Menggapai Hening di Sendangsono

Ditulis oleh admin web   // Mei 7, 2012   // 0 komentar

Lanskap Sendangsono

Jauh sebelum saya ke sini, sebelum tahun 1904, biksu-biksu dari selatan Sendangsono sering beristirahat di sini dalam perjalanan panjangnya menuju Aruphadatu: poros dari tingkatan tertinggi Borobudur. Sejak Mei 1904, di tempat ini, pendeta Belanda Van Lith membaptis 173 orang Kalibawang setelah ia belajar bahasa Jawa 7 tahun. Sendangsono kemudian menjadi tempat ziarah mereka yang Katolik.

Sekitar 45 kilometer dari pusat kota Yogya, di antara hening bukit Menoreh, Ambar (dalam film 3 Hari untuk Selamanya) menyapa Bunda Maria. Ia lalu berdoa. Karena ia pikir, berdoa adalah good enough reason untuk berada di sini, di Sendangsono. Di tempat yang sama, Bunda Maria yang konon juga pernah menjejakkan kakinya ketika menampakkan diri kepada St. Bernadette Soubirous hadir di depan mata saya.

Tapi saya tak hendak berdoa. Saya hanya ingin merasakan suasana hening.

Saya tak tahu persis apakah saya, seperti direkomendasikan blog-blog, lewat jalan Godean sampai di Sentolo kemudian berbelok ke kanan atau  mengikuti jalan Magelang sampai di pasar Muntilan kemudian berbelok ke kiri. Saya hanya berbekal potongan film buatan Riri Riza itu dan petunjuk orang sekitar. Saya terus menyusur arah dengan sepeda motor, hingga kurang lebih satu jam, untuk terus mencapai tempat yang pernah mendapat AGA Khan Awards itu.

Berdoa di depan bunda maria - Foto: Maharddika

Gapura batu menunjukkan bahwa saya kian dekat dengan luasnya kompleks ziarah Katolik ini. Saya kemudian menyusur jalan Salib yang kala itu tebal oleh kiriman abu vulkanik gunung Merapi. Di beberapa perhentian, ada sayup cahaya lilin yang tertiup angin berkesiur. Pohon-pohon besar yang menjadi perindang membuat kedamaian kian kental.

Begitu masuk kompleks Sendangsono, gerbang yang mempertahankan bentuk joglo khas Jawa menyambut. Ia menyatu dengan patung-patung yang didatangkan langsung dari Spanyol. Area yang diarsiteki oleh Y.B. Mangunwijaya ini didominasi oleh bangunan yang terbuat dari batu. Saya kemudian diajak menyeberangi jembatan kecil sebelum akhirnya sampai di area utama tempat gua Maria berada.

Di area inilah kini saya duduk dalam sunyi, ditimpali rintik-rintik hujan.

Sendangsono memang menawarkan, bahkan mengharuskan, setiap pengunjungnya untuk berada dalam keheningan yang syahdu. Pada saat itu, hanya ada beberapa orang yang khusyuk duduk bermenung dengan rosario di tangan. Juga rintik hujan.

Tuhan barangkali menyukai keheningan. Ia memberi wahyu di keheningan. Ia hadir dalam khusyuknya doa Yesus pada malam terakhirnya sebelum ia dibawa ke bukit Golgotha. Ia hadir dalam persemedian Siddhartha Gautama di bawah pohon Bodh Gaya. Ia juga hadir di sela itikaf Muhammad di Gua Hira.

Saya juga (barangkali kita) berusaha bisa menggapainya dalam hening.

Teks & Foto : Maharddika


Berita Terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat surel Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *