Teater Goyang Penasaran Meretakkan realisme Cerpennya

Ditulis oleh admin web   // April 25, 2012   // 0 komentar

IMG-20120419-00940

Pementasan teater oleh Teater Garasi berlakon Goyang Penasaran yang digelar 19, 20 April lalu di Salihara berangkat dari sebuah cerpen berjudul serupa yang ditulis oleh Intan Paramaditha. Mengusung wacana seksualitas, agama, politik dan kekerasan yang bersinggungan dengan isu LGBT, Goyang Penasaran menggunakan latar tahun 1997. Ini digambarkan dengan pemasangan kalender 1997 dan foto Presiden dan Wakilnya pada masa itu.

Lakon ini menceritakan tentang Salimah, seorang penyanyi dangdut yang digilai oleh banyak pemuda kampung setempat. Berprofesi sebagai penyanyi dangdut Salimah kerap mendapat pelecehan dan penghinaan dari masyarakat. Ia menuai kecaman akibat goyangannya yang terbilang erotis. Ia diboikot oleh pemuda yang sama dengan yang menggilai tubuhnya. Hal ini menarik, karena disitulah ditunjukkan adanya tindakan provokasi atas nama pembenaran agama untuk melakukan kekerasan.

Adegan kekerasan juga digambarkan dengan Salimah yang bergoyang sambil memegang potongan kepala Haji Ahmad. Ia dibunuh oleh Solihun, laki-laki yang sangat menyukai Salimah. Motif Solihun memenggal kepala tersebut adalah sebagai syarat yang harus dipenuhi agar Salimah bergoyang di hadapannya. Salimah menuntut dendamnya kepada Haji Ahmad yang pernah memandangnya dengan mata membelalak dan hampir menciumnya ketika ia sedang membaca Alqur’an. Padahal Haji Ahmad sendiri menyebutkan bahwa perempuan adalah setan dan sumber dosa yang memancing laki-laki melakukan perbuatan maksiat.

Lakon ini menampilkan double casting untuk beberapa pemain dengan alasan ekonomis. Sutradara Goyang Penasaran, Naomi Srikandi mengatakan ekonomis bukan hanya dalam budget produksi tapi juga menghemat interaksi antara sutradara dan aktor untuk penciptaan karakter.

Sebelum ini, Goyang Penasaran pernah dipentaskan di Teater Garasi, Yogyakarta dengan panggung outdoor sehingga artistik panggung lebih kental unsur realismenya dan lebih menyerupai apa yang ada dalam cerpen. Dalam pementasannya di Salihara, Teater Garasi menginstalasi sendiri setting panggung yang kecil dengan panggung dangdut diatas mushola. Menurut Naomi, panggung dangdut dan mushola sama-sama performatif dan seduktif. Sebuah ironi, panggung dangdut tempat dimana para laki-laki memuja tubuh Salimah bersanding dengan mushola tempat Salimah mengaji namun juga dilecehkan dengan tatapan Haji Ahmad dan dijadikan tempat bermasturbasi oleh Subhan, muazhin mushola tersebut.

Goyang Penasaran meretakkan unsur realisme dengan menampilkan aktor yang seluruhnya laki-laki untuk memerankan peran termasuk peran perempuan (Salimah). Naomi, dalam diskusi di penghujung acara mengatakan bahwa mereka menawar realisme  untuk mencerminkan refleksi yang berbeda.

“Kami menggunakan realisme hanya sebagai pijakan untuk bermain-main di dalamnya,” ungkap Naomi.

 

Teks : Agustina Pringganti, Amalia Astari


Berita Terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat surel Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *