Sebuah Ode Sastra Nyata yang Lelah Bermimpi

Ditulis oleh admin web   // Februari 19, 2012   // 0 komentar

summer-dream

ooo, telah lama sudah sastrawan ini tidak bersajak

menarikan kata, merangkai rima, menyulam bait dan kalimat

mungkin sudah lama sastrawan ini terlalu mondar mandir

hanya melihat peluh yang disisir, tertawa, hingga tertidur sekian lama

bangun?

enggan bangun kembali

lama, lama sudah sastrawan ini tertidur

hingga pada suatu akhir minggu seusai rintik

naluri mengetuk mimpi, tidur terendus, pertanda usai

sejenak menggeliat malas

kubuka catatan yang ia tulis dalam mimpi

begitu banyak cerita terlewat, begitu banyak dinamika yang tersapu

jangan lagi si tak bertuan ini, merangkai janji, menulis mimpi,

namun ketika semua lambaian tangan bersambut

si lemah ini malah tertidur

jangan lagi. jangan lagi.

begitu banyak teriakan disana.

begitu banyak panggung seremoni raja, membuat kawanan tupai lemah tersungkur

membuat kawanan keledai gemuk dan tikus hamil berada di atas singgasana

terlalu banyak gerak manis ke depan yang akan dihadapi.

duhai mimpi, jadilah realisasi.

berilah sentuhan indah, untuk alam yang berpindah,

agar dialektika tidak sekadar berhenti pada pijakan yang sama

agar kontradiksi hanya terpaut pada ranah alami

sastrawan.

buatlah kisah indah agar sandiwara ini tertulis kembali.

 

Pusgiwa UI, 19 Februari 2012

 

Teks : Anonim (Nama ada pada redaksi)


Berita Terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat surel Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *