Sebuah Kantong Budaya Bernama Komunitas Salihara

Ditulis oleh admin web   // Maret 5, 2012   // 0 komentar

gedung-salihara-1

Logo Komunitas Salihara

Bila kita pergi ke daerah Salihara, Pasar Minggu, Jakarta Selatan, tidak lengkap rasanya jika kita tidak mengunjungi tempat bermuaranya segala jenis kreatifitas budaya dan seni anak bangsa yang bernama komunitas Salihara.

Berdiri di atas sebidang tanah seluas sekitar 3.060 m2 di Jalan Salihara 16, Pasar Minggu, Jakarta Selatan, komunitas ini memiliki segudang kegiatan dalam bidang seni yang mencakup teater salihara, galeri salihara, dan beragam kegiatan seni lainnya.

Berawal dari komunitas utan kayu yang diprakarsai oleh sebagian pengasuh majalah Tempo pada tahun 1995, komunitas ini berkembang dan bertransformasi guna memperluas aktifitasnya dengan membangun kompleks komunitas Salihara.

Sebagaimana komunitas lain pada umumnya, komunitas Salihara hadir dan berkembang guna menampung kreativitas seni dan menjadi wadah bagi para seniman untuk berkumpul dan mengekspresikan naluri seninya. “ Seperti halnya Taman Ismail Marzuki, kami hadir disini dengan format yang hampir sama. Hanya saja jika Taman Ismail Marzuki milik pemerintah, kami adalah swastanya,” terang Melan fitria, bagian media komunitas salihara.

Beragam acara telah banyak sekali diselenggarakan komunitas yang dulunya bernama komunitas Utan Kayu ini. Beberapa acara yang telah dan akan diadakan diantaranya pameran foto, diskusi, dan kuliah umum. Selain itu, ada pula pemutaran film, pementasan musik, hingga  pagelaran tari. Acara-acara tersebut terbuka untuk umum dengan membeli tiket sesuai dengan harga yang ditetapkan.

Kendati sebuah komunitas, bukan berarti orang-orang yang ingin bergabung didalamnya harus melalui tahap rekrutmen terlebih dahulu. Dalam komunitas ini, setiap orang berhak untuk bergabung secara langsung dengan cara mengunjungi kompleks komunitas Salihara tersebut. ”Komunitas ini bukanlah komunitas yang memiliki strktur organisasi seperti komunitas lain pada umumnya. Memang ada struktur kepengurusannya, tapi siapapun yang ingin bergabung tidak harus melalui tahap rekrutmen terlebih dulu,“ ungkap Melan kepada Suara Mahasiswa.

Sebagai kantong seni dan budaya, Komunitas Salihara akan terus tumbuh bersama khalayak yang makin cerdas, terbuka, dan demokratis. Para pengelolanya percaya bahwa kepiawaian di bidang seni adalah investasi yang tak ternilai bagi pertumbuhan anak-anak bangsa sejak hari ini.

Teks: Marcha Adiwara Prawita

Foto: http://salihara.org


Berita Terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat surel Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *