Prof. Terry Mart: Jangan Sampai 2050 Indonesia Dijajah Malaysia!

Ditulis oleh admin web   // Desember 28, 2011   // 0 komentar

Foto: Shintya/SUMA Foto: Shintya/SUMA

Siapa bilang ilmuwan Indonesia tidak bisa punya taji di kancah internasional? Buktinya Prof. Dr. Drs. Terry Mart, ilmuwan Fisika Teori Nuklir dan Partikel dari Universitas Indonesia bisa ‘eksis’ bahkan hingga ke tingkat dunia.

Terry Mart adalah ilmuwan Fisika Teori Nuklir dan Partikel dari Universitas Indonesia. Beliau telah berkecimpung di bidang nuklir dan partikel sejak 20 tahun lalu. Hingga saat ini ia masih setia menjadi peneliti teori mengenai nuklir dan partikel, meski banyak tantangan dan hambatan yang harus ia hadapi.

Sebagai ilmuwan, Terry cukup produktif. Jumlah makalah buatan Terry yang terbit di jurnal internasional mencapai sekitar 100 makalah. Produktivitasnya disahihkan dengan penobatan beliau sebagai peraih indeks sains tertinggi di Indonesia versi Organisasi Konferensi Islam yang berpusat di Pakistan. Saat ini Terry sedang melakukan riset mengenai reaksi produksi kaon. Dalam melakukan riset tersebut, Terry bekerja sama dengan peneliti-peneliti dari Amerika Serikat, Jepang dan Jerman. “Mereka melakukan eksperimen, saya dukung dengan model teori. Mereka senang sekali,” kata peraih Habibie Awards tahun 2001 tersebut.

Selain aktif sebagai peneliti, Terry juga masih aktif mengajar mahasiswa program studi Fisika di Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam, Universitas Indonesia. Ia juga merupakan Ketua Peminatan Fisika Nuklir & Partikel UI dari 1998 sampai sekarang. Saat ini Terry juga sedang mempersiapkan tiga orang mahasiswa S1 Fisika untuk mempresentasikan skripsi mereka di Jepang. “Mereka meneliti tentang Partikel Higgs atau sering juga disebut God Particle. Penelitian mereka ini akan dipresentasikan di Jepang,” ujar Terry.

Selain itu, Terry aktif berkontribusi secara nasional melalui sumbang saran untuk Dikti. “Untuk memajukan riset di Indonesia, dibentuk Dewan Pendidikan Tinggi. Isinya dosen- dosen dari seluruh Indonesia. Saya sering meluangkan waktu untuk rapat di sana. Saat ini sedang ada wacana Dikti mau bikin Center for Mathematics and Physics, untuk memudahkan pengembangan bidang ilmu tersebut,” kata Terry.

Khawatir Dijajah Malaysia
Kesetiaan Terry mengembangkan fisika teori di Indonesia dipicu oleh keprihatiannya mengenai keadaan riset dalam negeri. Indonesia secara produktivitas penelitian tertinggal jauh dari Malaysia. Terry melihat perbandingan jumlah paper Malaysia dan Indonesia bagaikan langit dan bumi. Sejak tahun 1991, jumlah publikasi artikel Indonesia statis, tidak mengalamipeningkatan, sedangkan Malaysia malah mengalami peningkatan yang sangat tinggi. “Kalau seperti ini terus, bisa-bisa 2050 Indonesia dijajah Malaysia.” ungkapnya bersemangat.

Skenario ‘dijajah negeri tetangga’ tersebut terlintas di pikiran Terry Mart setelah melihat betapa tertinggalnya Indonesia dalam bidang penelitian dibanding dengan Malaysia. “Malaysia sudah mendeklarasikan 2015 mereka harus punya Pembangkit Listrik Tenaga Nuklir. Dari tahun 2010 mereka sudah mempersiapkan pembangunan PLTN tersebut. Ini prediksi saya: saat Indonesia masih meributkan pro-kontra tentang nuklir, 2020 Malaysia sudah menguasai teknologi nuklir, 2030 mereka sudah punya senjata nuklir, 2050 mungkin bisa jajah Indonesia,” tutur Terry Mart.

Terry sangat gencar menyuarakan himbauan bagi para akademisi agar produktif melakukan penelitian. “Ya itu bukannya mau membangkitkan permusuhan, tapi harus sadar persaingan itu ada dan itu membuat kita maju. Sains teknologi harus maju jika tidak mau dijajah orang lagi,” ujar Terry.

Salah satu penyebab tertinggalnya Indonesia di bidang ilmu pengetahuan adalah belum adanya budaya penelitian di Indonesia. “Budaya penelitian belum ada di Indonesia. Banyak orang yang mengaku pakar tapi tidak mau mengembangkan bidang ilmu yang ia tekuni. Sedikit sekali orang yang mau melakukan riset. Mengapa? Karena riset itu sulit. Selain itu penelitian juga tidak menghasilkan uang ataupun kekuasaan,” papar lulusan Univeristat Mainz, Jerman tersebut.

Mindset seperti itu, kata Terry, keliru. Ilmu pengetahuan adalah bagian penting dari peradaban. Indonesia perlu orang untuk pengembangan ilmu pengetahuan. Jika terus seperti ini, Indonesia sedang menuju kehancuran peradaban. “Di Indonesia itu kalau untuk urusan kekuasaan ramai sekali. Mungkin ini masih euforia demokrasi. Tapi kan sudah 13 tahun lewat, masa masih terbawa euforia? Ayo dong selesai, kita harus lihat realita, bangun ilmu pengetahuan,” ungkap Terry.

Tantangan dan Peluang Peneliti Indonesia

Pemerintah Indonesia cenderung kurang memperhatikan kondisi penelitian dan pengembangan ilmu pengetahuan. Oleh karena itu, menjadi peneliti di Indonesia cukup banyak menghadapi tantangan. “Tantangan tersebut salah satunya masalah dana. Dana penelitian yang didistribusikan Dinas Pendidikan Tinggi untuk seluruh universitas negeri di Indonesia adalah Rp 400 milyar. “Banyak ya? Tapi ternyata itu hanya sebanding dengan biaya satu kali Pilkada Gubernur!” papar Terry.

Alokasi Anggaran Pendapatan Belanja Negara untuk biaya riset hanya 0.8%. Sulitnya mendapat dana bantuan penelitian membuat banyak akademisi enggan melakukan penelitian. “Yang masih neliti sampai saat ini ya orang-orang yang militan, yang masih mauberkontribusi bagi negeri lewat pengembangan ilmu pengetahuan,” kata Terry.

Terry sendiri pernah sempat tertarik untuk menjadi peneliti di luar negeri karena jauh lebih mudah. “Apalagi waktu ada masalah dengan pangkat saya. Sampai 2005 saya kan cuma pegawai negeri golongan 3A. Gaji PNS 3A kan kecil sekali. Riset juga sulit. Ketika itu ada keinginan untuk hijrah ke luar negeri. Kebetulan ada peluang juga. Tapi kemudian saya ingat alasan saya memutuskan pulang dari Amerika ke Indonesia pada 2001: saya punya kewajiban membangun Indonesia,” cerita Terry Mart yang mengenyam pendidikan Post Doctoral di George Washington University, Amerika Serikat.

Terry mengaku, banyak orang yang mengritik dirinya karena apa yang ia kerjakan tidak ada gunanya untuk pengentasan kemiskinan.
“Tapi ini kan investasi jangka panjang. Mengembangkan ilmu pengetahuan itu kewajiban kita semua,” ujar Terry. “Mahasiswa kan banyak, tidak usahlah semua jadi politikus, sibuk organisasi. Ada waktu luang silahkan organisasi, tapi tugas pertama adalah serap ilmu sebanyak-banyaknya di kampus, lalu kembangkan. Dosen juga harus diberdayakan agar melakukan penelitian,” tambahnya.

Di Universitas Indonesia, penelitian mulai dibudayakan. Rektorat memberi insentif Rp 10 juta untuk tiap makalah peneliti dari UI yang masuk jurnal internasional. Di UI juga ada dosen inti penelitian, dosen yang khusus fokus di bidang riset, ia punya kewajiban menghasilkan penelitian yang bisa bersaing di kancah internasional. “Saya suka konsep ‘mulai dari diri sendiri’. Hal ini bagus sekali jika diterapkan oleh kita semua di segala bidang, mulai dari belajar sampai riset. Tunjukan kita bisa punya kontribusi mulai sekarang. Jadilah teladan dan jangan menunda-nunda! Jangan sampai skenario 2050 dijajah Malaysia itu jadi kenyataan.” kata Terry.

(Shintiya)


Berita Terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat surel Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *