SINOFEST XI: Budaya Peranakan Tionghoa Nusantara, Budaya Indonesia

Ditulis oleh admin web   // April 23, 2012   // 0 komentar

IMG_4689

Sinologi Festival (SINOFEST) merupakan festival tahunan yang di  selenggarakan oleh program studi Sastra Cina. Sinofest tahun ini diselenggarakan di Fakultas Ilmu Pengetahuan Budaya Universitas Inonesia selama tiga hari berturut-turut, yakni dari tanggal 19-21 April 2012.

Sinofest ke-11 kali ini bertema “Budaya dan Kuliner Peranakan Tionghoa Nusantara” yang dimeriahkan dengan berbagai acara yang menarik baik talkshow dan seminar-seminar yang mengangkat keunikan budaya peranakan Tionghoa Nusantara, lomba karoke bahasa Mandarin,  biaoyan (sandiwara mini),  pementasan drama, lomba makan bakmi, pasar malan pecinan, panggung musik, dan sebagainya.

Pengisi acara festival pun cukup bervariatif, seperti acara seminar yang diisi oleh Marie Elka Pangestu (Menteri Pariwisata dan Ekonomi Kreatif ), Sujiwo Tedjo, Andi Wijaya, dan sebagainya. Sedangkan acara puncak dimeriahkan dengan pasar malam pecinaan dan panggung musik yang diisi oleh band-band yakni Karolina, Hamba Allah, Bobrocks, serta penampilan special dari White Shoes and The Couples Company.

Bila tahun lalu Sinofest mengangkat tema tentang budaya asli negeri Cina, kali ini tema yang diangkat tema istimewa  yang  terpaut erat dengan keberagaman etnis di Indonesia, yakni “Budaya dan Kuliner Peranakan Tionghoa nusantara”,“Kita banting stir mengangkat budaya tionghoa karena saat ini kami merasa  orang-orang melihat tionghoa yang dikaitkan dengan masalah etnis ‘98, Kami ingin menunjukkan bahwa budaya tionghoa juga bagian dari budaya nusantara, tujuannya adalah untuk menyadarkan masyarakat, ini loh budaya tionghoa dan ini adalah kita, Indonesia,” tutur PO Sinofest XI, Atika Deviyanti Wiguna.

Pendapat serupa juga dituturkan oleh salah satu pengunjung yang merupakan mahasiswa UI jurusan Ilmu Sejarah, “Festival kali ini temanya sangat menarik saya karena tidak hanya merangkul budaya Cina saja, tetapi juga merangkul budaya Nusantara yang mana mereka saling berakulturasi”.

Teks: Hurun’in Q. A

Foto: Rana Fathiya Kusuma


Berita Terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat surel Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *