Melelahkan Sekali Ya, Naik Kendaraan Umum di Jakarta?

Ditulis oleh admin web   // Maret 26, 2012   // 1 komentar

busway3

Jakarta bukanlah hanya sebuah kota, bagi banyak orang yang hidup jauh dari Jakarta dan hanya mengenalnya lewat televisi, media cetak, atau lewat liburan yang hanya terlewati beberapa hari, mungkin akan menganggap bahwa Jakarta adalah sebuah tempat dimana mimpi-mimpi yang ada dapat terangkul dan terwujud. Ya, bilang saja bahwa pendapat di atas cukup naïf, tapi hal semacam itulah yang dirasakan banyak orang yang hidup di luar Jakarta. Kalau tidak, tidak banyak bukan orang yang berbondong-bondong pindah ke Jakarta untuk mengejar mimpi, dan urbanisasi pastilah bukan masalah yang cukup besar bagi negara kita.

Jakarta memang lengkap, seperti sebuah mall besar yang menyediakan berbagai macam barang. Jakarta juga indah, dua puluh empat jam kota ini bangun, dengan berbagai macam aktivitas yang ada. Namun ya, Jakarta barangkali memang hanya menyenangkan bagi orang-orang yang memiliki uang, atau setidaknya yah, kendaraan pribadi. Miris memang, tapi kenyataannya memang seperti itu.

Bicara soal kendaraan pribadi, memang kendaraan pribadi masih di butuhkan di Jakarta dan sekitarnya, walaupun kita tahu ada banyak transportasi umum mulai dari TransJakarta yang entah kenapa sering disebut sebagai busway, padahal kita tahu sendiri bahwa terjemahan dari busway bukanlah berarti sesuatu yang dapat dinaiki, angkot,kereta, taksi, hingga kopaja dan metromini yang sekarang di bagian belakangnya banyak dipasangi poster kampanye untuk pemilu pilkada DKI Jakarta. Namun diantara banyaknya transportasi umum yang ada, sepertinya tidak ada satupun yang benar-benar memenuhi perasaan nyaman orang-orang yang tinggal di daerah Jakarta dan sekitarnya.

Dari beberapa macam transportasi umum yang disebutkan di atas, yang paling memenuhi rasa nyaman para penumpang paling-paling hanyalah Trans Jakarta dan taksi, tetapi kita tahu sendiri terbatasnya koridor Trans Jakarta yang ada, juga rumitnya cara saat ingin mencapai beberapa tempat tujuan karena harus berganti koridor-sedikit membingungkan terutama bagi mereka yang tidak terbiasa menaiki bus Trans Jakarta-. Sedangkan taksi, yah, kita tahu sendiri betapa taksi tidak mencukupi kenyamanan kantong sebagian masyarakat Jakarta yang memiliki pendapatan tak seberapa, walaupun untuk soal kenyamanan dan privasi, taksilah yang nomor satu. Angkot, bus kota, dan metromini yang telah lama berlalu lalang di jalanan Jakarta memang cukup ramah bagi kantong masyarakat Jakarta, tetapi kita tahu sendiri betapa ugal-ugalannya para sopir yang menyetir angkutan-angkutan tersebut, serta tindak kriminal mulai dari pencopetan hingga yang baru-baru ini marak diberitakan di televisi, yakni pemerkosaan. Bukannya mau sok paranoid, tetapi hal-hal semacam itu tentulah sangat mengurangi kenyamanan para penumpang.

Lalu kereta, ya, transportasi yang satu ini sepertinya kini cukup dekat dengan masyarakat, walaupun harga yang ditawarkan sedikit lebih mahal dari Trans Jakarta apalagi dari transportasi umum semacam angkot, metromini dan bus kota. Kemudahan dalam menjangkau tempat-tempat tujuan menjadi alasan mengapa transportasi yang satu ini menjadi lebih popular bagi masyarakat yang tinggal di Jakarta dan sekitarnya. Namun seperti transportasi-transportasi umum Jakarta dan sekitarnya yang tadi telah disebutkan, kereta masih belum bisa memenuhi kenyamanan maksimal masyarakat Jakarta dan membuat mereka lebih memilih transportasi umum ketimbang kendaraan pribadi. Pemandangan atap kereta yang dipenuhi oleh orang-orang seolah seperti sebuah karnaval kereta yang melintas di atas rel, belum lagi penuh sesaknya kereta pada jam kerja hingga membuat para manusia di dalamnya tak ubahnya seperti barang-barang usang yang dijejalkan seenaknya ke dalam laci sempit, dan membuat tindak pencopetan menjadi mudah dilakukan. Penuh sesaknya kereta ini juga menimbulkan rasa kurang nyaman bagi penumpang wanita, memang bisa kita temukan gerbong khusus wanita dengan stiker besar berwarna merah muda, tetapi masihkah dapat disebut gerbong khusus wanita jika masih ada satu dua lelaki yang tertinggal di dalamnya?

Menyalahkan. Kalau sudah bicara soal masalah-masalah sosial di Jakarta, dalam hal ini masalah transportasi umum, semua orang pasti saling menyalahkan. Orang dengan kendaraan pribadi menyalahkan beberapa transportasi umum di jalanan yang suka seenaknya, pengemudi transportasi umum menyalahkan pengemudi kendaraan pribadi, pengguna transportasi umum menyalahkan pemerintah, dan pemerintah menyalahkan masyarakat yang sulit di atur, semacam itulah. Saling menyalahkan, tapi tak banyak orang yang mampu memberi solusi. Mungkin lama-kelamaan, ketika orang bosan saling tuding sana tuding sini, Tuhan lah barangkali yang akan disalahkan karena menciptakan negara semacam Indonesia dengan ibukota semacam Jakarta. Lalu sebenarnya, siapa yang dapat disalahkan dalam hal ini?

Kita semua memang tidak dapat terlalu menyalahkan orang-orang yang duduk di atap gerbong kereta, dan menganggap mereka orang-orang yang tidak tahu aturan dan seenaknya. Harga kereta bagi orang kelas menengah dan kelas atas mungkin tergolong murah, tetapi bagi kalangan bawah harga tiket kereta cukup mahal, bahkan mungkin seharga dengan apa yang bisa mereka beli untuk dimakan. Terlalu naïf bila kita terus-menerus mempertanyakan mengapa kita tidak bisa memiliki budaya tertib seperti negara tetangga Singapura, atau seperti negara lain yang terkenal dengan ketertibannya, tentu saja, kalau sudah bicara soal uang, apakah kita semua masih ingat tata cara hidup tertib? Kita juga tahu bahwa pencopetan yang ada di dalam angkutan umum  sangatlah mengesalkan, betapa di dalam dompet itu tersimpan uang yang akan kita pergunakan untuk hal-hal penting, belum lagi identitas-identitas diri yang untuk mengurusnya kembali harus melalui birokrasi yang sulit, dan betapa ponsel merupakan benda yang sangat diperlukan di zaman dengan kemajuan teknologi seperti ini. Kita mungkin tidak dapat memaklumi tindakan pencopet, tetapi selalu ada alasan bagi seseorang untuk berbuat jahat, pencopet biasanya berbuat begitu karena ia membutuhkan uang. Untuk mencari kerja? Sudahlah, banyak orang berbicara dengan bijaknya agar jangan bermalas-malasan, bekerjalah bila ingin mencari uang, tetapi semudah itukah mencari kerja? Bahkan lulusan sarjanapun kini banyak yang menjadi pengangguran.

Soal pemerkosaan di angkutan umum yang masih hangat-hangatnya diperbincangkan sebenarnya  adalah satu masalah yang lebih mudah untuk diantisipasi. Cukuplah kita mempertanyakan siapa yang salah, apakah supir angkutan yang tidak dapat menahan nafsunya ataukah para perempuan yang seharusnya lebih menjaga cara berpakaian. Mengapa tidak sama-sama berkaca lantas mengantisipasi agar hal-hal yang buruk tidak terjadi? Si supir angkutan harusnya sadar dengan pekerjaannya dan dengan tanggung jawabnya, sementara penumpang perempuan menjaga cara berpakaiannya.

Pemerintah disini sebenarnya juga tidak dapat berlepas tangan begitu saja, karena walaupun kita menyadari bahwa Jakarta adalah sebuah kota yang kompleks dengan berbagai macam penduduk di dalamnya dan barangkali mengatur Jakarta tidak semudah mengatur ibukota-ibukota lain di negara maju, tetapi memang dapat kita rasakan bahwa usaha pemerintah dalam membenahi transportasi umum belum maksimal. Disini kita tidak sepenuhnya menyalahkan pemerintah dan menjelek-jelekannya, karena hingga akhir dunia pun barangkali tidak ada orang yang benar-benar bisa membenahi Jakarta yang terlalu rumit, lupakan soal impian ratu adil dan sebagainya dan kembali pada kenyataan. Namun alangkah baiknya apabila dengan segenap tenaga, pemerintah benar-benar serius membenahi masalah di Jakarta, dan dalam konteks ini, transportasi umum. Sejauh yang kita tahu, pembangunan koridor Trans Jakarta selama beberapa tahun belakangan ini sedikit lambat, kereta pun juga sering mengalami kerusakan di jalan dan itu sangat mengganggu aktivitas masyarakat. Kekacauan di jalan raya pun sepertinya kurang diperhatikan dengan serius, karena sanksi bagi yang melanggar peraturan lalu lintas agak bias dan tidak adil. Angkutan-angkutan yang sudah tidak layak pun sebenarnya dapat dibenahi, diganti dengan angkutan yang lebih layak untuk dinaiki. Kita semua tahu, orang-orang yang berada di tangga-tanga tinggi pemerintahan mungkin sekarang tidak merasakan panasnya berdesak-desakan di kereta, antrinya halte Trans Jakarta, atau tak nyamannya angkutan umum, tetapi alangkah baiknya jika mereka menumbuhkan rasa simpatik dalam hati mereka. Banyak diantara kita yang telah kehilangan rasa simpatik, bahkan mungkin sudah lupa definisi dari rasa simpatik.

Memang mudah menyalahkan orang lain di tengah sebuah kota yang identik dengan hiruk pikuk dan ketidaknyamanan yang membuat pikiran menjadi semrawut. Namun barangkali kita bisa sejenak menarik nafas, menutup mata, dan berpikir dengan lebih bijak agar dapat sedikit demi sedikit menyelesaikan masalah yang ada tanpa perlu menuding-nuding dan melemparkan kesalahan pada orang lain.

Teks : Intan Kirana

Foto : Dok. Pos Kota


Berita Terkait

1 KOMENTAR

  1. By Issa, November 19, 3764

    Lagian ngapain naik kendaraan umum? Panas, gerah, lama. Kemungkinan di grepe-grepe gede. Selama premium masih 4.500, mending pake kendaraan pribadi aja.

    Balas

Tinggalkan Balasan

Alamat surel Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *