Sanggar Akar ; Tak Sekedar Sekolah Alternatif Bagi Akar Rumput

Ditulis oleh admin web   // Mei 2, 2012   // 0 komentar

a

Edisi Khusus Hari Pendidikan Nasional

Sekolah Alternatif Sanggar akar untuk menjangkau warga negara yang tidak mendapatkan haknya yang diamanatkan dalam UUD 1945. Perjuangan itulah yang menjadikan sekolah alternatif Sanggar Akar tak hanya menjadi sekedar sekolah bagi akar rumput.

Bak pahlawan tanpa tanda jasa, ditengah menterengnya papan-papan sekolah bertanda “Unggulan” dan “Bertaraf Internasional”, Sekolah Alternatif tak urungkan niatnya untuk mencetak ‘ahli-ahli’ mereka.

“Ahli yang kita cari, bukan ijazah yang hanya dibutuhkan perusahaan. Pendidikan formal tidak dimerdekakan selama tidak ada konsep ahli”, ujar Tjoeprianto, pengurus sekaligus salah satu pendiri Sekolah Alternatif Sanggar Akar.

Berdiri tahun 1989 di bawah Institut Sosial Jakarta, kini Sanggar Akar menjadi tempat tinggal dan mengenyam pendidikan bagi anak-anak jalanan yang tak memiliki kesempatan mendapatkan pendidikan sekolah formal. “Istilah ‘sanggar’ dibuat untuk menunjukkan sebuah ruangan yang nyaman bagi anak-anak, sedangkan nama ‘akar’ dimaksudkan untuk menjawab persoalan harus dicari dari akar permasalahannya”, jelas Tjoeprianto.

Berbekal model pembelajaran alternatif non-formal, pria yang sering disapa Opung tersebut berusaha menciptakan ruang untuk anak belajar sesuai dengan minat dan bakat hingga menjadi ahli di bidangnya. Di bidang seni, Sanggar Akar memiliki program rutin berupa malam apresiasi, yaitu wadah untuk mempresentasikan karya anak-anaknya. “Kami turut mengundang para apresiator seperti sastrawan dan musisi untuk menilai hasil karya mereka”, terang Opung. Tak hanya seni, anak-anak Sanggar Akar pun juga memproduksi karya jurnalistik seperti Tabloid.

Bagi mereka yang tak diliputi keterbatasan ekonomi, bisa jadi sekolah merupakan kungkungan yang menjebaknya pada rutinitas belaka. Namun bagi Doge Abdurrahman yang dulu berumur enam tahun, pengalaman mengenyam bangku sekolah alternatif bagaikan secercah harapan untuknya yang terhempas dari jalur pendidikan formal karena tak mampu secara ekonomi.  Kini, setelah dua puluh tahun berlalu, Doge mengabdikan diri di Sekolah Alternatif Sanggar Akar, sekolah yang melayani anak-anak tak mampu secara ekonomi. “Di tempat inilah, saya menaruh harapan”, ujar Doge.

Bagi  Doge, pendidikan alternatif adalah model pendidikan yang membawa pembaharuan dan perubahan di tingkat sosial masyarakat. “Di sini kami memposisikan anak sebagai subjek yang sedang belajar, bukan sebagai objek. Ketika anak datang ke sekolah, mereka harus mengikuti keinginan gurunya, tapi di sini, kita sangat transparan, terbuka, dan ada ruang dialog sehingga anak-anak bisa berkembang sesuai dengan kehendaknya sendiri”, ujarnya.

Menurut Opung, sistem tersebut merupakan bentuk perlawanan terhadap sistem pendidikan formal yang diterapkan di Indonesia.  Sejatinya sebuah perlawanan, perjuangan para pengurus Sanggar Akar pun tak mudah. Terutama ketika bicara masalah dana. “Sampai detik ini, saya merasa tidak ada bantuan dari pemerintah pusat. Bantuannya mungkin dari RT dan RW yang mengizinkan kami untuk tinggal di sini”, ungkap Opung.

Tak habis akal, Sanggar Akar pun menghidupi dirinya dengan mencari donasi dari para “Sahabat Akar”. Sekolah yang terletak di Kalimalang ini juga memperoleh dana dari penampilan seni para anak didiknya.

Dimuat dalam majalah Suara Mahasiswa edisi #26 dengan adaptasi oleh Amalia Ayuningtyas


Berita Terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat surel Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *