Soal BBM, Kita Kehilangan Hati

Ditulis oleh admin web   // Maret 29, 2012   // 0 komentar

Opini oleh Cendy Adam – Mahasiswa FH UI 2010 – Kepala Bidang Kajian Pers Suara Mahasiswa UI

Cerdas-cerdaslah mahasiswa. Cerdaslah ilmu,

Cerdaslah pikir,

Cerdaslah hati.

Berdebat mereka mempertahankan pendiriannya, yakin, pasti. Semua statistik dan data mereka pegang dan jabarkan satu-satu. Di kesimpulan debatnya mereka berkata puas, “saya dukung kenaikan harga BBM”, ada senyum di sana ketika lawannya tetap bertahan pada sisi yang lain.

- Kenali Bangsamu

Pramoedya Ananta Toer pernah menulis

Kereta meninggalkan halaman depan. Memasuki jalan raya suasana hati mulai berubah. Kau tak kenal bangsamu sendiri! Sekarang dengan tambahan: Kau tak kenal negrimu sendiri! Baik, aku tak mengenal bangsa dan negriku. Perasaan malu yang pada tempatnya. Aku akan tebus dakwaan tak tertangkis yang pada tempatnya. Aku akan tebus dakwaan tak tertangkis itu. Berapa kati kiranya yang dipikul lelaki bercelana tanggung di depan sana itu? Aku tak tahu. Ia memikul keranjang tinggi kacangtanah. Akankah dijual pada siapa? Di mana? Kacang Cuma sepikul itu? Aku tak tahu. Berapa harganya? Aku tak tahu. Apakah cukup untuk makan seminggu? Aku tak tahu. Tak tahu! Tak tahu! Apa badannya cukup sehat untuk memikul? Juga tidak tahu. Apa ia terpaksa memikulnya? Makin tidak tahu. Berapa panennya dalam setiap seratus meter persegi? Gila! Pertanyaan itu mulai menganiaya pikiran. Ya, itu baru tentang seorang pemikul kacang, kau, goblok yang tinggihati! Kalau kau tidak tahu tentang pokok yang sekecil itu, kau hanya melihat tubuhnya dan geraknya. Sungguh memalukan kalau kau menulis tentangnya, hei, kau pengarang besar!

Dalam buku Anak Semua Bangsa dikisahkan Minke, penulis terkenal dengan nama samaran Max Tollenaar, yang tidak mau menulis dalam bahasa melayu. Ia selalu menulis dalam bahasa Belanda. “Kau harus menulis dalam melayu”, ujar Jean Marais.

Saya kira pesan dalam bagian itu bukan hanya terbatas masalah bahasa yang dipakai Minke, tapi lebih luas, bahasa dan cara berpikir Belanda (penjajah). Dari pesan implisit inilah muncul kritik dari Kommer “Tuan tidak mengenal bangsa Tuan sendiri”.

- Kita dan Beban

Belakangan barangkali kita sudah lebih daripada kenyang melihat perdebatan-perdebatan soal kenaikan harga BBM. Semua perkiraan dan data, bahkan kita ngelu dengan itu. Sejauh ini, dari informasi yang saya dapat, setidaknya sudah ada tiga BEM fakultas di UI yang mendukung opsi itu, BEM FT, BEM FE, BEM FH. Orang-perorangan lebih banyak lagi yang mendukung kebijakan menaikkan harga BBM.

Tapi ada hal yang menarik untuk disoroti. Ekspresi wajah orang-orang yang mempertahankan argumen untuk mendukung kebijakan tersebut. Terlihat sangat yakin, tanpa beban, bahkan tidak jarang sampai tertawa ketika merasa berhasil memenangi perdebatan. Saya kira, ekspresi hasil integrasi pikir dan rasa itu tidak tepat.

Pernah terjadi waktu siang cerah di Jawa  Tengah. Pulang terburu-buru, anak kelas 4 SD berpikiran polos akan harapan : hari ini dapat uang untuk ikut jambore. Sudah mulai seminggu kemarin dia berpesan ke Ibunya dan setiap hari ibunya selalu mengucapkan janji yang sama “besok”. Sedangkan bapaknya jauh, di luar pulau.

Pada setiap Makan siang, ganti baju, anak itu menyasar langsung waktu ibunya pulang. Sore yang cerah, saya masih ingat. “Nanti”, langsung jawaban itu keluar dari mulut Ibu. Anak polos itu cemberut tanpa bantah, dan memilih duduk di pelataran melihat-lihat gambar di koran bekas dua hari kemarin. Dia Cuma melihat ibunya kemudian pergi.

Pada suatu ketika selesai sholat maghrib, Pamannya berkata, “Ibumu pulang”. Maka Berlarilah dia keluar, untuk kesekian kalinya ia memburu Ibunya. Cerah wajahnya tiba-tiba, melihat Ibunya pulang tertawa cerah ditengah obrolan dengan dua orang temannya. “iki lho mbak, aku entuk telungewu” (ini lho mbak, aku dapat tiga ribu).

Sekali lagi, ekspresi anak kecil polos, lari si anak kecil girang mendapati tangan ibunya. “Bu, buat bayar pramuka, tiga ribu”, otomatis kata itu keluar. Sebentar ekspresi si Ibu langsung berubah, gemas, kesal, marah. Dipukulnya bahu anak itu. Menangis, mereka berdua, anak dan Ibu. Tangis anak karena merasa sakit dan takut, tangis Ibu karena marah, kesal, putus asa karena uang tiga ribu rupiah, mungkin ibu tersebut berfikir, tiga ribu, untuk anak, dan Aku seorang Ibu. Ya Allah.

Dan mungkin kita tidak pernah tahu seberapa besar pengaruh uang tiga ribu rupiah. Jumlah tidak besar dan bahkan sangat kecil tapi mampu membuat seorang Ibu menangis putus asa dan merasa tak berguna. Di ujung sana, di belahan lain Indonesia, dimana orang-orangnya tidak pernah kita kenal mungkin masih banyak “anak” dan “ibu” lain. Tuan yang tak kenal bangsa sendiri!

Mereka yang yakin, yang tertawa saat memenangi debat-debat harusnya tidak pernah tertawa puas. Oh Saya lupa, mereka tidak pernah tahu ada orang-orang murung mendengar berita akan kenaikan BBM di televisi. Seperti murungnya “ibu” yang lain, yang sambil menatap kosong ke anak-anaknya. Inilah realitas mahasiswa dengan realitas bangsa Indonesia.

Terakhir, mungkin secara tekstual pernyataan ini terlalu khusus kepada mahasiswa hokum, tapi dengan maknanya saya kira bisa ditarik secara umum.:

“Sebelum lulus sebagai seorang sarjana hukum, mahasiswa hukum haruslah lulus terlebih dahulu sebagai manusia” – (Satjipto Rahardjo)


Berita Terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat surel Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *