Kilas Balik Jakarta, 38 Tahun yang Lalu

Ditulis oleh admin web   // Januari 28, 2012   // 0 komentar

soemitro

Raisa Rishya Renald Rinaldi - Mahasiswa Hukum 2009

Setiap hari memang selalu ada peristiwa yang terjadi di muka bumi ini. Minggu, 15 Januari lalu mungkin hari yang biasa-biasa saja bagi beberapa warga Jakarta, menikmati malam terakhir sebelum esok pagi kembali beraktifitas. Namun tidak 38 tahun yang lalu kata ayah saya saat kami berbincang-bincang sebelum makan siang. Ia menceritakan yang ia ketahui mengenai peristiwa ini, yang pada akhirnya membuat diri saya tertarik untuk mencari tahu dan menuliskannya disini.

Ya, tepatnya pada tanggal 15 Januari 1974 di Jakarta telah terjadi sebuah aksi heroik mahasiswa. Sejarah yang ditorehkan mahasiswa dalam bentuk peran kontrol sosial atas pemerintahan masa itu, rezim Orde Baru itu. Peristiwa tersebut terkenal dengan istilah MALAPETAKA LIMABELAS JANUARI (MALARI). Dari beberapa sumber yang saya baca, diketahui bahwa peristiwa ini terjadi karena beberapa hal. Namun yang utama adalah karena mahasiswa menganggap kebijakan pemerintahan Presiden Soeharto saat itu yang terlalu mengedepankan keadilan sosial diabaikan. Hal ini terlihat dengan peranan Jepang yang sangat menonjol karena investasi mereka meningkat pesat di Indonesia khususnya pada industri pabrik di daerah Jawa dimana hal tersebut menghambat pertumbuhan pengusaha pribumi. Malari mencapai puncaknya ketika PM Jepang Kakuei Tanaka datang ke Indonesia.

Beberapa daerah di Jakarta katanya (termasuk kata ayah saya) disulap menjadi penuh dengan asap hitam dan bara api yang berasal dari pembakaran mobil-mobil buatan Jepang, yang dibakar mahasiswa ditambah dengan ikut sertanya ribuan masyarakat ikut serta secara meluas menggunakan kesempatan untuk melakukan penjarahan sebagai simbol perlawanan atas hegemoni Jepang terhadap perekonomian Indonesia tersebut. Mahasiswa dalam gerakan ini menuntut perubahan strategi pembangunan dan pertumbuhan ekonomi yang dijalankan pemerintahan Orde Baru. Aksi mahasiswa dan masyarakat yang berujung kerusuhan tersebut mengakibatkan kurang lebih 11 orang meninggal dunia, 17 orang luka berat, 120 orang luka ringan dan 770 orang ditangkap. Hampir 1.000 kendaraan bermotor rusak dan 144 bangunan dirusak dan dibakar. Aksi tersebut juga berujung dengan diadili dan dipenjaranya antara lain 2 orang mahasiswa pada waktu itu, yaitu Hariman Siregar dan Sjachrir.

Siapa yang salah atau benar pada peristiwa tersebut bukan menjadi sorotan dalam tulisan ini. Namun disini saya ingin memperlihatkan sejarah di Indonesia yang digoreskan oleh Hariman Siregar dan kawan- mahasiswa memperlihatkan kekuatan mahasiswa di masa yang jelas-jelas masih dalam pemerintahan Orde Baru yang otoriter yang tidak memungkinkan terjadinya aksi-aksi demonstrasi. Terlepas dari gerakannya berhasil atau tidak, tetapi setidaknya para mahasiswa pada waktu itu telah berhasil mengekspreksikan pemikirannya akan ketidaksetujuannya terhadap pemerintah. Bahkan Jeffrey Winters, seorang profesor ekonomi politik di Northwestern University dalam bukunya “Power in Motion: Capital Mobility and the Indonesian State” mengatakan bahwa ketakutan terbesar para politikus Indonesia pada saat itu adalah pemberontakan dari jutaan orang miskin perkotaan dan pedesaan sebagai lanjutan dari peristiwa Malari tersebut.

Harapan kita, jangan sampai terulang kembali peristiwa seperti ini di negara Indonesia tercinta. Namun mari kita lihat sisi-sisi positif dari eksistensi mahasiswa saat itu. Ya, peduli dan berani serta bersatu padu membela kepentingan rakyat serta kepentingan bangsa dan negara. Mengapa demikian? Pertama, ingat Tri Dharma Perguruan Tinggi yang seharusnya dipenuhi oleh tiap individu mahasiswa. Kedua, ingat pula bahwa pembentuk negara salah satu elemen pentingnya adalah adanya rakyat, dimana mahasiswa merupakan bagian dari rakyat tersebut. Oleh karena itu, haruslah disadari permasalahan bangsa dan negara Indonesia adalah permasalahan juga bagi rakyatnya, juga bagi mahasiswa sebagai bagian dari rakyat Indonesia. Kalau mereka sudah melakukan apa yang bisa mereka lakukan di masanya, bagaimana dengan peran kita, mahasiswa di masa sekarang yang katanya masih merindukan kemenangan, mahasiswa yang katanya akan mempersembahkan jiwa dan raga, untuk negeri tercintanya atas segala permasalahan yang ada?


Berita Terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat surel Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *