Jangan Dulu Meracau soal BBM bila pandir

Ditulis oleh admin web   // Maret 22, 2012   // 30 komentar

bbm-pertamina

opini oleh Dimas Budisatyo, mahasiswa FE UI

Akhir akhir ini melihat penayangan berita mengenai BBM seolah olah saya mengalami flashback kembali pada masa menjabat sebagai staf departemen kajian strategis badan eksekutif mahasiswa fakultas ekonomi UI. Saat dahulu kami di kastrat masih sering berunding, berujar, dan berkumpul membicarakan masalah BBM yang benar benar memusingkan. Sedih rasanya apabila para mahasiswa yang saya lihat demo turun ke jalan berucap kenaikan BBM harus ditolak. Karena tentunya, citra mahasiswa yang seharusnya akademis dan cendekia seolah runtuh karena postulat harga BBM yang naik akan merugikan rakyat Indonesia.

Jika sopan saya bertanya, Siapa “rakyat Indonesia yang dirugikan” yang kalian maksud? Rakyat miskin kah? Atau malah mereka yang angkring angkring santai di kursi seharga 20 juta per buah dan mengklaim mereka wakil rakyat? Atau mungkin para korporat yang sering kalian bilang anjing kapitalis?. Faktanya… 70% subsidi BBM senilai hampir 400 triliun rupiah per tahun dan jumlahnya hampir setengah dari total keseluruhan pendapatan negara kita dinikmati oleh kaum yang menggunakan mobil dan kendaraan bermotor, yang notabene pendapatan per harinya lebih dari 2 USD dan secara kontekstual kehidupannya tidak miskin. Bukan seperti yang ada dalam benak  common sense rekan rekan mahasiswa pada umumnya bahwa rakyat yang menikmati subsidi BBM adalah rakyat yang tiap hari jalan nyeker, memanggul karung goni berisi barang rongsokan yang siap diloak sebagai penguat identitas bahwa mereka miskin. Rakyat miskin yang petani, nelayan, dan pelayan itu hanya ikut andil mencicipi 30% saja, sisanya?, menguap bersama hembusan napas lega koruptor, pejabat nakal, korporat doyan duit, penyuap dan bahkan geng motor.

Lihat saja wakil rakyat kita, pendapatannya bahkan diatas 2 USD per hari, dan ini merupakan indikasi wakil rakyat kita bukan representasi seluruh rakyat kita yang 60% miskin dengan pendapatan kurang atau sama dengan 2 USD per hari. Belum lagi ditambah dengan Korporat dan staf pekerjanya yang sejahtera, tentu dari jaminan pekerjaan dan jabatannya, pendapatannya lebih dari 2 USD per hari. Secara nyata kehidupannya juga tidak miskin miskin amat, karena rumah mereka hampir tidak mungkin berdinding gedhek, beratapkan jerami dan beralaskan tanah. Mereka termasuk kalangan atas yang berpendapatan diatas 2 USD per hari dan menguasai hampir 85% perputaran uang nasional. Mereka juga yang menikmati 70% dari subsidi BBM senilai 400 trilliun dari negara, dan mereka juga yang paling santai mengurusi kemampuan daya beli yang menurun akibat inflasi, toh mereka akan tetap bisa membeli tas bermerk Luis Vuitton, bermobil Mercy, menggunakan MacBook Pro, dan menggenggam iPhone.

Coba bandingkan dengan petani garam yang miskin di Madura. Sehari saja terik batara surya labil, maka bisa dipastikan menu makanan mereka hari itu hanya nasi aking dan lauk seadanya lantaran mereka tidak bisa memanen garam. ditambah lagi persoalan garam mereka yang dipersaingkan dengan garam yang diimpor oleh negara. Belum lagi dengan nelayan di penghujung pantai barat Sulawesi. Sehari saja ombak tidak bersahabat, maka esoknya bisa dipastikan bahwa tidak ada asap yang berkebul dari dapur rumahnya. Persoalannya biaya hidup mereka bahkan tidak dapat dijangkau oleh pendapatan mereka yang kurang dari 2 USD per hari.

Mereka inikah yang terdampak kenaikan BBM? Oh jelas,… pengurangan subsidi BBM akan membuat nelayan semakin sulit melaut, petani garam sulit ke pasar lantaran biaya transportasi yang naik. Mereka perlahan akan mati jika mahasiswa yang superhero tidak berdemo dan turun ke jalan. Tapi ini pandangan dulu… pandangan ketika mahasiswa merasa harus jadi superhero membela sasaran yang tidak tepat sasaran. Nyatanya kaum ini hanya mengkonsumsi sebagian kecil BBM bersubsidi. 30% angka tepatnya, bahkan mungkin kurang dari itu. Yang ditakutkan mungkin hanya trickle- down effect yang terjadi pasca kenaikan harga BBM dan diikuti oleh kenaikan harga komoditas lainnya.

Yang terjadi dalam hati mahasiswa saat ini adalah short panic moment ketika semua harga dipastikan naik dan tiada mampu turun lagi. Bahayanya hal ini mungkin lebih menjadi phobia pengurangan subsidi di mata mahasiswa. Apa sebabnya? Ya harga yang melonjak… yaa kenaikan harga kopi di warteg, dan bahkan mungkin biaya transportasi antar jemput pacar. Semuanya terbentuk akibat pengalaman psikologis rakyat Indonesia dan mahasiswa khususnya karena kenaikan BBM di tahun 2004 silam. Secara mengejutkan, BBM naik hingga 300% dan ikut mendongkrak kenaikan inflasi sebesar 35% y-o-y di tahun yang sama. Semuanya terbentuk karena kecenderungan psikologis, perasaan terancam dan takut mati akibat kenaikan BBM. Hal ini yang kurang disadari dan dipelajari.

Apabila ditinjau secara logis. Subsidi BBM adalah subsidi paling konyol di dunia akhirat. Minyak mentah jenis brent, light sweet dan nymex kian melonjak harganya hingga mencapai lebih dari 110 USD per barel dan akan terus naik seiring semakin panasnya konflik di timur tengah. Apabila negara terus terusan melakukan subsidi bodoh ini, maka akibatnya fatal. Pembangunan di sector lain tidak jalan, public service offering juga mandek. Akibatnya jalan jalan rusak, Investasi terhambat, pengangguran bertambah, dan bahkan KRL semakin jarang bisa beroperasi. Hal ini akan berlangsung dalam jangka panjang apabila negara tidak segera mengurangi subsidi BBM. Proyeksi hitungan markov saya, kalo tidak salah, penurunan sekitar 3-3,5% dalam GDP growth selama sepuluh tahun ini akan terakumulasi. Tentunya ini buruk, bahkan sangat buruk. Di masa depan, apabila sampai nanti tahun 2016 harga BBM segini gini aja akan berdampak pada kondisi nantinya saat tahun 2020-an, masa kita yang mahasiswa ini naik tahta ke kursi anggota DPR, kita akan mengalami resesi sekali lagi seperti jaman tahun 1998 lampau. Bodoh apabila kita membiarkan negara kita reses di masa depan, dan membiarkan lebih banyak lagi rakyat yang jatuh dalam lingkaran pendapatan kurang dari 2 USD per hari.

Rekomendasi saya, lebih baik saat ini harga BBM kita naikkan, hingga nanti pada akhirnya mereka yang berpendapatan kurang dari 2 USD itu mendapatkan kompensasi atas kenaikan harga BBM berupa pelayanan public yang menjamin kesejahteraan hidup mereka. Pelayanan ini tentunya harus menjamin kesejahteraan dan kebutuhan sandang, pangan, papan dan kesehatan mereka. Dan kepada para mahasiswa rekan rekan saya, alangkah baiknya apabila sejenak kita diam tanpa suara, membaca lagi arah angin dan melihat kedepan kondisi negara kita. Jangan hanya berujar tapi landasi ujaran kita dengan hitungan hitungan yang intelektual.

Salam…


Berita Terkait