Solusi Akhir atau Solusi Cepat?

Ditulis oleh admin web   // April 1, 2012   // 1 komentar

DSC_6015

Opini oleh Ghaida Rahmah – Reporter Suara Mahasiswa UI

Pro kontra mengenai kenaikan BBM yang bergulir saat ini, seharusnya tak perlu terjadi. Di tahun 2006 lalu, ketika wacana kenaikan BBM juga digulirkan, pemerintah mengemukakan solusi Indonesia 10.000 megawatt. Namun hingga detik ini belum juga ada realisasi konkret yang dapat dirasakan dari solusi tersebut. Padahal jika saja Pemerintah serius menggarap proyek 10.000 mw, kebutuhan akan BBM untuk suplai listrik bukanlah menjadi masalah.

Kenyataan yang juga menyedihkan adalah batu bara Indonesia yang diekspor ke luar negeri. Batu bara dapat digunakan sebagai sumber energi alternatif dalam rangka mengatasi melonjaknya harga BBM akibat meroketnya harga minyak mentah dunia. Namun, dari cadangan batu bara Indonesia yang mencapai 19,3 miliar ton, yang dimanfaatkan untuk kebutuhan dalam negeri sangat kecil jika dibandingkan dengan jumlah batu bara yang diekspor.Dari produksi batubara nasional rata-rata per tahun sebesar 131,72 juta ton, yang dimanfaatkan di dalam negeri baru 32,91 juta ton/tahun, sedangkan selebihnya, yaitu sebanyak 92,5 juta ton diekspor ke luar negeri.  Kondisi tersebut sangat ironis mengingat biaya penggunaan batubara sebetulnya jauh lebih murah ketimbang penggunaan BBM. Sebagai perbandingan, untuk memproduksi 1 ton steam jenuh 5 bar/jam dengan menggunakan batubara sebagai bahan bakar akan menghemat pengeluaran perusahaan sebesar Rp 415.119.048/tahun (20 jam produksi/hari, 300 hari operasi /tahun).

Mengenai energi panas bumi di Indonesia, yang juga amat sayang untuk dilewatkan begitu saja. Indonesia dilalui sabuk vulkanik yang membentang dari Pulau Sumatra, Jawa, Nusa Tenggara, Maluku dan Sulawesi. Di dalam sabuk vulkanik itu terdapat sekitar 117 pusat gunung berapi aktif yang membentuk jalur gunung api sepanjang kurang lebih 7.000 km. Rasanya wajar jika Indonesia memiliki 40 persen potensi panas bumi di dunia karena Indonesia memiliki 265 lokasi panas bumi dengan total potensi energi mencapai 28.100 Mwe. Ironisnya, baru 4 persen saja (1.189 KWe) dari potensi panas bumi tersebut yang telah dimanfaatkan. Bandingkan dengan Filipina yang telah memanfaatkan 44,5 % potensi energi panas buminya.

Minimnya pemanfaatan energi panas bumi ini tergambar dari komposisi sumber listrik di Tanah Air. Listrik yang digunakan di Indonesia sebagian besar memanfaatkan energi konvensional. Baru 3 % saja dari tenaga listrik yang ada di Indonesia yang memanfaatkan energi panas bumi. Sementara, BBM 20,6 %, batubara 32,7 %, dan gas alam 32,7 %.. Pemerintah terkesan kurang fokus dalam pemanfaatan energi alternatif ini. Terlebih dengan adanya berbagai kendala, seperti tidak mudahnya membangun infrastruktur untuk mengcover energi panas bumi., sehingga Indonesia dinilai belum siap. Sebenarnya bukan masalah siap atau tidak siap, tetapi sejauh mana usaha yang dilakukan untuk mencapai tujuan yang ingin dicapai.

Lamban serta kurangnya kreativitas, itulah kesimpulannya. Menaikkan harga BBM terkesan seperti jalan terakhir yang harus diambil, karena tidak ada pilihan lain. Entah karena tak ingin repot – repot memusatkan perhatian ke energi alternatif, sehingga cenderung memilih jalan mudah dan cepat, yang justru kenyataannya jauh dari kata mudah karena dampak yang dihasilkan. Jikalau memang orientasinya untuk kesejahteraan rakyat, ketika solusi belum ditemukan, bukan berarti BBM harus dinaikkan dan subsidi dihapuskan. Terus berusaha untuk menemukan jalan keluar yang terbaik, bukan hanya sebatas wacana tapi realisasi dan keseriusan dalam tindakan.

 


Berita Terkait

1 KOMENTAR

  1. By sony, November 14, 3804

    Ada yang bilang. Duit subsidi BBM tahun ini akan habis bulan agustus. Terus gmn ya nanti. Pembatasan?. atau suruh beli pertamax

    Balas

Tinggalkan Balasan

Alamat surel Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *