Menikmati Budaya Jepang Lewat Komunitas AKIPA UI

Ditulis oleh admin web   // April 26, 2012   // 0 komentar

otakuf

Ditemui saat sedang istirahat sore di Kansas (Kantin Sastra) pada Rabu (18/04), Ketua AKIPA Radityo Adhi Prabowo atau yang biasa disapa Radit ditemani oleh seorang anggotanya Kevin Wilyan berhasil SUMA wawancarai lebih dalam, seperti apa sih, komunitas ini sebenarnya?

AKIPA yang merupakan kepanjangan dari Akihabara Party mula-mula dibentuk atas prakarsa gerombolan muda-mudi mahasiswa Sastra Jepang UI angkatan 2008 yang ingin menciptakan satu komunitas unik. Komunitas di mana mereka bisa saling berbagi info dan segala macam hal menarik lainnya soal anime-manga yang baru rilis. Mereka adalah Sudwi, Akbar, Radit, Didit, Rio, dan Fitri. “Fitri inilah yang kata-katanya membuat gue kepikiran ide untuk membuat AKIPA,” aku Radit. “Ada juga anak 2007. Aryo. Sekarang dia megang urusan korespondesi di AKIPA.”

Pada Desember 2011 ketika baru berdiri, keanggotaan AKIPA rupanya masih terbatas mahasiswa Sastra Jepang dari tiga angkatan saja (2008 – 2010), hingga kemudian salah seorang dari mereka mengajak satu mahasiswa Fasilkom untuk ikut bergabung dan terbesitlah ide yang menjadi titik balik itu: “Kenapa AKIPA tidak merangkul semua otaku UI saja? Kami ingin menjamah semua otaku yang masih “tersembunyi”, mereka yang masih terpencar di mana-mana, kami ingin kita kumpul, sharing bersama, sehingga nantinya mereka bisa merasa ‘Yappari, watashi wa hitori janai’ (terj: Oh, ternyata saya tidak sendirian!)”

Dari pemikiran besar itu, AKIPA mulai melebarkan sayapnya. Mereka menyatukan diri dengan komunitas beraliran sama di FKM UI yang bernama ABC Project untuk menambah anggota. Mereka percaya dengan semakin banyaknya fakultas yang terangkum, diskusi-diskusi yang dilakukan akan lebih punya greget karena dilihat dari berbagai sudut pandang disiplin ilmu. “kita juga ke FT. Ternyata di sana banyak juga, lho. Sekarang pun anggota kita ada semua perwakilannya dari seluruh fakultas di UI. Cuma satu ya, FH. Itu kita yang belum ada. Oh ya, sama satu lagi, FKG,” terang mahasiswa berkaca mata ini.

Bahkan dari Sastra Jepang saja, sebenarnya hanya sebagian yang tertarik ikut AKIPA. “Kan Jepang itu luas. Nggak cuma anime-manga doang. Mereka interest-nya beda. Ingat, Jepang tidak sama dengan otaku, tidak sama dengan anime, tidak sama dengan Miyavi… karena saya pecinta Arashi,” jelas Kevin sambil sedikit bergurau. (ket: Miyavi [dibaca Miyabi] dan Arashi adalah salah satu band yang berasal dari Jepang)

Mengenai seleksi masuk, Radit mengaku sampai saat ini masih belum ada hal semacam itu. “Mungkin nanti kalau sudah jadi UKM dan anggotanya perlu dibatasi,” jelasnya.

Bicara soal kenapa nama “AKIPA” yang dipilih, Radit bercerita kalau awalnya mereka ingin sebuah nama yang terkesan imut, manis, atau dalam bahasa Jepangnya moe atau kawaii. Tidak heran karena segala sesuatu yang berbau moe sangat populer. Lantas muncullah kata itu: Akihabara. Ya, Akibahara atau yang biasa disingkat Akiba ini adalah sebuah distrik di Jepang yang kerap dianggap sebagai surganya para otaku (orang yang tergila-gila dengan suatu hal sampai mengabaikan banyak hal lain, bahkan kehidupan sosialnya, sehingga di Jepang sendiri otaku memiliki konotasi yang cenderung negatif. Di Indonesia, terminologi otaku sudah digeneralisasikan sebagai pecinta anime-manga-game.). Pokoknya, berbagai macam bentuk anime, manga, video game, cosplay, action figure, sampai maid and butler caffe semuanya tumpah ruah. Mereka pikir itulah nama yang cocok untuk mereprentasikan kegiatan utama mereka.

Namunsebagian otaku rupanya masih ada yang belum cocok, “Aki-nya dari Akibahara. Terus tambahin apa lagi, ya?” pikir Radit, “oh iya, tambahin pa biar nanti jadi AKIPA. Pa di sini berarti party… Tapi sekarang kita anak AKIPA udah sepakat sih, AKIPA ya AKIPA. Nggak ada arti khusus dari situ.”

Kegiatan mereka pun bukannya tidak berkembang. AKIPA mulai membuka diri terhadap segala macam bentuk pop kultur Jepang. Tidak hanya sebatas anime dan manga, tapi juga Vocaloid (software suara sintesis keluaran Yamaha yang bisa menyanyikan berbagai macam lagu), figurin (terdiri dari nendroid, mecha rakitan, one-coin figure, figma, dll), J-Pop, dorama (sinetron Jepang), film Jepang, tokusastsu (disingkat toku, misalnya Kamen Rider atau Super Sentai [Power Ranger Jepang]), game (PC, PS, Nintendo, Wii, RPG, MMORPG, Visual Novel, eroge, homoge, dll), Light Novel (disingkat LN, artinya novel ringan), seiyuu (bahasa Jepang untuk penyulih suara atau dubber), Drama CD, dan masih banyak lagi. “Memang tidak sebanyak pecinta anime-manga, sih. Seperti tokusatsu misalnya, itu cuma sedikit. Kita juga mulai masukin Vocaloid, game… Kayak RPG. Gue main RPG. Cuma ya itu, orangnya sedikit,” kata Radit lagi. “Tapi kita nggak ke cosplay. Karena cosplayer itu kan nggak selalu suka anime-manga-nya, mereka biasanya cuma suka karakternya saja.” (ket: cosplayer adalah orang biasa [bukan artis] yang melakukan cosplay, yakni berdandan dan bertingkah laku sepersis mungkin [imitasi total] dengan karakter yang dia sukai, baik tokoh rekaan maupun tokoh di dunia nyata).

Selain kumpul-kumpul tiap hari Senin di Ruang Diskusi Perpustakaan Pusat UI (AKIPA belum memiliki club room-nya sendiri) dan membuka diskusi-diskusi yang mendalam, kegiatan lainnya pun terbilang cukup progresif. Mereka sempat menyelenggarakan Pemutaran dan Diskusi Film Karigurashi no Arietty Januari lalu, dilanjutkan dengan Seminar Vocaloid di bulan Maret, kemudian “Moefikasi” Fakultas yang intinya membuat personifasi dari tiap-tiap fakultas yang ada di UI sesuai dengan karakteristiknya masing-masing. “Misalnya FE itu kita bikin cowok berkaca mata. FT itu cewek yang di tangannya ada mesin-mesin dan melingkarkan kemeja di pinggang. Macem-macem, lah,” kata Radit memberikan contoh sebelum diinterupsi Kevin, “tapi FIB belum jadi-jadi. Hiks, sedih, deh..”

Selain itu, ada lagi acara yang paling masif. Mereka punya rencana besar untuk membawa Comiket (comic market) yang biasa digelar di Jepang ke lingkungan UI, bersamaan dengan rangkaian acara Gelar Jepang (GJ) UI tahun ini. Comiket sendiri adalah acara yang rutin diadakan di Jepang, di mana para fans membuat komik mereka sendiri yang disebut doujinshi untuk kemudian dipasarkan dan dijual kepada fans-fans lainnya. “Nama event-nya Comic Frontier. Ini adalah acara dari fans, oleh fans, dan untuk fans,” ujar Kevin semangat. Sayangnya, rencana ini masih perlu dikaji ulang karena lokasi penyelenggaraan GJ yang belum pasti.

Ketika ditanya apa ingin mengadakan semacam studi banding dengan komunitas sejenis lainnya di universitas-universitas tetangga, Radit berkomentar, “Wah, kalau studi banding belum tahu, ya. Gue ikut organisasi baru semenjak kuliah ini, sih. Jadi nggak terlalu ngerti studi banding kayak gimana. Kalau cuma ingin membandingkan kemampuan dan pengetahuan anime-manga masing-masing sih gue pikir nggak terlalu penting lah ya. Palingan kita kayak kemarin di event STAN. Kita ikut otaku competition dan menang. Kita juga buka stand untuk lebih mempromosikan ke publik, kalau UI ternyata punya komunitas anime-manga-game juga.”

AKIPA itu sebenarnya lebih “bebas”, sehingga bagi para pecinta anime-manga-game yang masih ragu-ragu bergabung karena merasa kurang “pengalaman”, Radit mengimbau agar jangan takut, karena (calon) UKM ini siap mewadahi bahkan “mengajarkan”, toh kesukaan orang memang tidak selalu sama. Ada yang hanya suka moe-stuff, ada juga yang hanya shonen-stuff. Ada yang hanya suka toku, ada pula yang cuma setia di anime-manga. “Tapi gue pernah nemu satu, tuh. Nia. Dia anak FISIP. Dia ‘pemakan segala’. Apa aja dia tonton. Moe, eroge, yaoi.. Baru kali itu gue nemu orang kayak begitu. Dan menurut gue, mainstream itu emang nggak salah. Hanya saja, it is so good that it is going bad, terlalu bagus tapi malah jadi jelek. Seperti kenapa K-ON sangat populer, padahal ceritanya biasa-biasa saja? Naruto, Bleach, One Piece, itu bukannya gue nggak suka,” curhat mahasiswa yang sebentar lagi akan mengajukan skripsinya ini.

Radit pun setuju bahwa inti dari sebuah organisasi adalah kesolidan para anggotanya. Kevin tidak alpa mengiyakan, memang sejak diperkenalkan setahun yang lalu di Balairung UI bersama-sama dengan UKM dan calon-calon UKM lainnya, dari sekian ratus pendaftar, yang benar-benar aktif sebenarnya hanya 30-an mahasiswa. “Angan-angan ke depannya sih itu aja dulu. Tetep jadi UKM yang masih tetep eksis. Anggota dan kegiatannya tetep banyak. Lebih solid. Ya, solid. Itu yang sulit,” katanya.

Teks : Mutya Widyalestari

 

 

 

 


Berita Terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat surel Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *