Chandra Motik: Berkontribusi Untuk Negeri Lewat ILUNI UI

Ditulis oleh admin web   // Desember 26, 2011   // 0 komentar

Foto: Awangga/SUMA Foto: Awangga/SUMA

Ikatan Alumni Universitas Indonesia (ILUNI UI) baru saja berganti kepengurusan. Dr. Chandra Motik SH, MSc terpilih menjadi Ketua ILUNI UI periode 2011-2014 dalam Musayawarah Nasional ILUNI UI ke VI, Minggu (27/11) di Aula Fakultas Kedokteran UI, Salemba.

Chandra Motik merupakan perempuan pertama yang menjadi Ketua ILUNI UI. Beliau berhasil menduduki jabatan tersebut setelah mengungguli tiga calon lainnya yakni Gubernur Lembaga Ketahanan Nasional (Lemhanas) Prof. Dr. Ir. Budi Susilo Soepandji, D.E.A. dari Fakultas Teknik, Menteri Sekretaris Kabinet Dipo Alam dari Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam, dan Ketua ILUNI Fakultas Ilmu Budaya sekaligus politikus Gerindra Fadli Zon.

Chandra Motik mengusung tema Harmony in Partnership dalam kampanyenya. Ia memiliki visi menjadikan ILUNI UI sebagai organisasi yang solid, kompak dan bermanfaat bagi almamater, masyarakat, dan negara. “Saya ingin memperkuat semangat kebersamaan di internal ILUNI sendiri. Kalau sudah kuat di dalam kan pasti bisa memberikan kontribusi lebih nyata ke luar, untuk UI dan untuk negeri,” ujar Chandra Motik.

Chandra Motik adalah alumni Fakultas Hukum UI angkatan 1973. Ketika masih kuliah, Chandra aktif di Senat Mahasiswa Fakultas Hukum (sekarang disebut Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM)). Setelah lulus, sama seperti lulusan lain, Chandra Motik otomatis menjadi alumni dan tergabung menjadi anggota ILUNI. Chandra aktif menjadi pengurus ILUNI Fakultas Hukum. Ia menjabat sebagai Ketua ILUNI FH periode 2008-2011.

Saat masih menjabat menjadi Ketua ILUNI FH UI, banyak program kerja yang dilakukan Chandra antara lain memberi beasiswa untuk mahasiswa yang kurang mampu, mengadakan seminar, menyediakan program magang untuk mahasiswa serta mengadakan bakti sosial bagi karyawan FH UI, orang-orang yang kurang mampu, dan korban bencana alam.

Chandra Motik juga aktif menjadi konsultan hukum. Beliau merupakan satu-satunya perempuan yang menjadi pakar hukum maritim di Indonesia. Ia juga merupakan anggota Asia Lawyer Association, ASEAN Lawyer Association, Ketua Umum Lembaga Bina Hukum Laut Indonesia, Anggota Commite Maritime International di Belgia, Pengajar Hukum Maritim Fakultas Hukum Universitas Indonesia dan Staf Ahli Tentara Nasional Indonesia Angkatan Laut Bidang Hukum Maritim. Chandra Motik juga sering menjadi pembicara dalam seminar hukum, aktif menulis artikel mengenai hukum maritim di majalah Maritim, Sailings, dan media cetak lainnya, serta telah menerbitkan beberapa buku.

Saat ditanya bagaimana membagi waktu, Chandra Motik menjawabnya dengan senyuman.“Intinya kita yang harus mengatur pekerjaan, bukan pekerjaan yang mengatur kita. Saya selalu melihat mana yang lebih prioritas untuk saat itu. Untungnya saya ‘kan punya kantor hukum sendiri, jadi lebih mudah mengaturnya,” tutur Chandra Motik.

Chandra Motik memang sangat mencintai almamaternya. Buktinya, di tengah segala kesibukannya, beliau masih menyempatkan diri mengurus ILUNI. Hal ini disebabkan ia merasa punya ‘hutang’ terhadap UI dan negara.“Semua alumni UI, terutama yang lulus sebelum UI berstatus Badan Hukum Milik Negara, itu punya ‘hutang’ terhadap negeri. Kan dulu sebelum BHMN biaya kuliah itu murah sekali karena disubsidi pemerintah. Makanya, alumni UI punya kewajiban membayarnya dengan berkontribusi pada UI dan negara. Salah satu wadah untuk berkontribusi ya ILUNI ini,” tutur Chandra Motik.

Menurut Chandra, organisasi yang didirikan sejak 1958 ini bisa memberikan lebih banyak manfaat bagi UI, masyarakat, dan negara. “Dulu kan saya juga mengurus ILUNI tingkat UI. Saya sadar banyak potensi yang bisa dikembangkan dari alumni-alumni UI. Tapi kiprah ILUNI belum banyak yang tahu karena mungkin kurang membumi. Saya ingin ILUNI memberikan kontribusi yang lebih besar lagi untuk almamater dan Indonesia,” kata Chandra Motik.

Chandra Motik memiliki seorang putri, Ashana Vidia Yusuf yang sekarang menjadi rekannya di Chandra Motik Yusuf & Associates, serta dua orang putra kembar kembar Yudi dan Yuda. Yudi saat ini sedang mengenyam pendidikan Spesialis Kulit di Fakultas Kedokteran UI dan Yuda adalah alumni FH UI yang sedang mempersiapkan diri mengambil S2 di Australia National University.

Di samping segudang kegiatannya, perempuan kelahiran Jakarta, 18 Februari 1954 ini ternyata hobi memasak. Beliau telah menerbitkan buku kumpulan resep masakan Palembang pada tahun 2000. Beliau juga pernah membuat pempek sepanjang 10,2 meter yang kemudian dianugerahi rekor sebagai pempek terpanjang oleh Museum Rekor Indonesia (MURI).

(Shintya)


Berita Terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat surel Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *