Nonton Oke: Blockbuster (Part 1) – Sejarah

Ditulis oleh admin web   // Februari 29, 2012   // 1 komentar

Biarpun sekarang masih bulan Februari, namun saya hendak membahas tentang serunya bulan Juni dan Juli yang merupakan bulan liburan besar bagi pelajar serta mahasiswa di seluruh dunia, tidak terkecuali di Indonesia. Di dua bulan tersebut, sekolah dan berbagai institusi pendidikan serempak meliburkan aktivitasnya, menanti hari-hari menuju tahun akademik yang baru. Terlebih lagi dua bulan di pertengahan tahun tersebut juga memiliki kondisi cuaca yang bersahabat, cuaca kemarau yang tidak terlalu kering, ya level yang sedang-sedang saja. Di dunia pun, terutama di negara empat musim di belahan bumi utara (sayang sekali di belahan bumi selatan sedang musim dingin), bulan Juni dan Juli identik dengan puncak dari musim panas yang ceria.

Happy Ferdian, Mahasiswa FIB UI – Program Studi Sastra Inggris 2010

Di bulan Juni dan Juli juga merupakan saat dimana film-film megah dari berbagai pernjuru dunia, terutama Hollywood, diputar di seluruh dunia. Banyak perusahaan film dunia menempatkan pertengahan musim panas tersebut sebagai momen favorit untuk memutar film-film andalan mereka, film yang dibintangi bintang  besar, ber-budget besar, dan mudah-mudahan juga juga berpenghasilan besar. Fenomena seperti ini biasa disebut sebagai summer blockbuster.

Kenapa film-film laris ini sering disebut sebagai blockbuster? Banyak versi asal-usul istilah seperti ini, tapi satu yang pasti masuk akal adalah ketika blockbuster bermula di kala zaman teater masih populer karena belum adanya bioskop serta merujuk pada pertunjukan yang saking larisnya sehingga membuat bangkrut (dalam istilah bahasa Inggris = bust) teater atau pertunjukan lainnya di area (block) tersebut. Get it? Jadi begini secara mudahnya, dalam sebuah distrik pertunjukan kan terdiri dari banyak gedung teater dengan ciri khas masing-masing. Namun, ada satu pertunjukan di distrik tersebut sangat laris sehingga membuat pertunjukan-pertunjukan di sekitarnya sepi penonton yang akhirnya membuat mereka menjadi bangkrut (bust). Nah, si pertunjukan yang sukses berat dan membuat tetangga-tetangganya bangkrut ini disebut sebagai blockbuster. Masuk akal juga, kan?

Namun, sebutan summer blockbuster movie yang kita kenal sekarang ini aslinya dipelopori oleh sutradar kondang, Stephen Spielberg,dengan filmnya Jaws. Sebelumnya, pemasukan film murni diperoleh dari penjualan tiket saja setelah diputar dari satu bioskop ke bioskop lainnya. Namun Jaws menggunakan strategi marketing yang jitu sehingga menjadikannya sebagai film pertama dalam sejarah yang diputar serempak di 400 bioskop di seluruh Amerika. Film ini juga yang pertama kali melakukan promosi gencar-gencaran lewat berbagai media dan iklan yang akhirnya sukses menciptakan sebuah fenomena budaya yang baru. Untuk pertama kalinya, sebuah film bisa membuat geger seantero negeri Amerka dan menjadi pembicaraan hangt disaat yang sama pula. Jaws adalah film pertama yang meraih pemasukan 100 juta dollar. Sejak itu, banyak perusahaan film mulai mengekor, menggunakan strategi yang sama, merilis film di musim panas dan melakukan promosi besar-besaran tentang film yang bersangkutan. Dari sinilah istilah summer blocbuster menjadi sebuah genre film baru yang fenomenal hingga saat ini.


Berita Terkait

1 KOMENTAR

  1. By Bukan Komputer, November 14, 3511

    Blockbuster movies sekarang hanya mementingkan aksi dan teknologi mumpuni. Isi cerita, plot, dan aspek-aspek “terdidik” lainnya dilewati. Yang penting di summer itu filmya ringan, lucu, heroik, menarik, dan plotnya simpel, sehingga semua bisa haha hihi bareng di bioskop tanpa perlu banyak mikir. (Lha wong udah libur kok masih suruh mikir juga?) Udah gitu, keluar dari bioskop rata-rata komennya,”Uaaahh, keren yah pilemnya tadi!” Jadi, kurang-kurang dikit–entah di situ atau di sana–tidak berpengaruh. Itu urusan kritikus film, yang penting balik modal dulu, kekekek…

    Balas

Tinggalkan Balasan

Alamat surel Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *