Teko Mempersembahkan Langsung ke Hati

Ditulis oleh admin web   // April 30, 2012   // 0 komentar

avatar

Teko (Teater Psikologi) mempersembahkan sebuah pementasan berjudul “Suryati Langsung ke Hati” di Aula Gedung D Fakultas Psikologi Universitas Indonesia. Pementasan teater bertema komedi ini diselenggrakan pada hari Sabtu, 28 April 2012 pukul 19.30 WIB dan Minggu, 29 April 2012 pukul 14.30 WIB. Putri Ayudia (Putri Indonesia Intelegensia II 2011) yang bertindak sebagai sutradara dalam pementasan tersebut mengangkat isu prasangka yang dikemas dalam humor.

Sebanyak enam belas orang pemain dan delapan puluh orang kru turut terlibat dalam pementasan yang berlangsung selama kurang lebih tiga jam ini. Melalui sebuah cerita yang ringan dan menghibur Teko berusaha membawa tema yang berkaitan dengan psikologi untuk setiap pementasan yang rutin diselenggarakan tiap tahunnya. “Kita memang selalu mengusung tema kampanye, tahun ini yang menjadi tema besarnya adalah awareness on prejudice,” ungkap Putri yang ditemui seusai pementasan.

Meskipun pementasan kedua yang diselenggarakan pada hari Minggu sempat tertunda hingga lebih dari tiga puluh menit, namun antusiasme penonton untuk menyaksikan pementasan teater Suryati ini cukup besar. Hal tersebut terlihat dari kerelaan mereka untuk mengantri di pintu masuk aula sampai sekitar pukul 15.00 sore.  Pementasan dibuka dengan pembacaan beberapa peraturan bagi penonton yang disampaikan dengan dialek khas jawa. Latar pementasan dibuat menyerupai suasana desa yang sangat tradisional dengan penggunaan bilik bambu dan bangku kayu.

Suryati sebagai tokoh utama dibawakan oleh Zakira yang muncul sejak awal cerita dengan balutan kebaya khas jawa yang sangat tradisional. Dalam pementasan teater tersebut Suryati dikisahkan sebagai gadis yang cantik dan santun perangainya. Dia dikagumi oleh hampir seluruh warga kampung, terutama mereka yang ingin memperistrinya. Sebagai seorang penjual makanan di sebuah warung kecil Suryati menjadi lebih terlihat istimewa karena bisa menarik hati pria mapan dan berkelas yang bernama Ferdi.

Konflik muncul ketika kemudian Suryati dianggap tidak memiliki pendirian dan cenderung menerima semua bentuk perhatian dari semua laki-laki yang mengaguminya. Sampai akhirnya dia harus memutuskan untuk memilih salah satu diantara laki-laki tersebut. Cerita yang dialami Suryati ini dikemas dengan begitu ringan dan sangat menghibur. Berbagai bentuk gurauan menyelingi adegan demi adegan pementasan. Sehingga semua penonton turut larut dalam alur cerita yang ditampilkan.

Pernyataan-pernyataan yang bersifat kritis mengenai fenomena yang terjadi di Indonesia juga mewarnai dialog pemain-pemain teater yang sudah dilatih sejak bulan Februari tersebut. Pesan moral melalui percakapan antar pemain menjadi sangat mudah dipahami karena dikemas dengan bahasa yang digunakan sehari-hari. Pada saat pementasan, diputar beberapa lagu yang sebagian dibawakan langsung oleh para pemain yang terlibat.

Pada akhir pementasan, tanpa diduga Teko membuat cerita Suryati ini menjadi lebih menarik. Karena pada akhirnya Suryati tidak memilih laki-laki manapun sebagai pendamping hidupnya. Dia justru memilih Marni, teman wanitanya yang sudah dia kenal sejak kecil. Bude Suryati yang dikenal sangat keras pun akhirnya tidak bisa menghalangi keputusan Suryati yang memang mencintai sesame jenis. “Ceritanya selalu unpredictable,”ungkap Inda Maria (Mahasiswi Psikologi angkatan 2007) yang turut menyaksikan pementasan tersebut.

Anissa Nindyani yang menjadi Project Officer pada Pementasan Semi Besar Teater Psikologi UI tersebut mengaku para pemain yang terlibat telah melalui proses casting sejak bulan Januari. Untuk itu tidak heran jika mereka terlihat tidak main-main dalam menampilkan teater tersebut. “Dibanding tahun sebelumnya, terlihat mereka lebih banyak persiapan,” tutur Inda saat dimintai tanggapannya oleh SUMA.

Ada tiga harapan yang dibuat oleh Putri selaku sutradara untuk pementasan Teko sejak dua tahun terakhir ini,“Harapannya semoga setiap orang bisa belajar dari apa yang mereka kerjakan disini, meningkatkan semangat teman-teman untuk bermain, dan agar para penonton yang menyaksikan bisa lebih mengapresiasi pementasan teater.”

Teks : Nisa Vidya Yuniarti


Berita Terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat surel Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *