RUU Keadilan dan Kesetaraan Gender Masih dalam Pembahasan Panjang

Ditulis oleh admin web   // April 12, 2012   // 0 komentar

gender

Senin (9/4) bertempat di Auditorium Perpustakaan Pusat UI lantai 6, SALAM UI mengadakan kajian mengenai RUU Keadilan dan Kesetaraan Gender. RUU KKG menjadi topik hangat setelah masalah RUU Perguruan Tinggi Negeri. Beberapa pihak menolak RUU ini karena dianggap draft tersebut memiliki gambaran yang keliru dan berlebihan tentang kemajuan perempuan dalam pembangunan.

Sebelum masuk ke dalam ruang auditorium, peserta dibagikan dua selebaran berisi pernyataan sikap Majelis Intelektual Muda Indonesia (MIUMI) tentang RUU KKG dan menelusuri paham kesetaraan gender dalam studi Islam : Tantangan Terhadap Konsep Wahyu dan Ilmu dalam Islam.

Henri Shalahuddin, Heru Susetyo, serta Lusi (tidak disebutkan nama lengkapnya) menggantikan Ledia Hanifa sebagai salah satu perwakilan anggota DPR RI. Sementara Adnan Mubarok dari Fakultas Hukum UI menjadi moderator dalam acara ini. Acara dibuka dengan sari tilawah Al-Quran, dilanjutkan dengan diskusi dari ketiga pembicara.

Heru Susetyo menyatakan “pilihan yang saya berikan hanya dua, RUU KKG harus dikritisi atau ditolak.” Menurutnya, definisi gender dalam RUU tersebut tidak dapat dibenarkan dalam ajaran Islam.

Diskusi berkembang dan menekankan bahwa perempuan harus memenuhi kewajibannya sebagai ibu rumah tangga dan pendidik anak-anak di rumah. Henri menolak paham feminisme karena baginya hal tersebut dapat menghancurkan insitusi keluarga. Lusi sendiri memberi penjelasan bahwa RUU KKG masih dalam pembahasan yang panjang dan masih dapat disesuaikan dengan masyarakat.

Raisa Aurora


Berita Terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat surel Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *