Rona: Semua Perempuan Adalah Sosok Kartini

Ditulis oleh admin web   // April 25, 2012   // 0 komentar

527458_3320026612682_1628814742_2699785_1324254486_n

Saya adalah anak dari Ibu yang bekerja sebagai TKI. Disini, saya ingin membuktikan kalau anak-anak TKI pun bisa mencapai pendidikan yang tinggi dan berprestasi.

Rona Cahyantari Merduaty, juara pertama Mahasiswa Berprestasi (Mapres) dari Fakultas Ilmu Keperawatan ini mempunyai pandangan tersendiri dalam memaknai hari Kartini serta kesetaraan gender. Berhasil menjadi juara dari 12 orang mahasiswa berprestasi lainnya dari FIK adalah hal luar biasa yang diraih Rona. Lolos menjadi kandidat 6 besar mahasiswa berprestasi FIK, melalui ide inovatifnya, kebijakan revitalisasi pos kesehatan serta peningkatan derajat kesehatan masyarakat di desa tertinggal, Rona unggul dari rekan-rekannya yang salah satunya adalah pria.

Ketika ditanya apakah Rona bangga berhasil menjadi juara, Rona menjawab bahwa dirinya sangat bangga, apalagi jika orang-orang tahu bahwa dirinya adalah anak dari Ibu yang bekerja menjadi TKI di Taiwan, pasti banyak yang tidak menyangka. Rona ingin membuktikan bahwa anak-anak yang dibesarkan dari orang tua yang bekerja sebagai TKI mempunyai derajat dan peluang yang sama dengan anak-anak yang lain dalam hal pendidikan, buktinya ia berhasil menjadi juara pertama Mahasiswa Berprestasi dari FIK. Tidak hanya itu, kemenangan dirinya ini ia jadikan batu loncatan untuk mewujudkan mimpi besarnya membentuk wadah bagi anak-anak yang dibesarkan dari keluarga TKI untuk membentuk perkumpulan tersendiri. Tujuannya, memotivasi mereka meraih mimpi, terutama untuk meraih pendidikan yang setinggi-tingginya.

‘Perempuan dan laki-laki saat ini mempunyai kedudukan yang sama di masyarakat. Persamaan derajat antara perempuan dan laki-laki bukan dijadikan ajang untuk saling menjatuhkan, tapi dijadikan batu loncatan untuk berpartisipasi dan berkontribusi lebih banyak bagi masyarakat atau orang-orang sekitar’, itulah makna hari Kartini bagi Rona.

Perempuan yang mempunyai sosok Kartini tersendiri ini, yaitu sang Ibu, berpendapat bahwa isu kesetaraan gender harus dilihat dari berbagai sudut. Jika dilihat dari persamaan hak untuk mendapat pekerjaan, pendidikan, dan penghidupan yang layak, ia sangat setuju bahwa perempuan memang setara dengan laki-laki. Namun, dalam hal peran, Rona berpendapat bahwa peran perempuan dan laki-laki sudah kodratnya berbeda. Seorang perempuan nantinya harus menjadi Ibu yang berkewajiban untuk memberikan ASI eksklusif kepada anak-anaknya. Itulah isu kesetaraan gender yang menurut Rona harus menjadi fokus utama. ‘Saat ini peran perempuan sebagai Ibu terkadang terlupakan’, ujar Rona.

Teks : Cynthia Febrina Maharani


Berita Terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat surel Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *