Selamatkan Hutan Kota UI

Ditulis oleh admin web   // April 23, 2012   // 0 komentar

DSC_5183

Master Plan menjadi patokan pihak rektorat Uniersitas Indonesia (UI) melakukan pembangunan berbagai prasarana di kampus UI Depok. Guna merealisasikan Master Plan yang terus berubah tiap pergantian rektor, UI pun membutuhkan lahan yang tidak sedikit. Sehingga, beberapa areal hutan kota UI yang dulun ditanami para pendahulunya, kini dialihfungsikan guna terwujudnya Master Plan. UI pun merasa alihfungsi lahan hutannya tetap bercitarasa ‘kampus hijau’.

Beberapa waktu lalu, saat ditemui Suara Mahasiswa, Sekretaris MWA UI Damona Poespawardaja mengatakan, lahan yang dipakai untuk pembangunan perpustakaan baru UI merupakan areal hutan yang ditanami pohon jati emas. “Padahal, penanaman jati emas tersebut diperkarsai sendiri oleh Gumilar (Rektor UI),” ujar Damona.

Persoalan hutan di UI, tak luput dari perhatian Tarsoen Waryono selaku ahli perencana hutan kota. Menurutnya, hutan di kampus UI Depok dikategorikan sebagai  hutan kota. Hutan kota yang dimaksud, ialah adanya aktivitas perkotaan berdampingan dengan kawasan hutan yang memiliki 900 pohon perhektarnya.

“Menurut pemerintah, keberadaan hutan kota di Jawa Barat dan DKI Jakarta hanya ada di UI,” kata Tarsoen pada diskusi publik Save Hutan UI yang digelar oleh Dep. Lingkungan Hidup BEM UI, senin (20/4/2012) di ruang diskusi lantai 5 Perpustakaan Pusat.

Menurut data (tanpa tahun) dari Tarsoen, kampus UI Depok meiliki lahan seluas ± 312 ha. Terdiri dari, bangunan ± 165 ha, ekosistem lanskap (tata ruang di luar gedung penunjang aktivitas kemahasiswaan) ± 27 ha, ekosistem perairan (danau buatan UI) 30 ha, dan hutan kota sendiri seluas ± 90 ha.

Hutan kota UI pun diberi nama Mahkota Hijau sebagai miniatur hutan tropis Indonesia. “Kawasan hijau binaan 120 ha (hutan kota dan danau buatan UI) sendiri merupakan wilayah konservasi resapan air daerah DKI Jakarta dan sekitarnya,” ujar dosen peraih Kalpataru ini.

Namun di tempat terpisah, Suara Mahasiswa menemukan laporan penelitian bernomor 609/PT02.HI/N/2000 yang diperkasai tim ahli Geografi FMIPA UI pada 2001 silam yang menyebutkan, luas keseluruhan hutan kota kampus UI Depok hanya 55,4 ha.

Penelitian itu juga mengatakan, luas hutan kota UI sangat kecil bila dikaitkan dengan fungsi hidrologisnya untuk kota Jakarta. Beruntung, UI masih memiliki danau buatan yang berfungsi sebagai daerah resapan atau penampung aliran air tanah saat terjadi musim kemarau.

Tempat Hidup Flora dan Fauna

Keberadaan pepohonan hutan kota UI sendiri menurut Tafsoen,  menjadi simbolisasi dari sifat Kebhinekaan Tunggal Ika. Maksudnya, mewakili berbagai jenis pepohonan dari wilayah waktu bagian barat (Wales Barat) hingga wilayah waktu bagian timur (Wales Timur) di Indonesia.

Penjabaran pepohonan yang ada di hutan kota UI dibagi ke dalam tiga zona. Pertama, Zona Vegetasi Asli, yakni mengoleksi vegetasi (kehidupan) setempat (Jakarta-Depok). Selanjutnya, Zona Wales Barat yang merupakan vegetasi asli wilayah waktu bagian barat Indonesia. Jenis vegetasinya, antara lain jati, meranti, kopi, dan karet. Terakhir, Zona Wales Timur, di antaranya kayu hitam, cengkeh, pala, dan matoa.

Nurul Winani selaku peneliti di Pusat Studi Perubahan Iklim UI menuturkan, keberadaan hutan kota UI turut menjaga keberlangsungan populasi burung yang hidup di UI. Awalnya pada tahun 1989-1991 di UI, terdapat 65 jenis burung namun, sekitar tahun 1996 malah menurun menjadi 23 jenis. Penelitian terakhir pada 2006, ada peningkatan, yakni terdapat 39 jenis burung.

“Awalnya (tahun 90-an), ketika masih banyak hutan UI, sehingga masih banyak juga berbagai jenis burungnya,” ujar Nurul yang juga menjadi pembicara pada diskusi itu. Dirinya juga mengaku, entah darimana asalnya sering melihat kawanan bebek jenis Dendrocygna javanica, mampir berenang di sekitar danau rektorat UI saban petang hari. “Sekarang kawanan bebek tersebut, sudah jarang terlihat lagi,” ujara Nurul.

Keberadaan hutan kota UI, ternyata menarik minat kehadiran hewan berbahaya sejenis ular tanah yang mematikan. “Hingga saat ini, ada 16 ekor ular tanah yang berkeliaran di sekitar hutan UI,” tutup Tarsoen.

Menanggapi permasalahan lingkungan yang ditimbulkan dari pembangunan prasarana pendidikan di kampus UI Depok, terutama masalah hutan UI, Pembinaan Lingkungan Kampus (PLK) UI membentuk semacam forum khusus lingkungan yang dapat dihadiri seluruh sivitas akademika UI. “Bila ada kritikan tentang lingkungan (hutan kota UI), sampaikan saja lewat forum tersebut,” kata Ismail, asisten kasubdit PLK UI.

Teks : Dimasyq Ozal

Foto : Ghitha Ghaida


Berita Terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat surel Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *