UAN, Hantu yang Bergentayangan Setiap Tahun

Ditulis oleh admin web   // April 20, 2012   // 0 komentar

uan

Opini oleh Intan Ayu Dewintya Kirana

Minggu ini, hari-hari yang menegangkan bersama seperangkat alat tulis 2B dan lembar-lembar jawab komputer sedang dilewati oleh siswa-siswi yang duduk di kelas tiga SMA.  Ialah UAN, alias Ujian Akhir Nasional. Sebuah ujian yang sangat “sakral” bagi para siswa dan siswi tingkat akhir. Meskipun bobot penilaian dari UAN tahun ini tak seberat dulu, dimana kini UAN hanya memiliki peran sebesar 60 persen dalam kelulusan, sementara 40 persennya ditentukan dari ujian sekolah, tetapi UAN tetap saja menjadi momok yang mengerikan bagi para siswa dan siswi. Ya tentunya karena dalam UAN, pihak sekolah sama sekali tak memiliki kontrol dalam menentukan kelulusan para siswa dan siswi, berbeda halnya dalam ujian sekolah alias UAS. Selain itu, nilai 5.5 sebagai batas kelulusan juga dirasa berat bagi sebagian siswa dan siswi

Sudah menjadi rahasia umum bahwa beberapa bulan sebelum UAN, sekolah-sekolah telah berusaha untuk “menggojlok” para siswa dan siswinya agar siap bertempur di medan ujian nanti. Entah dengan kelas tambahan sebelum atau sesudah jam sekolah, dimana dalam sesi kelas-kelas tersebut dibahas mengenai model-model soal yang sekiranya akan keluar pada saat UAN nanti. Tak hanya itu, kisi-kisi mengenai materi yang nanti akan keluar pun biasanya telah banyak tercetak di beberapa LKS yang berisi soal-soal latihan UAN.

Namun dengan persiapan semacam itu, rasa takut tetap tak dapat dihindari oleh para siswa dan siswi. Bahkan ketakutan-ketakutan seperti itu dapat memunculkan tindakan-tindakan yang seharusnya melanggar hukum, seperti mencari kunci jawaban, atau menuliskan contekan di tempat yang dianggap aman, seperti di balik rok sekolah, atau di balik penghapus, atau di tempat manapun, tergantung kreativitas masing-masing siswa, dan kita tentunya yakin bahwa semakin hari para siswa dan siswi semakin kreatif saja dalam melakukan hal semacam ini.

Mita (bukan nama sebenarnya), salah seorang siswi SMA, bahkan mengaku bahwa di pagi hari sebelum ujian, ia mendapatkan kiriman pesan singkat yang berisi jawaban pilihan ganda ujian nasional dari semua tipe, “Aku udah belajar buat UAN, tapi kunci jawaban ini buat jaga-jaga aja sih, kalau nanti waktu UAN kepepet nggak bisa jawab soal.”. Ia juga menceritakan bahwa beberapa guru les privat yang mengajar teman-teman juga kakak kelasnya selalu memiliki kunci jawaban, dan dari tahun ke tahun, biasanya kunci jawaban tersebut benar sekurang-kurangnya 80 persen. “Kita kan UAN bukan buat saingan kayak tes masuk PTN. UAN itu kan harusnya saling membantu, biar satu sekolah pada lulus.,” ujarnya lagi

Terlepas dari mencontek adalah sebuah perbuatan tercela menurut versi pelajaran PPKn dan Agama,  dan mencontek adalah salah satu sumber dari tindak korupsi di masa mendatang, tidak bisa kita pungkiri bahwa sedari memasuki bangku sekolah, para siswa dan siswi secara langsung telah dicekoki anggapan bahwa ujian, adalah sebuah hal yang diadakan hanya untuk mengukur kepandaian lewat nilai dan kelulusan. Jadi, apabila para siswa dan siswi tidak mencapai batas nilai yang telah ditentukan, atau tidak lulus, berarti mereka bodoh. Di dunia ini tidak ada bukan orang yang ingin dicap sebagai “si bodoh”?  Dan para siswa dan siswi tentunya akan melakukan segala cara untuk tidak dianggap bodoh, mulai dari berlatih soal dengan giat, mengikuti program-program khusus UAN di pusat bimbingan belajar, hingga mencari kunci jawaban.

Opsi terakhir inilah yang banyak digunakan oleh para siswa, tentunya karena sebelumnya hati mereka telah diliputi oleh ketakutan akan ketidaklulusan dan cap bodoh yang nanti akan diterima oleh mereka.  Bahkan, pagi ini, media telah banyak memberitakan kecurangan-kecurangan yang terjadi pada ujian Bahasa Indonesia di hari pertama ini, berikut juga pihak-pihak penyelenggara yang telah banyak kecolongan. Seolah-olah, dalam UAN ini, pertempuran  tidaklah terjadi antara siswa dan soal-soal ujian, melainkan di antara siswa dan pihak penyelenggara, baik dinas pendidikan, maupun para pengawas.

Padahal, kita tentunya tahu bahwa orang memiliki kepandaian yang berbeda-beda, dan ujian, dalam hal ini UAN, tidak dapat menjadi alat ukur yang tepat bagi jenis kepandaian yang berbeda-beda tersebut. Entahlah, kalau dilihat dari soal UAN dari tahun ke tahun pun, UAN bahkan tidak dapat menjadi alat ukur bagi kepandaian para siswa dan siswi dalam menguasai mata pelajaran yang diujikan dalam UAN sekalipun. Mengapa? Seperti yang kita tahu, UAN hanyalah sebuah ujian yang berisi soal-soal yang jenisnya sama dengan soal-soal latihan yang dibuat sesuai dengan kisi-kisi UAN yang telah beredar sebelumnya.

Maka bila seorang siswa rajin berlatih dengan tipe-tipe soal yang sesuai dengan kisi-kisi UAN, maka ia pun akan dapat melewati UAN dengan lancar. Dan orang yang rajin berlatih soal-soal matematika dengan tipe-tipe sesuai dengan kisi-kisi UAN lantas mampu menjawab soal dengan tipe yang sama dalam UAN, bukan berarti ia benar-benar menguasai seluruh pelajaran matematika yang telah diajarkan selama kurun waktu tertentu bukan? Mendapatkan nilai tinggi dalam Bahasa Inggris misalnya, tidak berarti ia orang yang fasih berbahasa Inggris bukan? Mengingat sebelumnya ia telah terbiasa menemui tipe-tipe soal yang sama. Lagipula, kebijakan bahwa apabila nilai seorang siswa dalam sebuah mata pelajaran yang diujikan dalam UAN tidak mencapai  batas tertentu, kendati dalam mata pelajaran lain nilainya tinggi, tak akan membantunya untuk lulus, adalah sebuah kebijakan yang entah naif, ataukah bodoh. Yah barangkali pemerintah kita ingin mencetak lulusan-lulusan SD, SMP, dan SMA yang mampu dalam semua bidang yang diujikan, tetapi manusia bukanlah gadget serbaguna yang memiliki kemampuan yang baik dalam semua bidang. Manusia hidup dengan kemampuan yang berbeda-beda, tapi barangkali sistem pendidikan di negara kita tidak mau tahu dengan hal itu.  Atau mungkin mereka lupa bahwa Indonesia terdiri dari sekitar 250 juta rakyat yang spesiesnya adalah manusia.

Saya pernah mendengar pernyataan menggelitik yang berbunyi seperti ini, “Kenapa harus ngeluh sih karena kelulusan setelah sekolah bertaun-taun itu ditentuinnya cuma sama UAN dan sekarang sama UAS, toh juga kuliah nanti lulusnya cuma ditentuin sama skripsi doang?”. Masalahnya adalah, sistem UAN dan skripsi itu berbeda. Skripsi dibuat oleh mahasiswa berdasarkan  apa yang telah dia pelajari dan kuasai selama kuliah beberapa tahun belakangan ini, sedangkan UAN dibuat oleh pihak penyelenggara pendidikan untuk dikerjakan oleh para siswa dan siswi agar mendapatkan kelulusan, terlepas apakah ia telah benar-benar  menguasai pelajaran-pelajaran dalam UAN tersebut. Sementara skripsi melatih para mahasiswa untuk berpikir kritis dan kreatif, UAN, dengan kisi-kisi yang telah diedarkan sebelumnya membuat para siswa dan siswi berpikir statis.

Walaupun begitu, memang tidak bisa membenarkan tindakan tak jujur yang dilakukan pada saat UAN berlangsung, “Ya mau gimana lagi Mbak, mau nggak mau harus belajar keras..”, kata Linda, seorang siswi SMP yang minggu depan akan menghadapi UAN,”Kalau buat nyari kunci aku nggak kepikiran, nggak berani, kalau ketauan, terus nggak lulus, masuk TV,  bagaimana? Malu kan.. Mendingan bersusah-susah dulu sekarang, nggak main, nggak nonton tv, Cuma belajar latian-latian soal, yang penting bisa lulus UAN dan dapat NEM bagus biar bisa masuk SMA favorit..”, tambahnya.

Cara apapun yang dipakai oleh para siswa dan siswi untuk lulus, mulai dari cara yang benar hingga cara yang paling nekat seperti memakai bocoran sekalipun, tujuan mereka hanya satu, untuk mendapatkan ijazah. Gembar-gembor mengenai pengadaan CCTV di kelas-kelas pun sepertinya tak akan dapat membendung “kenakalan-kenakalan” beberapa siswa dan siswi dalam melewati ujian nasional. Semuanya tentu kembali pada diri masing-masing siswa dan siswi, dan tentunya, pemerintah, dalam hal ini dinas pendidikan, seharusnya membuka telinga dan mata agar dapat memperbaiki sistem pendidikan di Indonesia, termasuk UAN.

 


Berita Terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat surel Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *