Pro Kontra BEM Sikapi Kenaikan Harga BBM

Ditulis oleh admin web   // Maret 22, 2012   // 0 komentar

universitas_indonesia_100802143215

Harga Bahan Bakar Minyak (BBM) yang direncanakan akan naik April mendatang terus menuai polemik dari berbagai kalangan. Tanggapan yang berbeda pun hadir dari pihak BEM (Badan Eksekutif Mahasiswa) tiap fakultas di UI.

Di FE misalnya, pihak BEM FE menerima dengan bersyarat rencana kenaikan harga BBM oleh pemerintah. Imam Fatwah selaku Kepala Departemen Kajian Stategis (Kadep Kastrat) BEM FE mengatakan bahwa mereka tidak mendukung kenaikan harga BBM begitu saja. Ada hal-hal yang harus digaris bawahi dari kenaikan harga tersebut, salah satunya adalah penekanan yang perlu dilakukan agar pemerintah memberikan solusi terkait masalah ini.

Salah satu solusi yang diberikan oleh pemerintah adalah dengan memberikan Bantuan Langsung Sementara Masyarakat (BLSM) namun keefektifannya masih disangsikan. Imam mengaku bahwa teknis pembagian BLSM masih kurang transparan dan rawan ricuh. “Jadi perlu dilakukan perbaikan teknis BLSM agar tidak terulang seperti tahun 2005 atau 2008,” ujarnya.

Menurut Imam, kenaikan harga ini justru akan mengurangi sikap konsumtif masyarakat akan BBM yang merupakan sumber daya alam yang akan habis nantinya. “Misalnya kalau harga premium murah maka orang akan memakai premium cenderung seenaknya. Berbeda jika harga BBM sudah menjauhi harga optimalnya, mungkin orang-orang akan berpikir dua kali untuk menggunakannya.”

Imam menambahkan bahwa konsumsi bahan bakar yang berlebihan ini juga tidak dibarengi dengan produksi karena produksi minyak mentah siap jual (lifting minyak) di Indonesia semakin menurun. Tahun 2012 ini, produksi minyak di Indonesia mampet di kisaran 890.000 barel per harinya. Hal ini pula yang menjadi alas an mengapa BEM FE menerima rencana kenaikan BBM tersebut.

Pendapat yang berbeda justru diutarakan oleh Wakil Kepala Departemen Kajian dan Strategi (Wakadep Kastrat) FISIP UI, Achmad Fadillah. Meskipun harga BBM belum resmi naik namun dampak rencana tersebut sudah memicu kenaikan harga-harga di sektor pagan yang merupakan kebutuhan pokok bahkan hingga rencana kenaikan ongkos transportasi. Hal inilah yang menjadi latar belakang mengapa munculnya kontra dari BEM FISIP terhadap kenaikan BBM. Bagi mereka ini bukan hal yang seharusnya dilakukan oleh pemerintah. “Solusi yang diberikan oleh pemerintah saja masih berantakan misalnya BLSM yang bukannya sampai tepat sasaran malah menimbulkan ricuh saat pembagiannya.”

Achmad Fadillah beranggapan bahwa dengan SDA Indonesia yang melimpah seharusnya Indonesia mampu melakukan lifting minyak dengan angka yang tinggi. Tapi kenyataan yang terjadi adalah kemampuan produksi minyak Pertamina sangat kecil yaitu 13,8%. Sehingga pemenuhan kebutuhan minyak masyarakat akan diambil alih oleh perusahaan asing di Indonesia.

Meskipun pihak BEM FISIP juga merasa bahwa kenaikan harga BBM merupakan suatu keniscayaan yang tidak dapat dihindari tapi mereka merasa bahwa masyarakat belum siap dengan kondisi tersebut.

Teks : Amalia Astari


Berita Terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat surel Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *