleh Effendi Ghazali, Ph.D, Pakar komunikasi politik. “Meski secara fisik kegiatan UI mayoritas dilakukan di wilayah Depok namun jiwa UI masih tetap ada di Jakarta,” ujar Effendi ketika membuka diskusi. Prof Paulus Wirutomo pun dalam kesempatannya mengutarakan keluhan tentang gagasan para ilmuan sosial yang sering diabaikan oleh pemerintah DKI. Menurutnya, pembiaran tersebut berakibat pada pembangunan Jakarta yang tidak manusiawi dan hanya berorientasi pembangunan fisik. “Seharusnya pembanguan itu memiliki skala prioritas pada manusia, kemudian pembangunan ekonomi baru kemudian tata ruang kota,” ujar Paulus.

Prof. Hasbullah Tabrani menyampaikan uraian problema fasilitas kesehatan di Jakarta. Beliau menyatakan bahwa untuk mengubah kondisi Jakarta yang carut-marut harus dilakuakn mulai dari pimpinan/ gubernur hingga birokrasi-birokrasi yang selama ini inefisien dan korup.

Maman Abdurakhman memaparkan mengenai penyebab carut marutnya tata kota di Jakarta. “Perkawinan oligarki ekonomi-politik harus dihilangkan,” ungkapnya. Ia juga  berbicara mengenai peran mahasiswa dalam membenahi Jakarta. Salah satu agenda yang dipaparkan oleh Maman adalah pencerdasan politik bagi anak SMA, ia yakin dengan memberikan sosialisasi pada anak SMA merupakan suatu langkah yang tepat untuk  menentukan masa depan Jakarta.

Pemaparan terakhir disampaikan oleh Faisal Basri. Faisal menjelaskan bahwa dalam segala problema yang ada, masih ada harapan untuk bisa diperbaiki dibutuhkan kebersamaan dalam memperbaiki dan membangun Jakarta. Ia beranggapan bahwa rusaknya Jakarta disebabkan oleh cukong-cukong yang sering berkonspirasi dan berlindung di bawah kekuasaan pemerintah DKI Jakarta.

Di akhir acara, Effendi menyimpulkan bahwa Jakarta harus dibangun dengan paradigma pembangunan yang mengutamakan aspek manusia. Ia juga menyimpulkan UI sebagai universitas dapat menyumbangakan berbagai ide, gagasan, tindakan pemikiran untuk membangun dan membenahi Jakarta.

(Ubaidillah Pratama)


Berita Terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat surel Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *