Jangan Dulu Meracau soal BBM bila pandir

Ditulis oleh admin web   // Maret 22, 2012   // 30 komentar

bbm-pertamina

opini oleh Dimas Budisatyo, mahasiswa FE UI

Akhir akhir ini melihat penayangan berita mengenai BBM seolah olah saya mengalami flashback kembali pada masa menjabat sebagai staf departemen kajian strategis badan eksekutif mahasiswa fakultas ekonomi UI. Saat dahulu kami di kastrat masih sering berunding, berujar, dan berkumpul membicarakan masalah BBM yang benar benar memusingkan. Sedih rasanya apabila para mahasiswa yang saya lihat demo turun ke jalan berucap kenaikan BBM harus ditolak. Karena tentunya, citra mahasiswa yang seharusnya akademis dan cendekia seolah runtuh karena postulat harga BBM yang naik akan merugikan rakyat Indonesia.

Jika sopan saya bertanya, Siapa “rakyat Indonesia yang dirugikan” yang kalian maksud? Rakyat miskin kah? Atau malah mereka yang angkring angkring santai di kursi seharga 20 juta per buah dan mengklaim mereka wakil rakyat? Atau mungkin para korporat yang sering kalian bilang anjing kapitalis?. Faktanya… 70% subsidi BBM senilai hampir 400 triliun rupiah per tahun dan jumlahnya hampir setengah dari total keseluruhan pendapatan negara kita dinikmati oleh kaum yang menggunakan mobil dan kendaraan bermotor, yang notabene pendapatan per harinya lebih dari 2 USD dan secara kontekstual kehidupannya tidak miskin. Bukan seperti yang ada dalam benak  common sense rekan rekan mahasiswa pada umumnya bahwa rakyat yang menikmati subsidi BBM adalah rakyat yang tiap hari jalan nyeker, memanggul karung goni berisi barang rongsokan yang siap diloak sebagai penguat identitas bahwa mereka miskin. Rakyat miskin yang petani, nelayan, dan pelayan itu hanya ikut andil mencicipi 30% saja, sisanya?, menguap bersama hembusan napas lega koruptor, pejabat nakal, korporat doyan duit, penyuap dan bahkan geng motor.

Lihat saja wakil rakyat kita, pendapatannya bahkan diatas 2 USD per hari, dan ini merupakan indikasi wakil rakyat kita bukan representasi seluruh rakyat kita yang 60% miskin dengan pendapatan kurang atau sama dengan 2 USD per hari. Belum lagi ditambah dengan Korporat dan staf pekerjanya yang sejahtera, tentu dari jaminan pekerjaan dan jabatannya, pendapatannya lebih dari 2 USD per hari. Secara nyata kehidupannya juga tidak miskin miskin amat, karena rumah mereka hampir tidak mungkin berdinding gedhek, beratapkan jerami dan beralaskan tanah. Mereka termasuk kalangan atas yang berpendapatan diatas 2 USD per hari dan menguasai hampir 85% perputaran uang nasional. Mereka juga yang menikmati 70% dari subsidi BBM senilai 400 trilliun dari negara, dan mereka juga yang paling santai mengurusi kemampuan daya beli yang menurun akibat inflasi, toh mereka akan tetap bisa membeli tas bermerk Luis Vuitton, bermobil Mercy, menggunakan MacBook Pro, dan menggenggam iPhone.

Coba bandingkan dengan petani garam yang miskin di Madura. Sehari saja terik batara surya labil, maka bisa dipastikan menu makanan mereka hari itu hanya nasi aking dan lauk seadanya lantaran mereka tidak bisa memanen garam. ditambah lagi persoalan garam mereka yang dipersaingkan dengan garam yang diimpor oleh negara. Belum lagi dengan nelayan di penghujung pantai barat Sulawesi. Sehari saja ombak tidak bersahabat, maka esoknya bisa dipastikan bahwa tidak ada asap yang berkebul dari dapur rumahnya. Persoalannya biaya hidup mereka bahkan tidak dapat dijangkau oleh pendapatan mereka yang kurang dari 2 USD per hari.

Mereka inikah yang terdampak kenaikan BBM? Oh jelas,… pengurangan subsidi BBM akan membuat nelayan semakin sulit melaut, petani garam sulit ke pasar lantaran biaya transportasi yang naik. Mereka perlahan akan mati jika mahasiswa yang superhero tidak berdemo dan turun ke jalan. Tapi ini pandangan dulu… pandangan ketika mahasiswa merasa harus jadi superhero membela sasaran yang tidak tepat sasaran. Nyatanya kaum ini hanya mengkonsumsi sebagian kecil BBM bersubsidi. 30% angka tepatnya, bahkan mungkin kurang dari itu. Yang ditakutkan mungkin hanya trickle- down effect yang terjadi pasca kenaikan harga BBM dan diikuti oleh kenaikan harga komoditas lainnya.

Yang terjadi dalam hati mahasiswa saat ini adalah short panic moment ketika semua harga dipastikan naik dan tiada mampu turun lagi. Bahayanya hal ini mungkin lebih menjadi phobia pengurangan subsidi di mata mahasiswa. Apa sebabnya? Ya harga yang melonjak… yaa kenaikan harga kopi di warteg, dan bahkan mungkin biaya transportasi antar jemput pacar. Semuanya terbentuk akibat pengalaman psikologis rakyat Indonesia dan mahasiswa khususnya karena kenaikan BBM di tahun 2004 silam. Secara mengejutkan, BBM naik hingga 300% dan ikut mendongkrak kenaikan inflasi sebesar 35% y-o-y di tahun yang sama. Semuanya terbentuk karena kecenderungan psikologis, perasaan terancam dan takut mati akibat kenaikan BBM. Hal ini yang kurang disadari dan dipelajari.

Apabila ditinjau secara logis. Subsidi BBM adalah subsidi paling konyol di dunia akhirat. Minyak mentah jenis brent, light sweet dan nymex kian melonjak harganya hingga mencapai lebih dari 110 USD per barel dan akan terus naik seiring semakin panasnya konflik di timur tengah. Apabila negara terus terusan melakukan subsidi bodoh ini, maka akibatnya fatal. Pembangunan di sector lain tidak jalan, public service offering juga mandek. Akibatnya jalan jalan rusak, Investasi terhambat, pengangguran bertambah, dan bahkan KRL semakin jarang bisa beroperasi. Hal ini akan berlangsung dalam jangka panjang apabila negara tidak segera mengurangi subsidi BBM. Proyeksi hitungan markov saya, kalo tidak salah, penurunan sekitar 3-3,5% dalam GDP growth selama sepuluh tahun ini akan terakumulasi. Tentunya ini buruk, bahkan sangat buruk. Di masa depan, apabila sampai nanti tahun 2016 harga BBM segini gini aja akan berdampak pada kondisi nantinya saat tahun 2020-an, masa kita yang mahasiswa ini naik tahta ke kursi anggota DPR, kita akan mengalami resesi sekali lagi seperti jaman tahun 1998 lampau. Bodoh apabila kita membiarkan negara kita reses di masa depan, dan membiarkan lebih banyak lagi rakyat yang jatuh dalam lingkaran pendapatan kurang dari 2 USD per hari.

Rekomendasi saya, lebih baik saat ini harga BBM kita naikkan, hingga nanti pada akhirnya mereka yang berpendapatan kurang dari 2 USD itu mendapatkan kompensasi atas kenaikan harga BBM berupa pelayanan public yang menjamin kesejahteraan hidup mereka. Pelayanan ini tentunya harus menjamin kesejahteraan dan kebutuhan sandang, pangan, papan dan kesehatan mereka. Dan kepada para mahasiswa rekan rekan saya, alangkah baiknya apabila sejenak kita diam tanpa suara, membaca lagi arah angin dan melihat kedepan kondisi negara kita. Jangan hanya berujar tapi landasi ujaran kita dengan hitungan hitungan yang intelektual.

Salam…


Berita Terkait

30 KOMENTARS

  1. By mus, September 26, 3752

    mas, kalo dinaikkan juga percuma kan ? nanti itu BBM bersubsidi dinikmati juga oleh kalangan atas, sedangkan kalangan bawah yg seakan-akan mengemis membeli BBM yg sekarang disubsidi..
    inget loh mungkin bagi mas sendiri yang mempunyai ekonomi diatas rata2 dengan mudah bilang “udah naikkan saja, ganti BLT dansebagainya”..
    tapi implikasinya akan berdampak kenaikan bahan pokok, dan mas itu sudut pandang penglihatan yang sering dilihat yaitu jakarta..
    tapi jumlah penduduk jakarta itu ga sampe 10% loh dari warga indonesia, jadi meski warga miskin (misal di daerah terpencil) ga membeli BBM yang dirasakan ialah biaya untuk membeli makanan.. oh iya BLT itu bukan solusi dalam hal ini, tapi BLT adalah solusi bikin Indonesia makin malas dan HANCUR sebagai indikator negara pengemis

    Balas
  2. By berly ft'96, September 26, 3753

    Mas Dimas ysh, saya lihat anda banyak berargumentasi mengenai ketidaktepat sasaran dari ‘subsidi’ selama ini. Kalau saya lihat, konsumsi terbesar BBM sampai saat ini adalah kendaraan bermotor, mungkin ansa bisa cek jg sendiri.

    Nah, kenapa ga kreatif sedikit. Supaya efek kenaikan BBM ga trickle down ke semua harga lain, kenapa ga pajak kendaraan bermotornya aja dinaikkan, 100% misalnya. Anggap ini adalah pembayaran subsidi prabayar (prepaid), BBM sendiri ga perlu dinaikkan.

    Kenapa harga BBM ga oerlu dinaikkan karena pengalaman waktu harga bbm naik dulu, inflasi naik. Tapi ketika harga BBM diturunkan lagu, apakah inflasi jadi turun? Ternyata harga barang tidak bersifat elastis mengikuti harga BBM. Perlu anda perhatikan juga bahwa pasar di Indonesia rupanya sangat tidak efisien, banyak distorsi dan asymmetrical information. Harga bahan baku bukan penentu utama harga produk akhir. Kenapa? Biar yg terakhir ini jadi PR anda yg ahli ekonomi.

    ditunggu tanggapannya

    Balas
    • By Suara mahasiswa, September 26, 3774

      kalo pendapat ini bilang “gimana kalau dinaikkan pajak kendaraan bermotor jadi 1OO % ”
      kalau seinget saya , pajak kendaraan bermotor itu masuk ke PDRD [ pajak daerah dan retribusi daerah] . jelas hasilnya untuk kepentingan daerah kaya bangun jalan , penerangan , fasilitas publik . ga ada korelasi yang pas kalo PKB naik trus harga BBM bisa tetap di subsidi . karena posisi PKB itu untuk membiayai kepentingan daerah bukan untuk membiayai kepentingan nasional .

      lain ceritanya kalau PKB masuk ke ranah pajak yang dipungut pemerintah pusat , menaikkan tarif PKB ini bisa jadi solusi .

      Balas
    • By dimas budisatyo, yang nulis, September 26, 3778

      terimakasih atas sarannya bung berly.

      pada intinya mekanisme tersebut bisa saja dilakukan asalkan ada regulasi yang mengatur bahwa PKB tidak termasuk dalam PAD. dan dipungut oleh pemerintah pusat. masalah yang kta bicarakan sebenarnya sudah menemui satu sudut pandang yang sama, yaitu,”bagaimana men-disinsentif pengguna kendaraan bermontor dan mengalihkan alternatif transportasi mereka kepada public transportation yang lebih efisien dengan cara menginsentif penggunaan public transport?” jika berujung pada regulasi baru seperti ini, ongkos birokrasinya lama lagi. sebenarnya saya sangat mengapresiasi saran anda, bagus sekali. namun penerapannya cukup sulit. tidak feasible dalam konteks regulasi negara kita.

      sebenarnya, apabila kita berdiskusi mengenai konsepsi assymetric information dalam mekanisme pasar indonesia tampaklah jelas bahwa faktor yang menimbulkan hal tersebut adalah spekulasi pasar. Sejak dulu, hambatan geografis Indonesia menjadikan pelaku bisnis di negara kita berspekulasi karena resiko produksi dan distribusi atas dasar hambatan geografis tsb begitu besar. saat ini, pola perilaku spekulatif sayangnya tetap dipertahankan. membaca penuturan yang telah di sampaikan oleh Rangga (aktivis pers mahasiswa UGM) di komen bawah, bahwa kawannya sudah membeli BBM dgn harga 9000 merupakan bukti nyata betapa faktor psikologis, media dan pemberitaan nasional mempengaruhi distorsi dalam pasar kita.

      lucunya, harga yang sudah naik tidak elastis dan turun lagi apabila inflasi menurun. terlebih lagi apabila perbandingannya elastisitas harga barang secara umum dan elastisitas harga BBM, tentu kita tidak kunjung menemukan korelasi positif ketika tren harga BBM naik, barang2 (dalam hal ini consumer price index, CPI) naik dan ketika harga BBM turun, CPI tetap pada level sebelumnya. dilihat dari kacamata makroekonomi, sebenarnya saat BBM naik maka kemampuan daya beli uang kita secara riil menurun, meskipun nilai moneternya (nilai nominalnya) masih segitu-gitu aja. oleh karena itu harga2 baik secara nominal dan riil juga naik. ketika harga BBM turun, nilai riil dari BBM turun, nilai nominalnya juga ikut turun. lain halnya dengan CPI, ketika BBM yang notabene faktor produksi turun nilai riil-nya, maka harga barang akan tetap. hal ini dikarenakan aksi pedagang yang ingin meraup margin untung lebih besar atas penurunan nilai riil faktor produksinya dengan sengaja membiarkan asumsi assymetric information dalam pasar berkembang.

      mungkin saya cukupkan analisa saya ttg mekanisme pasar. hendaknya saya yang bodoh dan masih belajar ini diberikan saran, kritik, dan masukan yang membangun agar lebih bijak berujar.

      akhir kata,…

      wassalam

      Balas
  3. By Benny Singodimejo, September 26, 3754

    Bung Dimas yang masih muda dan cerdas serta progresif, hitung2an anda tidak salah dalam kacamata ekonomi makro. Namun ada baiknya anda pelajari lagi soal konstitusi sebagai dasar negara dan konsep negara yang paling sederhana saja seperti Kant atau Montesquieu. Terlalu berat anda belajar Lenin atau Marx. Untuk apa dan siapa, serta bagaimana negara itu seharusnya. Negara kita dijarah habis2an dan pemerintahnya hari ini cuma jadi kambing congek imperialisme asing, anda malah asyik2 makan duit rakyat dengan menikmati subsidi di UI. Jangan terlalu bangga dengan UI mu itu. atau otakmu yang cuma sebelah yang bekerja, perbaiki dulu otak dan hatimu kemudian berbicaralah secara intelektual. Maaf intelektualitas saya hilang setelah membaca tulisan konyolmu.Pergi kau ke amerika sana, ganti kewarganegaraanmu.

    Balas
  4. By rakyat pandir, September 26, 3758

    Mas, mahasiswa FEUI yang pinter keminter
    Coba periksa lagi deh statistiknya
    Emang ada bahan kebutuhan hidup masyarakat yang gak tersangkut BBM?
    Nah kalo semua harga barang2x naik karena BBM naik, maka statistik 30% itu pembenarannya bagaimana?
    Lagipula ukuran2x yang dipake dalam statistik yang anda pakai apa gak keterlaluan ngaconya tuh. Kalo miskin itu pake ukuran 540 ribu sebulan, maka yang 545 ribu sebulan udah kaya gitu?
    Coba cek berapa jumlah motor dibanding mobil, apa bener yang pake motor itu orang kaya? Pernah lakukan riset gak, gimana sekarang ini mayoritas rakyat berpendapatan rendah juga menggunakan motor karena gak ada alternatif transportasi buat mereka pergi kerja dan beraktifitas.

    Lalu soal tepat sasaran. Kalau memang mas bener pinter. TOLONG dong dibuka data resmi tentang biaya yang dikeluarkan untuk program penanganan kemiskinan yang katanya tepat sasaran itu? Berapa yang dibayar untuk konsultan2x kemiskinan — yang banyak buanget anak FEUI — dibandingkan dengan yang diberikan ke orang miskin. Apa itu secara moral dan substansial gak lebih SALAH SASARAN, ngasih duit receh buat orang miskin tapi ngasih makan Ekonom Kaya dari kantong yang sama?

    BBM itu komoditas vital dan strategis mas, belum ada alternatifnya dalam corak ekonomi yang kita jalankan sekarang. Kalau udah ada boleh lah bilang kita ini gila tergila-gila BBM. Lha kalau selama ini gak pernah ada pembangunan alternatif energi massal dan alternatif model ekonomi, lha ya kok kita rakyat miskin yang protes pencabutan subsidi yang dibilang PANDIR.

    Tapi gak apa lah, kita jadi tahu Orang Pinter di FEUI, pengen kita semua jadi SASARAN kan? Sasaran Kemiskinan Kronis (oh ya mas pasti belajar dong tentang jenis2 kemiskinan) dan Kesenjangan Ekonomi yang Makin Gila setiap kenaikan BBM dan pencabutan subsidi dilakukan.
    Orang Pinter Pilih Cabut SUBSIDI, Orang Miskin Pilih Cabut Senjata!

    Rakyat Pandir

    Balas
  5. By Rangga Kusuma Jati, September 26, 3760

    SAYA MENUDUH DIMAS BUDISATYOLAH YANG PANDIR

    Rangga Kusuma Jati
    Aktivis Pers Mahasiswa Balairung Universitas Gajah Mada

    Seorang teman di dari muara enim menelpon dan bercerita bahwa harga bensin di tempatnya adalah Rp. 9000,00 perliter. Padahal harga saat ini eceran resmi perliter untuk bensin Cuma Rp 4500, 00. Ini baru isu kenaikan BBM bensi sudah melejit begitu tingginya. Pertanyaanya inikah yang dimaksud dimas rakyat kecil dan miskin tidak mendapat akibat dari kenaikan BBM. Ada banyak hal yang tak dapat dibantah jika harga BBM dinaikkan: kenaikan itu akan menambah sulit kehidupan rakyat. Dalam beberapa tahun terakhir, terutama sejak SBY menjadi Presiden, tingkat kesejahteraan rakyat Indonesia makin merosot. Bahan bakar minyak, seperti juga kebutuhan pangan dan sandang, merupakan kebutuhan pokok rakyat. Banyak sekali aktivitas keseharian rakyat, dari persoalan di dapur, bepergian (transportasi), hingga berproduksi, sangat bergantung pada ketersediaan BBM.

    Oke kalau yang di untungkan adalah kaum menengah menurut dimas skarang kita melakukan itung-itungan
    Indonesia menghasilkan 930.000 Barel/hari, 1 Barel = 159 liter
    Harga Minyak Mentah = 105 USD per Barel
    Biaya Lifting + Refining + Transporting (LRT) 10 USD per Barel
    = (10/159) x Rp.9000 = Rp. 566 per Liter
    Biaya LRT untuk 63 Milyar Liter
    = 63 Milyar x Rp.566,- = Rp. 35,658 trilyun
    Lifting = 930.000 barel per hari,
    atau = 930.000 x 365 = 339,450 juta barel per tahun
    Hak Indonesia adalah 70%, maka = 237,615 Juta Barel per tahun
    Konsumsi BBM di Indonesia = 63 Milyar Liter per tahun,
    atau dibagi dengan 159 = 396,226 juta barel per tahun
    Pertamina memperoleh dari Konsumen :
    = Rp 63 Milyar Liter x Rp.4500,-
    = Rp. 283,5 Trilyun
    Pertamina membeli dari Pemerintah
    = 237,615 Juta barel @USD 105 x Rp. 9000,-
    = Rp. 224,546 Trilyun
    Kekurangan yang harus di IMPOR
    = Konsumsi BBM di Indonesia – Pembelian Pertamina ke pemerintah = 158,611 Juta barel
    = 158,611 juta barel @USD 105 x Rp. 9000,-
    = Rp. 149,887 Trilyun
    KESIMPULAN: ‎
    Pertamina memperoleh hasil penjualan BBM premium sebanyak 63 Milyar liter dengan harga Rp.4500,- yang hasilnya Rp. 283,5 Trilyun.
    Pertamina harus impor dari Pasar Internasional Rp. 149,887 Trilyun
    Pertamina membeli dari Pemerintah Rp. 224,546 Trilyun
    Pertamina mengeluarkan uang untuk LRT 63 Milyar Liter @Rp.566,-
    = Rp. 35,658 Trilyun
    Jumlah pengeluaran Pertamina Rp. 410,091 trilyun
    Pertamina kekurangan uang, maka Pemerintah yang membayar kekurangan ini yang di Indonesia pembayaran kekurangan ini di sebut “SUBSIDI”
    Kekurangan yang dibayar pemerintah (SUBSIDI) = Jumlah pengeluaran Pertamina dikurangi dengan hasil penjualan Pertamina BBM kebutuhan di Indonesia
    = Rp. 410,091 trilyun – Rp. 283,5 Trilyun
    = Rp. 126,591 trilyun
    Tapi ingat, Pemerintah juga memperoleh hasil penjualan juga kepada Pertamina (karena Pertamina juga membeli dari pemerintah) sebesar Rp. 224,546 trilyun. Catatan Penting: hal inilah yang tidak pernah disampaikan oleh Pemerintah kepada masyarakat.
    Maka kesimpulannya adalah pemerintah malah kelebihan uang, yaitu sebesar perolehan hasil penjualan ke pertamina – kekurangan yang dibayar Pemerintah (subsidi)
    = Rp. 224,546 Trilyun – Rp. 126,591 Trilyun
    = Rp. 97,955 Trilyun
    Artinya, APBN tidak Jebol justru saya jadi bertanya: dimana sisa uang keuntungan SBY jual BBM Sebesar Rp. 97,955 trilyun, itu baru hitungan 1 tahun. Dimana uang rakyat yang merupakan keuntungan SBY jual BBM selama 7 tahun kekuasaannya?
    Disini terang bahwa dimas yang seolah intelektual ini sama sekali tidak memahami persoalan rakyat, dia hanya mahasiswa yang benar benar tidak mengenal dan dekat dengan kehidupan rakyat jelata atau rakyat miskin. Skarang pertanyaanya lagi Siapakah yang Pandir, saya pastikan Dimaslah Yang Pandir.

    Mayoritas rakyat Indonesia sangat bergantung pada harga BBM bersubsidi. Menurut data BPS—yang dikutip oleh ekonom Hendri Saparini, 65% BBM bersubsidi dinikmati oleh kalangan menengah ke bawah (berpendapatan 4 dollar AS hingga 2 dollar AS per-hari); 27% oleh klas menengah; 6 % oleh klas menengah atas; dan 2% orang kaya. Versi lain juga menyebutkan bahwa 64% BBM bersubsidi digunakan oleh sepeda motor.
    Kenaikan harga BBM akan sangat berdampak pada kehidupan Rakyat secara luas. Pertama, kenaikan harga BBM akan memicu kenaikan biaya produksi. Biaya produksi yang naik meliputi: pembelian BBM, harga bahan baku yang bergantung pada BBM, dan lain-lain. Dan, tentu saja, kegiatan produksi yang paling terpukul adalah usaha produksi kecil dan menengah. Sektor itu paling banyak dijalankan oleh kaum marhaen.
    Kenaikan harga BBM juga memicu kenaikan ongkos distribusi. Dengan demikian, usaha kecil akan terpukul dua kali: kenaikan ongkos produksi dan kenaikan biaya distribusi. Sehingga, bagi usaha kecil dan pedagang kecil, tidak ada pilihan lain selain menaikkan harga jual. Di sinilah masalahnya: jika mereka menaikkan harga, maka pembeli tentu akan berkurang. Akibatnyak, banyak usaha kecil dan menengah akan gulung tikar.
    Kedua, kenaikan harga BBM akan menaikkan biaya transportasi. Kaum marhaen harus menambah pengeluaran untuk keperluan transportasi: ongkos bepergian, transportasi berangkat ke tempat kerja, dan ongkos transportasi anak bersekolah.
    Rakyat Indonesia juga banyak menggunakan kendaraan bermotor untuk menghemat ongkos transportasi. Tentunya, mereka harus menyisihkan lebih banyak anggaran untuk membeli bahan bakar. Demikian pula dengan kaum marhaen yang menggunakan motor sebagai alat mencari penghasilan, seperti tukang ojek, tukang antar barang, dan lain-lain.
    Ketiga, Rakyat Indonesia harus memikul kenaikan harga-harga barang, khususnya sembako, sebagai akibat kenaikan harga BBM. Sebelum kenaikan harga BBM saja, sejumlah kebutuhan pokok di berbagai daerah sudah merangkak naik. Apalagi jika harga BBM benar-benar sudah dinaikkan.

    Padahal, sebelum rencana kenaikan harga BBM ini, Rakyat sudah mengalami penurunan daya beli. Kaum proletar, misalnya, akibat serangan neoliberal terhadap kondisi kerja, mengalami kejatuhan upah riil. Sebagian besar pekerja juga dipaksa bekerja di bawah kondisi kerja yang serba tidak pasti: sistem kerja kontrak dan outsourcing. Di pedesaan, seperti dicatat BPS pada tahun 2012 ini, daya beli kaum tani di pedesaan mengalami penurunan sebesar 0,02%.
    Menurut Agustinus Prasetyantoko, ekonom dari Universitas Atmajaya, jika pertumbuhan ekonomi lebih rendah dari inflasi, maka akan berdampak terhadap tingkat kesejahteraan 80-90% rakyat yang tingkat daya belinya sangat rentan dengan kenaikan harga. Sementara ekonom lain, Yanuar Risky, memperkirakan 90% rakyat Indonesia akan mengalami penurunan daya beli.
    Dengan demikian, Rakyat Indonesia tidak bisa tinggal diam. Sudah saatnya rakyat Indonesia, khususnya kaum marhaen, mengorganisir perlawanan di pabrik-pabrik, di kampung-kampung, di desa-desa, dan di pasar-pasar. Rakyat Indonesia harus bergerak bukan hanya memprotes kenaikan BBM, tetapi menentang sistem ekonomi-politik yang terus mengkondisikan hidup rakyat menjadi susah. Rakyat harus menghentikan neoliberalisme! Sudah saatnya sistem ekonomi Indonesia, termasuk pengelolaan energi, dikembalikan pada semangat pasal 33 UUD 1945.

    Dari analiassa diatas TEGAS saya menuduh DIMAS BUDISATYO adalah seorang pandir yang sok Intelektual. Ya beginilah produk pendidikan ala liberalisasi di indonesia, seorang mahasiswa Pandir yang tidak tahu realita akan bangsanya.
    Salam

    Balas
    • By Fadhil Muhammad, September 26, 3768

      Fadhil Muhammad
      Mahasiswa FEUI 2009

      Assalamu’alaikum mas Rangga,, sebelumnya saya ingin mengucapkan terima kasih atas komentarnya di tulisan ini dan memaparkan perhitungan yang mudah2an berdasarkan data yang akurat. tapi ada beberapa hal yang kurang saya pahami dari komentar mas rangga. didalam komentar ini mas rangga menanyakan dimana keuntungan hasil penjualan BBM, dan dari tulisan komentar ini ide yang saya tangkap ialah karena penjualan BBM masih menghasilkan profit lantas pemerintah tidak perlu menaikkan BBM karena penjualan BBM sendiri masih profitable.
      saya sangat tidak setuju dengan Ide ini karena akar permasalahan disini bukanlah penjualan BBM itu profitable atau tidak, tentu saja penjualan BBM harus profitable karena dari profit itulah pemerintah membiayai pengeluarannya dan merupakan salah satu penerimaan pemerintah dari sektor non pajak. semakin profitable penjualan BBM ini makan akan semakin bagus, dengan begitu pemerintah akan mampu menambah pengeluarannya sehingga meningkatkan GDP negara kita. membangun infrastruktur dan meningkatkan kualitas SDM melalui pendidikan.
      bukan karena hasil BBM masih profitable lantas Subsidi BBM masih layak dipertahankan, itu suatu pemikiran yang salah.
      kenaikan harga BBM tidak akan bisa dibendung… ini perlu digaris bawahi. karena BBM merupakan SDA yang tidak dapat diperbaharui, harga minyak dunia ditaksir akan terus meningkat,, dan seiring bertambahnya jumlah penduduk, jumlah kendaraan akan bertambah, mas rangga bisa mencari sendiri data statistiknya, jika jumlah kendaraan bertambah dan masyarakat makin banyak, konsumsi BBM akan meningkat. walau pemerintah tidak menambah anggaran subsisdi ini sendiri, harga BBM itu sendiri juga akan meningkat dengan sendirinya. lantas apakah yang mas rangga maksudkan ialah pemerintah harus terus mempertahankan harga Premium 4500 ? berarti dari tahun ke tahun tingkat subisi harus ditambah.. dan kita sepakat subsidi BBM bukanlah pengeluaran pemerintah yang produktif untuk meningkatkan welfare masyarakat dalam jangka panjang.
      pokok point yang harus kita pikirkan disisni ialah bagaimana caranya efect cost push inflation dari kenaikan BBM ini tidak terlalu membebani masyarakat kecil dan bagaimana agar alokasi subisidi BBM ini lebih tepat sasaran untuk menolong rakyat yang ekonominya dibawah rata-rata.
      jika point analisa kita tertuju untuk menganalisa apakah harga BBM harus naik atau tidak, analisa secerdas apapun akan sia-sia,, karena pada hakikatnya harga BBM itu akan naik dengan sendirinya, karena harga BBM sekarang bukanlah harga pada keadaaan equilibrium yang sebenarnya.. sekarang,, 1 tahun lagi,, 2 tahun lagii… BBM akan tetap naik.. percuma kita menganalisa itu semua..
      sekian komentar dari saya,, bukan bermaksud menyudutkan, saya hanya ingin menyampaikan aspirasi saya pribadi terhadap permasalahan ini :)

      Balas
    • By Suara mahasiswa, September 26, 3773

      Sebelumnya saya salut sama pemikiran mas rangga dari UGM . tapi Sebelum anda bicara , ada baiknya apa yang anda dapat dari analisis yang persis sama dengan KKG diolah terlebih dahulu . jangan cuma copy paste ya mas . jangan cuma di telan mentah mentah . baca juga dari sudut pandang ekonom lain.

      jadi gini dalam hitung2anya, mas rangga ini menempatkan subsidi BBM pada neraca yang terpisah dari APBN . kalau dilihat memakai cara begitu , tentu saja pasti surplus dong . dan dari surplus ini tentu dengan mudah membuat kita berpikir bahwa subsidi harus tetap ada , bahkan dinaikkan . lha wong surplus.

      tapi subsidi tidak berdiri sendiri mas dalam APBN . impor BBM dibeli make APBN dan hasil penjualan yang surplus nantinya digunakan untuk kepentingan APBN juga . surplus penjualan BBM oleh pemerintah nantinya akan dialokasikan untuk belanja pemerintah lainnya seperti pembangunan,pendidikan dan kesehatan . kalau BBM tetap di subsidi di harga yang sekarang [45OO], lama lama APBN bisa jebol mas . bisa defisit yang luar biasa . uang negara bisa habis cuma buat subsidi karena tiap tahun pembelian atau impor BBM yang make harga internasional pasti naik . terus dana buat pembangunannya darimana? utang LN ? kalau pake utang LN terus2an , APBN penuh sama utang dong mas . yang makin lama makin besar .negara kita jadi makin ga sehat keuangannya .
      terus hasil terburuknya apa? negara hancur mas. dan kemungkinan terburuk bisa saja negara kita di jual .

      poin lain yang membuat subsidi layak dikurangi adalah bahwa subsidi tidak tepat sasaran . lihat sendiri tidak ada pola distribusi yang jelas , mana yang buat orang tidak mampu mana juga yang buat orang mampu .
      subsidi memang efeknya baik untuk jangka pendek tapi untuk jangka panjang efeknya hampir tidak ada .

      Balas
      • By dimas budisatyo, yang nulis, September 26, 3777

        mas rangga dari UGM, makasi yaa sudah membaca tulisan saya. terutama makasi dalam memberi saya predikat. saya sangat mengapresiasi anda.

        oia, mengenai kawan anda yang beli BBM dgn harga 9000. sebelumnya saya harap anda mengkaji terlebih dahulu teori tentang konsep assymetric information dan distorsi dalam pasar. anda tentu sebelumnya menilai bahwa elastisitas harga bbm berbanding terbalik dengan daya beli. padahal nyatanya tidak selalu, jika anda kaji secara mendalam, sistem pasar kita tidak efisien, persis seperti yang diutarakan oleh bung berly ft’96. oleh karena pasar kita menciptakan mekanisme harga bukan hanya karena faktor rasional seperti harga bahan mentah, ongkos mesin melainkan adanya perilaku spekulan dalam pasar. karena market kita terlalu psichologically sensitive.

        saya mengapresiasi anda yang berani memberikan predikat dengan disertai argumentasi dan analisa. sungguh pada hakikatnya anda memiliki kepribadian seorang mahasiswa idaman.

        namun yang perlu anda perhatikan, berdasarkan data apapun kita berpijak, alangkah baiknya apabila data tersebut diolah menjadi informasi yang tepat guna. pertimbangan mengenai target infrastruktur luput dari penghitungan anda. monggo anda kaji ulang data anda. semoga saran dari teman2 diskusi dalam forum ini make sense bagi anda. data ini sudah saya baca, KKG memang politis ketika menyampaikan rasionalisasi data2 ini, tetapi berulang kali saya katakan, tidaklah penting hitungan surplus dana yang jumlahnya 100 Trilyun itu apabila interpretasinya salah. lagipula, kalo anda juga masih punya hati nurani, kebutuhan rakyat tentu mampu kita baca bersama. jawabnya apa? ya!, INFRASTRUKTUR sodaraa… kita bahkan ga akan menilai pentingnya APBN surplus atau defisit apabila kita tidak mengetahui urgensi alokasi dana tsb.

        yang kedua mengenai daya beli. anda tentu paham daya beli pasti turun sebab akibat kenaikan harga BBM. namun berapa banyak turunnya? dari tulisan saya, saya tidak menyatakan dan memberikan opsi exercise kenaikan BBM dalam nominal berapapun. saya kira (ini pendapat saya) kenaikan sebesar 10% cukup bagi jangka 5 bulan ini. karena sumbangan Inflasi juga tidak terlalu besar, sedangkan GDP growth masih akan tetap pada tren positif meskipun melemah.

        akhir kata, semoga penjelasan mendalam lengkap dari suma dan fadhil bisa memuaskan keingintahuan kita bersama.
        salam pandir… hehehehehe

        wassalam

        Balas
  6. By ilham, September 26, 3762

    saya kecewa dgn Anda,,dasar antek kapitalis!!
    ternyata sperti ini didikan UI yg menghasilkan lulusan yg pragmatis oppotunis!!

    Balas
  7. By Nur Apatis Harga Pertamax IDR 9.550, September 26, 3763

    Gerah banget deh disini. Sebenernya ngapain sih pada mikirin harga premium, make juga enggak? Atau jangan-jangan kalian, para mahasiswa yang bisa kuliah di universitas ‘rakyat’ namun mahal, masih pake premium? Bener kata Dimas, kendaraan juga dipakenya buat ngapel dan untuk bensin masih pake duit orangtua. Padahal denger-denger sih premium sasarannya buat rakyat miskin.

    Ck, atas nama rakyat? Rakyat yang mana? Rakyat yang lebih milih untuk beli rokok dan handphone daripada nabung demi masa depannya, atau rakyat di pedesaan yang jalan kaki untuk sampe ke pasar? Aneh. Tau enggak sih, kalian aksi tuh cuma bikin macet. Emangnya suara kalian didenger ya? Palingan diajak ke DPR juga cuma biar enggak bawel dan ngasih kesan kalau kalian didenger. Mahasiswa udah enggak punya kekuatan apa-apa lagi.

    Gue juga bingung. Dimas enggak menyinggung tentang BLT sama-sekali, kenapa dituduhnya jadi pendukung BLT? LOL.

    Andai uang subsidi dipindahin untuk memperbaiki sarana dan fasilitas umum, untuk memperluas lapangan kerja, mungkin tukang-tukang ojek yang pengguna utama premium bisa terserap di lapangan-lapangan pekerjaan baru. Andai akses ke daerah-daerah bisa dipermudah, mungkin harga sembako bisa lebih stabil berapapun itu harga bahan bakarnya. Semua pake mungkin karena jujur aja gue cuma mengutarakan kemungkinan. Mungkin iya mungkin enggak.

    Coba pertamax disubsidi ya… gue udah berenang uang kali.

    Balas
    • By dimas budisatyo, yang nulis, September 26, 3779

      makasi yaa komennya.. sekaligus dukungan buat saya nih… hehehehe..
      saya suka gayanya, berapi-api. kayaknya anda cocok bicara di mobil komando selama demonstrasi berlangsung. hehehehehe…. kali aja suara anda paling didengar karena nyaringnya :)

      akhir kata…

      wassalam

      Balas
  8. By nobody, September 26, 3765

    Mas Rangga, hitung-hitungan anda itu ngutip dari kwiek kian gie kan ya? Nah, perlu mas Rangga sadari bahwa hitungan Kwiek itu tidak berdasar. Silakan cek di sini http://cafesalemba.blogspot.com/2012/03/as-rizal-emailed-me-our-debate-with.html untuk tahu lebih lanjut :)

    Balas
  9. By Si Pandir, September 26, 3766

    dan perlu diingat juga bahwa octane rate pada premium itu salah satu yang terendah, sekitar 88 RON. sedangkan rata-rata octane pada negara lain sekitar 90-92 RON. jadi, apakah kata subsidi disini layak dipakai?

    Balas
  10. By rakyat biasa, September 26, 3767

    Beginilah pola berpikir rakyat Indonesia di jaman ini. Diberi kesusahan sedikit, seketika berteriak protes. Mau sampai kapan kita dimanjakan seperti ini? Bisa membeli 5 bungkus rokok tiap harinya, tapi mengeluarkan lebih untuk kepentingan bersama tidak mau. Lihat negara lain, Indonesia lah satu dari sangat sedikit negara yang masih saja memanjakan rakyatnya dgn harga bbm murah. Parahnya, minyak itu sendiri adalah hasil impor. Di sisi lain, saya terkadang merasa “ditipu” oleh keberadaan bbm bersudi. Toh yang memakainya juga orang2 berduit yang saya rasa “tidak pantas” menikmati bbm bersubsidi itu. Kalau memang tujuan subsidi untuk mensejahterakan rakyat, mengapa harus lewat bbm? mengapa tidak langsung saja subsidi itu diberikan kepada yang membutuhkan? Di sini lah kredibilitas dan kejujuran pemerintah diperlukan. Percayalah, jika memang pemerintah bisa mengelola alokasi dana untuk rakyatnya, maka kenaikan bbm ini nantinya akan memberi angin baik bagi kita semua. Namun itu sekali lagi, bergantung pada kinerja pemerintah. Tapi jujur saja, jika saya melihat pemerintah kita sekarang, susah untuk percaya pada mereka. Sangatlah susah untuk menaruh harapan pada pemerintah kita saat ini.
    Sekedar tambahan, saya sedikit tergelitik melihat komentar2 yang mengatasnamakan institusi pendidikan. Ayolah, kalau sesama rakyat saja kita tidak bisa memberi apresiasi atas suara masing2 individu, mau jadi apa bangsa kita ini nanti? Sudah mental pengemis, ditambah lagi sikap yang arogan.

    Balas
  11. By Dimas Budisatyo, yang nulis, September 26, 3769

    pertama-tama saya ingin berterimakasih bagi semua yang sudi membaca, memberi komentar dan saran serta memberi “tambahan yang perlu”. karena yang komen banyak sekali, saya ingin membalas komen satu persatu.

    pertama-tama, dari mus.
    1. anda mengatakan bahwa kalo BBM dinaikkan akan percuma karena “nanti itu BBM bersubsidi dinikmati juga oleh kalangan atas, sedangkan kalangan bawah yg seakan-akan mengemis membeli BBM yg sekarang disubsidi”. dalam kalimat ini saya merasa perlu mengoreksi, BBM yang naik itu pada hakikatnya sudah tidak disubsidi mas mus. sehingga tidak ada korelasi antara premis pola konsumsi BBM yang bersubsidi dan premis pola konsumsi BBM yang tidak disubsidi yang saya tangkap dari kalimat anda, alangkah baiknya apabila pada komen selanjutnya anda bersedia memperjelas kalimat anda.

    2. kalo anda mengatakan bahwa saya ini “kalangan atas”. anda salah besar bung, saya bahkan berpendapatan kurang dari 2 dolar per hari. (sebagai asumsi, nilai standar kemiskinan ini saya kutip dari data world bank) dan bahkan saya sendiri dibiayai oleh sponsor dan negara untuk kuliah. jadi saya merasa menuliskan ide saya adalah sebuah obligasi yang harus saya pertanggungjawabkan kepada anda sekalian, segenap rakyat indonesia. disini saya justru tidak menafikkan visi saya mengenai kondisi bangsa kedepan, kenyataannya apabila kondisi bangsa ini buruk saat ini, maka tentunya akan lebih buruk dimasa depan. BBM merupakan SDA yg tidak dapat diperbarui, pola konsumsi yang berlebihan tentunya akan membuat kita lekas mati. masalahnya dalam situasi ini adalah kita hanya memiliki 2 pilihan, yaitu “mati tersiksa dalam jangka waktu yang lama” atau perlahan menghindar tapi sakit di awal?, terserah kita semua jawabnya, terlebih lagi terserah bangsa dan karakter bangsa kita.

    *addendum–> bahkan pada awalnya saya ragu ketika mengetahui result kebijakan yang baik adalah pencabutan subsidi karena saya adalah bagian dari rakyat yang ikut terdampak. namun hal itu tidak semena-mena meninggikan ego saya atas kemudahan akses membeli bbm dan bahan kebutuhan lain saat ini, serta menanggalkan nasionalisme saya untuk ikut mengawasi dan menjamin pertumbuhan ekonomi dan kesejahteraan rakyat di masa depan, saya lebih suka menganggap perilaku ini sebagai “investasi moral” untuk masa depan, untuk kebaikan anak cucu kita nantinya. entah belasan atau puluhan tahun dari sekarang

    3. yang ketiga anda mengatakan bahwa saya hanya mengambil contoh dari jakarta, ini bukti bahwa anda kurang mencermati tulisan saya. mohon diperiksa lagi pada paragraf keempat, saya mengambil contoh dari madura. dan mengenai kenaikan harga secara umum akibat kenaikan BBM pasti akan terjadi. karena BBM sendiri sudah barang pasti merupakan faktor produksi yang mempengaruhi baik fixed cost maupun variable cost. permasalahan yang ingin saya diskusikan, bukan bagaimana mencegah kenaikan harga dan kenaikan BBM karena tetap pada pendapat saya kenaikan harga dan BBM merupakan suatu kewajaran atas kondisi sumber daya dan kebutuhan pembangunan negara kita, melainkan tata cara menanggulangi kenaikan harga BBM ini.

    selebihnya mengenai pernyataan anda bahwa penduduk jakarta bahkan tidak lebih dari 10% dari seluruh penduduk indonesia, saya setuju. saat ini penduduk Indonesia mencapai angka +/- 242juta orang, sedangkan jakarta dihuni kurang lebih sepuluh juta jiwa. mengenai tingkat representasi penduduk jakarta sebagai exercise sample seluruh Indonesia tentunya tidak relevan. coba anda gali lagi lebih dalam. saya sangat terbuka terhadap seluruh masukan dan kritik yang bermanfaat bagi kita semua.

    4. Mengenai BLT, adakah dari sepatah kata yang saya ucapkan bahwa saya menyatakan persetujuan sikap saya atas solusi alternatif kebijakan pencairan dana BLT? silahkan anda cek sendiri.

    sebelum saya tutup, mungkin alangkah baiknya saya menjelaskan mengapa saya menuliskan artikel ini. singkat cerita saya merasa jenuh dengan kegiatan aksi dan demonstrasi mahasiswa yang tak kunjung memberikan hasil yang signifikan. alih2 memberikan dampak positif, demonstrasi di mata saya membawa dampak buruk apabila isu yg diangkat tidak signifikan(meskipun dalam hal ini menurut saya isu bbm merupakan isu yang signifikan). saya merasa kasihan dengan teman2 saya mahasiswa di seluruh Indonesia, karena adanya mereka yang lebih mengutamakan proses aksi lalu mengakhirinya dengan rasionalisasi, dan bukan memulai aksi dengan akal pikir yang rasional. bukankah sudah sepatutnya mahasiswa lebih memiliki budi perilaku santun dan berakal mulia? bukankah mengedepankan pemikiran dan penilitian adalah kepribadian civitas academica?

    saya teramat bersedih mendapati teman2 saya di medan dikabarkan luka-luka akibat bentrok dengan pihak keamanan. kendati demikian, hal ini tidak menyurutkan niat saya menghimbau kepada seluruh rekan mahasiswa untuk bertindak lebih matang dan dewasa dalam menyikapi masalah.

    di awal judul, memang saya memberikan judul yang menyakitkan hati apabila dibaca, tentunya hal ini dikarenakan corak penulisan saya yang cenderung sarkastik sehingga mengesankan saya ini berkepribadian congkak, arogan, dan sombong. pada intinya, itu hanya trik jurnalistik yang saya gunakan agar para pembaca yang budiman sudi membaca karya saya. ide saya bahkan jauh dari dasar2 nilai kapitalisme. saya teramat sangat menolak nilai kapitalisme maupun liberalisme. bagi saya, sistem ekonomi yang ideal sedang bersama kita cari dan kita bangun. mohon maafkan saya karena kelancangan ucapan saya.

    akhir kata.
    terimakasih, wassalam

    **nb. bagi mas mus, saya terbuka untuk diskusi. silahkan hubungi dimas.budisatyo@ui.ac.id untuk diskusi lebih lanjut

    Balas
  12. By Dimas Budisatyo, yang nulis, September 26, 3770

    selanjutnya, komentar saya layangkan kepada mas ilham.

    berikut komentar anda….

    “saya kecewa dgn Anda,,dasar antek kapitalis!!
    ternyata sperti ini didikan UI yg menghasilkan lulusan yg pragmatis oppotunis!!”

    sudah tidak lagi disangsikan bahwa pernyataan anda mengukuhkan seberapa rendah dan tinggi derajat sarkasme antara anda dan saya. terimakasih telah membaca dan ikut berkomentar. kedepan alangkah baiknya apabila kritik mas ilham disertai dengan argumentasi. sehingga memudahkan saya untuk menemukan letak kesalahan saya.

    dalam hal ini jika anda kecewa dengan saya, nyatakanlah kekecewaan itu dalam sebuah argumentasi (sekali lagi). lagipula, pemikiran saya ini tidak hanya dari bentukan lingkungan di UI. melainkan dari berbagai macam stimulasi dan pengetahuan yang saya dapat lewat pengolahan data, analisa, dan berita nasional. pragmatisme dan oportunisme yang anda tuduhkan pada saya terlebih lagi membuat saya bersyukur, karena masih mampu merasa cukup dan rendah hati atas penilaian anda. sepenuhnya saya terima, namun anda harus tahu mas menurut teori labelling yang dikemukakan oleh Robert K Merton, bahwa jika sekali anda melakukan “labelling” maka label itu tidak akan hilang secara permanen dari benak anda. terlebih ketika anda melabelisasi sebuah institusi. tiada keuntungan bagi kita semua melakukannya kecuali kita memiliki bukti yang absah.

    sekian.
    terimakasih, wassalam

    Balas
  13. By Dimas Budisatyo, yang nulis, September 26, 3771

    yang ketiga,
    kepada yang terhormat bapak benny singodimedjo

    berikut komentar anda…

    “Bung Dimas yang masih muda dan cerdas serta progresif, hitung2an anda tidak salah dalam kacamata ekonomi makro. Namun ada baiknya anda pelajari lagi soal konstitusi sebagai dasar negara dan konsep negara yang paling sederhana saja seperti Kant atau Montesquieu. Terlalu berat anda belajar Lenin atau Marx. Untuk apa dan siapa, serta bagaimana negara itu seharusnya.

    Negara kita dijarah habis2an dan pemerintahnya hari ini cuma jadi kambing congek imperialisme asing, anda malah asyik2 makan duit rakyat dengan menikmati subsidi di UI. Jangan terlalu bangga dengan UI mu itu. atau otakmu yang cuma sebelah yang bekerja, perbaiki dulu otak dan hatimu kemudian berbicaralah secara intelektual. Maaf intelektualitas saya hilang setelah membaca tulisan konyolmu.Pergi kau ke amerika sana, ganti kewarganegaraanmu.”

    1. pertama-tama saya mengucapkan syukur atas pujian berlebihan yang bapak limpahkan kepada saya. yang pada kenyataannya saya sendiripun tidak secerdas yang anda bayangkan. mengenai hitungan saya, sebenarnya saya juga masih belajar, terutama dalam mengaktualisasikan ilmu saya. semoga komentar rekan-rekan selanjutnya dan tanggapan saya atas komentar rekan lainnya mampu memberikan penjabaran yang lebih memuaskan.

    2. terima kasih atas anjuran anda agar saya lebih membaca buku mengenai tujuan negara, Insya Allah akan saya lakukan dalam waktu dekat. semoga bapak juga berkenan melakukan diskusi dengan saya mengingat rendahnya pemahaman saya akan bidang ini.

    3. saya agak ragu untuk menyatakan persetujuan kepada pernyataan bapak mengenai negara kita yang sedang dijarah habishabisan. bagaimana rupa penjarahan tsb? tentunya, jika bapak berkenan memberikan saya sedikit pengetahuan tentangnya. saya sepakat mengenai kondisi pemerintahan kita yang anda gambarkan. mungkin memang sedikit lebih hina daripada penggambaran anda.

    4. mengenai keberadaan saya di UI. perlu bapak ketahui, bahwa pada intinya disini saya, bersama teman2 mahasiswa UI lainnya dengan sukarela belajar menangani masalah bangsa dan tetap terus berharap akan kemungkinan majunya bangsa kita di masa depan. memang kami sepertiga biaya kuliah kami dibiayai oleh negara, hal itu justru menjadikan kami memiliki obligasi moral kepada rakyat indonesia sekalian. Tulisan ini lahir karena saya merasa berkewajiban memberikan kontribusi kepada rakyat. karena mungkin masih beginilah kemampuan saya. beda cerita apabila kami disini bersenang-senang menghamburkan duit rakyat. tentunya saya tidak akan menulis, saya akan sibuk dengan pesta, pesta, dan pesta. saya mohon agar kita semua mencapai pemahaman yang sama.

    5. Mengenai keadaan otak saya yang berat sebelah dan hati(perasaan) saya yang menurut anda mati. bagaimanapun, penilaian atas saya, sepenuhnya saya serahkan kepada bapak. kesudian bapak untuk membaca tulisan saya sudah merupakan bentuk apresiasi yang sangat saya syukuri. Insya Allah akan saya perbaiki kekurangan saya berdasarkan evaluasi anda.

    sekian. terimakasih

    wassalam

    Balas
  14. By lal, September 26, 3772

    mau sampai kapan kita pakai bahan bakar minyak??? sudah saatnya subsidi minyak dikurangi atau dicabut, lalu pemerintah harusnya fokus maksimalisasi penggunaan bbg dan menyediakan sarana dan kebijakan pendukung. bbg sejatinya lebih murah dr minyak. harga minyak premium yg tdk disubsidi itu 8ribuan. sedangkan gas, dijual pertamina 2 ribuan saja sudah dpt untung.

    Balas
  15. By dimas budisatyo, yang nulis, September 26, 3775

    berikutnya komen dari rakyat pandir…

    1. “Mas, mahasiswa FEUI yang pinter keminter
    Coba periksa lagi deh statistiknya
    Emang ada bahan kebutuhan hidup masyarakat yang gak tersangkut BBM?
    Nah kalo semua harga barang2x naik karena BBM naik, maka statistik 30% itu pembenarannya bagaimana?
    Lagipula ukuran2x yang dipake dalam statistik yang anda pakai apa gak keterlaluan ngaconya tuh. Kalo miskin itu pake ukuran 540 ribu sebulan, maka yang 545 ribu sebulan udah kaya gitu?
    Coba cek berapa jumlah motor dibanding mobil, apa bener yang pake motor itu orang kaya? Pernah lakukan riset gak, gimana sekarang ini mayoritas rakyat berpendapatan rendah juga menggunakan motor karena gak ada alternatif transportasi buat mereka pergi kerja dan beraktifitas.”

    sebelumnya makasi atas predikat keminternya, alasan penulisan sudah saya jelaskan di komen sebelumnya. monggo dibaca.

    Komentar saya–> ya, saya yakin sepenuhnya bahwa struktur biaya bahan pokok terkait dengan asumsi biaya produksi yang timbul dari harga BBM. namun yang ingin saya jelaskan lebih jauh, yaitu mengenai rasionalisasi 30% konsumsi BBM oleh rakyat miskin. tentunya anda mengerti, bahwa konsumsi yang dimaksud disini BBM tidak dihitung sebagai faktor produksi melainkan final goods karena pada kenyataannya, apabila penghitungan faktor produksi ini dilakukan, maka akan terjadi doubled-accounting dalam penghitungan neraca PDB kita. oleh karena itu asumsi mengenai BBM yang dihitung sebagai faktor produksi tidak relevan dalam bahasan kita kali ini. angka 30% yang saya cantumkan tersebut sudah merupakan pembulatan dan termasuk bonus penghitungan yang memudahkan kita sekalian apabila kita melihat alokasi subsidi BBM yang nyata.

    ukuran statistik yang saya pakai memang kurang representatif, saya akui hal tersebut merupakan kelemahan dalam penulisan saya. hal tersebut saya gunakan, karena standar statistik kemiskinan global yang digunakan world bank berkisar antara USD 2 per hari. asumsinya hal yang sama berlaku di Indonesia tanpa mempertimbangkan faktor-faktor lainnya seperti daya beli, bias statistik, dan validitas konteks penelitian. jika anda berkenan untuk membagi data-data mengenai statistik dan standar kemiskinan yang memenuhi relevansi diskusi kita, saya mohon agar anda bermurah hati mempublish datanya disini.

    mengenai data penggunaan motor dan kendaraan lainnya. saya mendapat data resmi dari INDEF bahwa pertumbuhan motor di indonesia sebanyak 7 juta unit pertahun, sedangkan mobil pertumbuhannya 400.000 per tahun. hal ini semakin menguatkan keyakinan bahwa pada dasarnya kenaikan tren penggunaan motor adalah akibat dari ketiadaan alat transportasi yang efisien bagi masyarakat. Menyoal transportasi, tentu anda mengetahui bahwa tren tersebut terjadi akibat ketiadaan INFRASTRUKTUR yang memadai untuk menunjang transportasi rakyat. ketiadaan infrastruktur ini mengakibatkan efek high-cost economy berlaku di negara kita, ongkos produksi pasti mahal dan sangat bergantung dengan biaya variabel lainnya, belum lagi ditambah biaya fixed. saya menilai, di satu sisi rakyat mendambakan jalanan yang tidak macet, transportasi yang well-personalized dan fleksibel, di sisi lain kita (negara) mengalami constrain berupa budget pembangunan infrastruktur. idealnya dana infrastruktur kita 4000 Trilyun rupiah hingga 2014 nanti artinya setahun harus ada duit 1000 trilyun buat infrastruktur, buat jadi diri rakyat indonesia nyaman dalam bus ber AC alih2 kopaja dan jalanan anti macet. namun apa daya, APBN kita saja hanya 1200an Trilyun, maka dari itu asumsi dana infrastruktur yang bisa ditanggung pemerintah hanya 30% dari 1000 trilyun yang disebut sbagai government coverage. oleh karena itu, saya merekomendasikan subsidi BBM bijaknya dikurangi agar mampu dijadikan sumber pendanaan infrastruktur.

    —>lalu kenapa sih saya ngotot perkara INFRASTRUKTUR? soalnya adanya infrastruktur memungkinkan ongkos produksi rendah, hal ini sedemikian rupa mampu menarik minat investor dan pendanaan lainnya di Indonesia. kondisi pendanaan seperti ini akan menciptakan lapangan pekerjaan. adanya pekerjaan tentu berbanding lurus dengan adanya pendapatan kan? nah ini maksud saya, Ujung-ujungnya juga rakyat yang kita yang miskin yang untung.

    —>yang kedua, kenapa ujungnya harus kenaikan harga BBM? intinya saya berupaya men-disinsentif pengguna kendaraan bermotor. selain karena konsumsi BBM yang boros, angkutan umum seharusnya mampu jadi alternatif pilihan rakyat yang efisien. naiknya harga BBM tentu akan merubah pandangan orang megenai penggunaan kendaraan pribadi.
    *saya kira anda perlu tahu kondisi saya agar anda paham kesahajaan hidup saya. 8 tahun selama saya sekolah (SD-SMP-SMA) hingga saat ini saya selalu menggunakan angkot, kiranya anda paham betapa cemburunya saya dengan teman2 yang bermotor. namun kendati cemburu, saya memutuskan untuk mensyukuri hal tsb.

    2. “Lalu soal tepat sasaran. Kalau memang mas bener pinter. TOLONG dong dibuka data resmi tentang biaya yang dikeluarkan untuk program penanganan kemiskinan yang katanya tepat sasaran itu? Berapa yang dibayar untuk konsultan2x kemiskinan — yang banyak buanget anak FEUI — dibandingkan dengan yang diberikan ke orang miskin. Apa itu secara moral dan substansial gak lebih SALAH SASARAN, ngasih duit receh buat orang miskin tapi ngasih makan Ekonom Kaya dari kantong yang sama?”

    tanggapan saya—> hehehehe, kalopun saya adalah salah satu konsultan atau partner lembaga2 yang anda maksud, pasti akan saya publish datanya. sayangnya saya bukan konsultan. lebih anehnya lagi ketika anda menuduhkan kepada instansi tempat saya belajar sebagai tempat yang salah sasaran dan ikut menerima recehan subsidi. kenapa saya anggap aneh. lha wong anda sendiri saja nanyain data ttg nominasi duit yng ngalir ke FEUI dari pos subsidi BBM ke saya, bagaimana anda sendiri bisa menshahihkan tuduhan yang anda layangkan kalo alat bukti justru anda tanyakan kepada terdakwa? monggo dijawab dari hati. hehehehe… *maaf saya guyon di part ini*

    3. “BBM itu komoditas vital dan strategis mas, belum ada alternatifnya dalam corak ekonomi yang kita jalankan sekarang. Kalau udah ada boleh lah bilang kita ini gila tergila-gila BBM. Lha kalau selama ini gak pernah ada pembangunan alternatif energi massal dan alternatif model ekonomi, lha ya kok kita rakyat miskin yang protes pencabutan subsidi yang dibilang PANDIR.”

    komentar saya—> setuju kalo BBM itu komunitas vital dan strategis. dan bahkan belom ada penggantinya. yang bisa mengganti hanyalah kesadaran masyarakat (mungkin, tapi tidak mungkin juga sih, hehehee). sekarang kalo anda pada akhirnya memilih tetap protes dan tidak bergeming dari putusan anda untuk terus menerus mengkonsumsi minyak,… yaa silahkan. tapi kalo anda yang merasa miskin di hari hari depan nanti malah tambah miskin gara2 hari ini protes, jangan nyalahin ekonom sama engineer yang bikin teknologi alternatif. dan kedua, anda perlu tahu siapa sasaran yang saya sebut PANDIR, judulnya adalah “jangan dulu meracau soal BBM bila pandir” nyata kan maknanya bahwa saya ingin setiap gerakan, apapun itu bentuknya telah dikaji dan ditelaah dalam pemikiran yang matang. orang yang saya sebut pandir itu mereka yang emosian, udah miskin, sombong, arogan, emosian lagi. bayangkan, malaikat manapun pasti enggan menolong rakyat yang pandir. saya juga miskin, tapi paling enggak saya mikir dulu sebelum teriak. mikir dulu sebelum bertindak, karena itu ciri khas kepribadian civitas academica.

    3. “Tapi gak apa lah, kita jadi tahu Orang Pinter di FEUI, pengen kita semua jadi SASARAN kan? Sasaran Kemiskinan Kronis (oh ya mas pasti belajar dong tentang jenis2 kemiskinan) dan Kesenjangan Ekonomi yang Makin Gila setiap kenaikan BBM dan pencabutan subsidi dilakukan.
    Orang Pinter Pilih Cabut SUBSIDI, Orang Miskin Pilih Cabut Senjata!

    Rakyat Pandir”

    komentar saya—> nah ini komen yang saya maksud arogan. saya mungkin sarkastik dalam menulis. tapi bahkan saya tidak blame siapapun dalam tulisan saya, benar tidak? mohon koreksinya. kalopun kami, yang sudi belajar di FEUI dan menulis segini panjang ingin menjadikan kalian sasaran, kami bahkan tak perlu repot2 menulis disini dan membagi ide. cukup dengan membiarkan diri kami berpesta dengan uang beasiswa. anda yang bayar pajak dimanapun anda berada sudah “patungan” mendanai pesta saya, dan perlahan menghancurkan bangsa. dengan begitu anda yang miskin baru jadi SASARAN.

    coba anda lihat dari sudut pandang lain, saya menulis karena bahkan saya peduli dengan 17,4% dari 242juta rakyat Indonesia yang miskin. tiada guna bagi saya kecuali membagi ide, pemahaman agar kita selamat di masa depan. pernyataan saya,”anda tentu ingin hidup lama kan?” nah jika iya, maka marilah kita gadaikan sedikit ego kita sekarang untuk harga BBM murah dan menunggu buah yang kita tuai di hari depan.

    pilihan cabut senjata bisa saja jadi pilihan anda, tapi sudahkah anda mempertimbangkan pernyataan anda?

    terimakasih

    wassalam

    Balas
  16. By rakyat pandir, September 26, 3776

    Kalau pun itungan KKG salah yang salah adalah variabel tambahannya yang tidak mengurangi kebenaran bahwa APBN tidak jebol. Nah kalo bicara akuntabilitas, kenapa pemerintah dan para pendukung pencabutan subsidi tidak membuka hitungan ini sejak awal, kenapa menunggu KKG yang menyoroti. Itu sebabnya Anggito Abimanyu ketika pertama kali dikonfrontir oleh KKG mengiyakan bahwa memang ada keliru soal argumen APBN jebol.

    Poin berikut, emangnya APBN isinya “subsidi BBM” aja? Kalo berlandaskan moral-intelektual kenapa gak menyoroti pos2x anggaran lain yang lebih salah sasaran? Anggaran Rutin, Utang LN, dll. Kenapa pos “subsidi BBM” yang disasar? Gak perlu sepinter anak FEUI untuk tahun bahwa pos itu lah yang paling dikorbankan, karena itu posnya rakyat miskin.

    Juga kalo kita ikuti pilihan mencabut subsidi ini, kalo mau teliti dan jujur maka sebelumnya ada opsi pembatasan subsidi. Ditentang keras oleh golongan berpunya, karena mereka lebih suka membayar tambahan 1500-2000 untuk bensin mobil mereka. Jadi masih salah sasaran?
    Kalau emang ngaku ilmiah bikin dong riset empiris mengukur ketepatan/kesalahsasaran itu. Kan belajar berbagai metode pengukuran toh?

    Lalu soal tidak menyebut BLT dalam tulisan anda. Coba deh gak munafik. Anda setuju pencabutan tapi gak setuju BLT? Baca lagi tulisan anda sendiri:

    “Rekomendasi saya, lebih baik saat ini harga BBM kita naikkan, hingga nanti pada akhirnya mereka yang berpendapatan kurang dari 2 USD itu mendapatkan kompensasi atas kenaikan harga BBM berupa pelayanan public yang menjamin kesejahteraan hidup mereka.”

    apa itu kompensasi yang dimaksud? yang disediakan pemerintah yang anda dukung kebijakannya adalah BLT. Nah lho terus gimana dong?

    Lalu soal intelektualitas dalam hitung menghitung:
    Apakah anda atau siapa pun para pendukung pencabutan subsidi pernah mengajukan PERHITUNGAN tentang berapa besar biaya yang diperlukan untuk:
    1. Konversi energi dari BBM ke yang alternatif?
    2. Infrastruktur publik untuk konsumsi energi non BBM?
    3. Lama waktu hingga energi alternatif bisa dikonsumsi secara publik?
    4. Penganggaran dalam pos APBN yang akan dialokasikan untuk kebijakan transisi dari BBM yang “tidak ramah lingkungan” dan “tidak terbarukan”

    Ini yang disebut problem akuntabilitas, bukan akuntansi ya! Coba jelaskan absennya transparansi dan program realistis dari pemerintah. Lalu coba ngoceh lagi tentang pandirnya mereka yang protes kenaikan harga BBM.

    Lah kalau semua perhitungan itu gak ada, gimana kita mau percaya bahwa pencabutan subsidi kali ini akan berbeda dari yang sebelum2xnya. Buka catatan sejarah, paska Orde Baru sejak jaman Gus Dur di awal tahun 2000 hingga sekaran SBY periode 2 di tahun 2012. Satu dekade lebih, ada gak Hitungan2x itu diajukan oleh pemerintah? Terus kita diminta percaya, dan kalo protes dibilang pandir? Jadi pengen muntahhhhh

    Kami rakyat pandir, menantang anda dan para pendukung kenaikan BBM untuk membuat perhitungan peralihan dari BBM ke energi alternatif. Lalu ajukan ke pemerintah dan DPR. Saya berani taruhan bahwa itu tidak akan digubris. Wong yang utama dari setiap pencabutan subsidi adalah money politics kok, buat kepentingan pemilu. Itu makanya perlu BLT, perlunya JPS, perlunya hutang LN.

    Kamu mahasiswa FEUI yang pinter, saya minta kamu mengingat tahun 2012 ini, dan kenang lah setiap tahun yang berlalu setelah ini dimana peralihan energi dari BBM tidak akan terjadi (btw udah tahu perkembangan energi alternatif di seluruh dunia belum sih, oh ya bukan ilmu kalian ya di FEUI, jadi gak mau tahu dong ya) juga bagaimana konsumsi BBM akan terus meningkat walau kalian telah menghukum orang2x miskin dengan harga yang lebih mahal.

    Oh ya kritik saya soal statistik 70% salah sasaran dengan garis kemiskinan WB, pasti tidak kamu jawab ya.

    Selamat membunuh nyamuk dengan granat

    Balas
  17. By adi, September 26, 3781

    Menaikan BBM bersubsidi tentunya akan mengurangi beban subsidi pemerintah sekaligus memberikan pendidikan kepada masyarakat untuk lebih mandiri dan tidak bergantung secara terus menerus kepada Pemerintah (BBM bersubsidi).

    namun, memang sudah saatnya dan harus segera diwujudkan persiapan beralih ke gas, dengan mempersiapkan infrastuktur menuju konversi BBM ke Gas (Compressed Natural Gas atau Liquid Gas for Vehicle). Sehingga disaat BBM bersubsidi dihapus total maka masyarakat telah siap untuk beralih ke gas dengan harga yang mungkin lebih murah dari BBM bersubsidi.

    Balas
  18. By adi, September 26, 3782

    iNTINYA, SAYA SEPENDAPAT DENGAN PENULIS ARTIKEL

    maksud saya adalah begini:
    tak bisa dimungkiri bahwa harga minyak Indonesia dipengaruhi oleh harga minyak mentah dunia krn produksi terbesar minyak ada di timur tengah dan kitapun bukan penentu harga…… oleh karena itu, pikiran yang realistis adalah menaikkan harga BBM subsidi dengan syarat pemerintah segera memberikan kompensasi berupa pelayanan nyata yang mensejahterakan…. selama inikan pemberian pemerintah (BLT) berupa barang misal: uang, beras dll. dengan begini, mKA jauh lebih tepat sasaran daripada berupa subsidi dan BLT

    trimakasih

    Balas
  19. By husnain, September 26, 3783

    Saya tidak bisa beragumen dgan hitungan ekonomi kya yg lain di atas, karena saya cuma bisa mendalami ilmu pertanian.
    Saya selalu bilang ke teman saya, bahwa kita hidup bukan untuk saling menyalahkan.
    Penulis sudah memiliki saran yg menurut saya mungkin bisa dgan baik di implementasikan. Yang terpenting adalah, berikan saran terbaik kita. Kalau belum bisa memberikan saran, maka jangan mencela yg mbrikan saran ,-kecuali sarannya ngeyel…
    Saya juga bilang sama adik kelas saya yg demo, “semoga yg demo bisa membrkan saran terbaik”.. Mereka (adik2 kelas saya) yang mengajak demo di hujat habis2an oleh tmanya yg lain yg tdak snang dgan demo. Tapi yg mghujat tdak mbrikan saran, hanya menghujat. Lantas saya ikuat ambil bagian komen, dan sampaikan kpada yg mghujat, kita hanya perlu saran terbaik kamu, itu saja. Kalau hanya ingin mendebat sbaiknya tdak usah. Maka dia mbrikan saran tbaiknya, dan tdak mendebat lagi.
    Intinya, apa pun yang Anda sampaikan, berikanlah saran terbaik, bukan hujatan.
    Terima kasih kpada penulis dgan saran tbaiknya..

    Wallahu ‘alam..

    Balas
  20. By aziz, September 26, 3785

    saya komen ya.. di sini udah panas hehehhe
    pertama : berapa orang yang bersuara lantang dan sok tahu sampai berbusa-busa dan menambah dosa dengan kata caci-maki serta sumpah serapah tahu perhitungan APBN yang 2000 triliun lebih /tahun (jadi yang nulis “pandir” alias bodoh di tulisan itu juga ga pintar)
    kedua : mari bersikap adil untuk setiap keputusan (saya tidak suka menyebut “kebijakan” karena kadang tidak bijak :D ) yang diambil pemerintah –> adakah yang berdemo saat triliunan rupian di kucurkan untuk KUR sebagai bantuan pinjaman tanpa agunan pada UKM? ada yang protes saat digratiskannya SPP untuk tingkatan SD-SMP di seluruh indonesia -kecuali sekolah2 tertentu- ? adakah yang protes saat gaji PNS/TNI/POLRI hingga naiknya UMR untuk buruh di seluruh indonesia? ada yang protes saat PNPM di kucurkan untuk pembangunan di desa2 terpencil? adakah yang protes dan berdemonstrasi saat anggaran kesehatan untuk biaya gratis obat ARV yang harganya jutaan, hingga pelayanan kesehatan untuk penyakit khusus ? atau ada yang protes saat ribun kapal dibagikan untuk nelayan?
    ketiga: kenapa anggaran membengkak? tidak hanya BBM yang membuat anggaran APBN rusak parah, sebagai contoh 20% amanat undang2 untuk dana pendidikan habis hanya untuk subsidi sekolah2 RSBI hingga SBI, hingga gaji guru (termasuk double dengan sertifikasi) akhirnya apa? sekolah di desa-desa tetap rusak parah, hingga telatnya dana BOS mencekik sekolah di daerah terpencil, atau lihat naiknya anggaran birokrasi sebesar 400% yang sepi senyap tanpa di ketahui publik
    terakhir dan bukan yang keempat : kesalahan SBY bukan saat dia mengatakan BBM akan naik tapi saat pidato penegasan kenaikan BBM di cikeas justru curhat dan lebay, soak merasa terdesak dan tidak ada keputusan lain, jika saja saat itu presiden di istana pidaton dengan lantang, “hari ini BBM saya naikan tapi esok hari, subsidi untuk pupuk dan jaring nelayan, lusa beasiswa untuk anak sekolah di kalilipatkan, minggu depan, jalan-jalan akan dihaluskan, bulan depan ada jaminan pekerjaan, tahun depan kita ngopi bersama di angkrinang” mungkin kata-kata itu retorika dan susah di wujudkan, tapi kalau itu yang SBY katakan, rakyat tidak akan marah.
    SBY adalah tipe jendral lapangan, selama karir militernya dia tidak pernah ada dilapangan dan medan pertempuran alias lebih sering di kantor, dia mungkin pintar memimpin rapat tapi bukan seorang orator serta penyemangat yang ulung layaknya jendral di medan laga saat pasukannya pasrah. orang indonesia cukup dikasih orasi menggelegar, bagaimana hancurnya ekonomi jaman soekarno hingga terjadi peristiwa tritura serta yang peling parah terjadi pemotongan nilai rupiah dan hancur lebur ekonomi indonesia, sukarno cukup berdiri di podium dan katakan ganyang malaysia, dan lupalah rakyat indonesia kalau saat itu hanya bisa makan nasi aking dan pakai baju kain goni, sertany menyalakan lampu dari minyak jarak hingga pergi ke sekolah dengan genting dan arang sebagai alat tulis.
    udah capek ah, makan doloe… :D

    Balas
  21. By the roh, September 26, 3789

    saya setuju subsidi bbm dicabut, buat mahasiswa yang “no action talk only”, bikin dong teknologi alternatif seperti bahan bakar nabati secara masal, saya sebagai masyarakat yg tinggal di desa gak terlalu terpengaruh, motor jarang pake, mau ngebulin dapur kayu bakar masih banyak, sayuran tinggal petik. yang penting infrastruktur ditingkatkan, kasihan anak2 saya sekolahnya aja udah mau roboh, komputer pentium 2 masih dipake, jalanan juga kaya bekas ketiban meteor,,,

    Balas
  22. By Rico Ermado, September 26, 3790

    Gambar pom bensinnya bagus, Ada banyak blok. Jarang ada yang kayak gitu di tempat saya…

    Balas
  23. By noval, September 26, 3791

    saya bukan mahasiwa ekonomi tapi coba berpikir dari sisi lain…

    kenaikan bbm akan mempengaruhi harga lain sudah pasti, otomatis harga jual barang dari petani, dari nelayan semua juga akan naik…bukan dengan kenaikan bbm harga beli petani tinggi sedangkan harga jual mereka tetap…jadi akan tetap menjadi garis lurus jika boleh dibilang…

    tinggal bagaimana pengalihan subsidi ini tepat sasaran sehingga semua masyarakat bisa menikmati kesejahteraan… karena angka yang fantastis ketika 70% subsidi dinikmati oleh yang punya kendaraan

    Balas
  24. By Waters, September 26, 3792

    Tulisannya bagus, tapi bahasanya cenderung kasar euy (misal: pakai kata pandir). Jadi ga simpatik bacanya.

    Balas

Tinggalkan Balasan

Alamat surel Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *