Sumpah Pemuda Jilid 2.0: Mimpi serta Tantangan Baru Pemuda Indonesia

Ditulis oleh admin web   // Januari 20, 2012   // 0 komentar

1784137

Sejarah hanya mencatat para pemuda yang berbuat sesuatu, bersatu, dan menuliskan komitmennya tersebut dalam sebuah janji seperti apa yang telah dilakukan para pemuda di tahun 1928. Pemuda-pemuda yang hadir dalam Kongres Pemuda saat itu telah lebih dahulu aktif dalam berbagai organisasi kedaerahan yang didominasi oleh aktivitas diskusi dan penyadaran akan ke-Indonesia-an. Begitu pula, suasana kebatinan yang terekam menjelang Kongres Pemuda tersebut adalah kuatnya kesadaran menyatukan orientasi perjuangan pemuda dalam mencapai cita-cita kemerdekaan Indonesia (menurut Mohamad Yamin, salah satu penggagas dan panitia Kongres Pemuda).

Hal ini telah muncul sejak awal abad 20 dengan mulai berperannya kalangan muda terdidik baik dari dalam maupun luar negeri serta berdirinya Boedi Utomo, Syarikat Islam, dan organisasi lainnya. Naskah Sumpah Pemuda yang ditelurkan dalam konferensi tersebut pun dicatat sebagai salah satu milestone dalam perjuangan kemerdekaan Indonesia, sebagaimana sejarah diartikan sebagai ucapan, tindakan, dan peristiwa yang terdokumentasikan.

Di tengah beragamnya peringatan Sumpah Pemuda dewasa ini, lalu muncul pertanyaan besar, apa pelajaran yang tersisa dari sejarah tersebut yang dapat dijadikan pelajaran untuk hidup di masa kekinian. Semangat yang muncul sebagai benang merah adalah bahwasanya pemuda senantiasa diharapkan menjadi penggerak perubahan. Semangat boleh sama, akan tetapi kondisi sudah jauh berbeda, untuk itulah perlu redefinisi Sumpah Pemuda baru, Sumpah Pemuda jilid 2.0 (baca: two point o) yang diharapkan kembali menyatukan semangat pemuda untuk melakukan perubahan.

Perubahan di dunia ini selalu diledakkan oleh dua sumbu: mimpi (dream) dan tantangan (challenge). Mimpi yang mendasari Sumpah Pemuda jilid 1 adalah keinginan yang kuat untuk merdeka. Sedangkan tantangan utama waktu itu adalah menyatukan perjuangan kemerdekaan yang sebelumnya tersekat-sekat dalam batas kerajaan, wilayah, kedaerahan. Hal ini menjadi wajar karena saat itu belum dikenal Indonesia, masih berupa jajahan Hindia Belanda. Tantangan lain adalah untuk membungkus gerakan tersebut agar tidak layu sebelum berkembang, mengingat masih bercokolnya penjajah di bumi Nusantara.

Kini kita telah merdeka secara de jure, yang artinya sumpah Pemuda jilid 1 bisa dikatakan telah mencapai apa yang menjadi mimpinya saat itu. Tapi kita masih dihadapkan oleh perjuangan lain dan peperangan lain. Menurut hemat penulis, mimpi kita sekarang adalah bagaimana mewujudkan cita-cita kemerdekaan itu sendiri, agar bangsa Indonesia menjadi maju, serta rakyatnya sejahtera. Sebuah perjalanan yang belum selesai sejak Bung Karno mengekstrasikan mimpi tersebut menjadi Berdaulat dalam Politik, Mandiri dalam Ekonomi, dan Berkarakter dalam Budaya. Adapun tantangan sekarang semakin kompleks, sebagaimana Bung Karno juga dulu meramalkan: “… perjuangan kalian akan makin berat, jika kami melawan musuh yang jelas yaitu penjajah, kelak kalian akan menghadapi musuh dari bangsa sendiri…”. Tantangan sekarang antara lain: disintegrasi bangsa, tata kelola negara yang buruk oleh pemerintah (penegakan hukum, pembangunan, dll), perilaku korup para pemimpin, dan serbuan budaya asing di era globalisasi. Lalu apa yang bisa kita lakukan sebagai pemuda?

Bung Hatta pernah berucap, “zaman besar hanya melahirkan generasi kerdil”. Kini makna pernyataan tersebut terasa relevan dengan kenyataan. Era sekarang adalah era yang menyodorkan serba kemudahan bagi kita. Bandingkan dahulu para pemuda bisa menghimpun barisan walau belum dikenal teknologi informasi seperti telepon seluler, internet, apalagi smartphone. Mereka juga bisa bergerak dinamis tanpa dukungan alat transportasi memadai. Dengan berbagai kemudahan sekarang, pemuda haruslah ada dalam posisi memberi jawaban, memberikan solusi, menyalakan lilin secercah perubahan, tidak hanya mengutuk kegelapan. Dalam kaitan menjadikan gerakan pemuda baru, diperlukan Sumpah Pemuda Jilid 2.0 yang diawali dengan perumuskan ulang visi gerakan. Perubahan sekarang tidak hanya dituntut, tapi diciptakan oleh kita, sebagaimana perkataan Gandhi yang populer, “… be the change you want to see in this world…

Sekarang tidaklah cukup hanya berbuat, bersatu, serta menuliskan komitmen atau janji. Yang harus dilakukan adalah berkarya (perbuatan yang membawa manfaat dan perubahan), berkolaborasi (bekerja sama merangkai satu kerja besar bukan hanya bersatu dalam organisasi atau barisan), serta mengucapkan janji dan mengukurnya secara berkala. Yang terakhir adalah antitesis terhadap pendapat diperlukan potong generasi untuk perubahan, yang mengesankan pemuda hanya menunggu, ‘minta jatah’. Pemuda haruslah menjemput, menunjukkan prestasi bahwa ia layak memimpin. Pemakaian istilah 2.0, tidak sekedar 2, adalah lambang diperlukan upaya kolaborasi, peran serta semua pemuda, sebagaimana 2.0 mewakili era baru internet yang memungkinkan penggunanya sharing, berkolaborasi, dan mengelaborasi kontennya. Perubahan yang tidak didesakkan dari atas secara struktural, tapi lebih demokratis karena dilakukan lebih banyak pemuda dan melibatkan inisiatif publik.

Pemuda sekarang banyak yang telah melakukan sesuatu, membuat karya nyata, menjadi agen perubahan di berbagai bidang. Baik ia seorang aktivis gerakan moral, social entrepreneur yang memberdayakan komunitasnya, para inovator yang melestarikan budaya dan lingkungan dengan nilai tambah, atau pemuda di seantero negeri yang baru bermimpi tapi rela meluangkan waktu-tenaga-pemikirannya untuk masyarakat serta bangsa yang ia cintai. Langkah selanjutnya adalah merajut berbagai perubahan itu dalam manifesto baru, Sumpah Pemuda Jilid baru yang diharapkan menginspirasi pemuda lain untuk bertindak. Suara pemuda ini haruslah bergaung tidak kalah besar dari berita negatif yang membungkus bangsa ini, yang memunculkan aura negatif, pesimisme, dan sikap inferior. Pemuda-pemuda yang telah membuat perubahan inilah yang layak mengemban warisan sejarah untuk mendeklarasikan Sumpah Pemuda Jilid 2.0.

Momen ini sungguhlah tepat. Bangsa Indonesia berharap dapat memenuhi cita-citanya menjadi bangsa besar sebagaimana diramalkan berbagai institusi ekonomi dunia dan futurolog internasional, bahwa di tahun 2030 Indonesia dapat menjadi salah satu kekuatan ekonomi dunia. Hal ini ditopang demoghraphic advantage, atau keuntungan demografis, dimana sekitar 40% lebih populasi Indonesia nantinya adalah pemuda di bawah 30 tahun, bahkan 55% di bawah 40 tahun, (sekarang 36%, sumber BPS). Semua bangsa besar pernah mengalami keuntungan ini, di mana kelas menengahnya adalah pemuda produktif dan memiliki nasionalisme tinggi. Hal ini menjadi penambah motivasi agar para pemuda sekarang terpanggil untuk melakukan perubahan yang organik dan berkelanjutan.

Pemuda kelas menengah yang telah melakukan perubahan (young changemaker) inilah yang akan menjadi ‘tipping point’, ‘creative minority’, yang akan mendorong perubahan besar. Malcolm Gladwell dalam bukunya Tipping point memaparkan Hukum Tentang yang Sedikit (The Law of The Few). Hal kecil bisa membuat perubahan yang besar ini jika syarat Hukum Tentang yang Sedikit ini terpenuhi. Agar dapat berubah, harus ada orang–orang yang walaupun jumlahnya sedikit, memiliki ketrampilan bergaul, semangat hidup yang tinggi dan memiliki kemampuan untuk mempengaruhi orang lain. Dengan kemudahan yang sekarang berlimpah, kita harapkan maka generasi muda ini juga sanggup mengawali perubahan besar sebagaimana pendahulunya berbuat pada zamannya.

Berdasar keyakinan di atas serta interaksi dengan beragam wajah organisasi pemuda yang telah berkarya di masyarakat, penulis merasa yakin bahwa pemuda Indonesia masih dan akan menjadi social capital paling besar bagi masa depan Indonesia. Merekalah asa kita dalam rangka melunasi cita-cita bersama kemerdekaan, Indonesia yang lebih baik, berdaulat, makmur, dan sejahtera.

Goris Mustaqim

(Penulis adalah seorang wirausahawan dan wirausahawan sosial muda, Ketua Yayasan Asgar Muda, dan Ketua Panitia Indonesian Young Changemaker Summit 2012, Sumpah Pemuda Jilid 2.0)

Foto: Dok. Matanews.com


Berita Terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat surel Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *