Hutan UI Kian Menggundul, Pecinta Bumi Absen

Ditulis oleh admin web   // Mei 11, 2012   // 0 komentar

Pembangunan Integrated Faculty Club (IFC) di kampus Depok Universitas Indonesia hingga saat ini masih menuai kontroversi dari berbagai kalangan. Organisasi lingkungan kampus seperti Green Community (GC) UI menjadi salah satu pihak yang mempertanyakan tujuan utama pembangunan proyek yang mengorbankan hutan kota tersebut. “Kenapa harus membangun IFC sementara kita masih punya Pusgiwa (Pusat Kegiatan Mahasiswa),” ungkap Puspita Insan Kamil selaku ketua GC UI. Menurut mahasiswi angkatan 2010 Fakultas Psikologi tersebut, ada kesimpangsiuran informasi yang diberikan pihak PLK (Pembinaan Lingkungan Kampus) dan pihak rektorat terkait tujuan utama pembangunan gedung IFC tersebut.

Transparansi yang belum dilaksanakan dengan baik oleh pihak universitas soal pembangunan di kawasan kampus ini kemudian memunculkan reaksi protes dari sebagian kalangan mahasiswa. “Kami sempat melakukan aksi silent long march bersama Kamuka Parwata FTUI, dan Geography Mountaineering Club,” tutur Puspita ketika menjelaskan upaya protes yang pernah dilakukan terkait pembangunan gedung IFC di UI.

Meskipun hingga kini belum ada tanggapan yang berarti dari pihak rektorat terkait bentuk protes tersebut, Puspita memastikan pihaknya akan segera merumuskan bentuk aksi lain sebagai upaya lanjutan dari aksi long march sebelumnya. Tindakan yang dilakukan GC UI bukan hanya didasari oleh kepedulian terhadap lingkungan, tapi juga sebagai bentuk kekecewaan terhadap pihak rektorat.

Penuturan dari Jachrizal Sumabrata (Dosen Teknik Sipil yang juga bekerja di rektorat) pada sebuah kelas Psikologi Lingkungan menjadi salah satu pemicu kekecewaan tersebut. “Teman saya bilang beliau menyampaikan mengapa kita tidak boleh menebang pohon di UI sementara banyak orang di luar sana yang juga sibuk menebangi hutan,” ujar Puspita mengungkapkan kutipan rekan sekelasnya.

Berbeda halnya dengan GC UI, UKM (Unit Kegiatan Mahasiswa) Mapala UI mengaku pihaknya tidak melakukan tindakan langsung apapun untuk memprotes pembangunan gedung IFC UI. Meskipun mengetahui dampak lingkungan yang bisa ditimbulkan dari penggunaan hutan kota tersebut, Mapala UI sejauh ini hanya membantu memperluas isu tersebut sehingga bisa ditanggapi oleh mahasiswa lainnya.

Muhammad Ismaitullah yang kini menjabat ketua Mapala UI mengaku sejak sekitar tahun delapan puluhan Mapala UI memang lebih banyak memusatkan kegiatannya di alam bebas dan kurang memperhatikan isu lingkungan terutama di kawasan UI. “Mapala itu kompleks sekali, memang kalau dibandingkan dengan organisasi pecinta lingkungan akan sangat berbeda,” tutur Isma yang dijumpai di sekretariat Mapala UI.

Terkait pembangunan IFC sendiri, Isma mengungkapkan Mapala UI sempat membuat Pokja untuk mencari tahu isu tersebut dengan lebih mendalam dan bagimana dampaknya terhadap lingkungan. Namun ketika ditanyai upaya apa yang kemudian akan dilakukan dengan sedikit ragu Isma menuturkan semuanya akan dikembalikan lagi kepada hasil penelusuran dari Pokja tersebut.

Saat ini pembangunan gedung IFC sudah hampir rampung. Namun belum ada upaya lebih lanjut untuk mencegah dampak lingkungan yang mungkin timbul di sekitar hutan kota tersebut. Pembangunan driving range yang selama ini paling dipermasalahkan juga dipahami oleh berbagai kalangan termasuk GC dan Mapala UI. Tetapi kemudian koordinasi yang belum terbangun diantara berbagai komunitas pecinta alam dan lingkungan tersebut disinyalir menjadi salah satu faktor penghambat untuk melakukan gerakan bersama. Hal ini diungkapkan Isma saat menjelaskan alasan absennya Mapala UI dalam aksi long march menolak pembangunan driving range di UI.

Teks : Nisa Vidya Yuniarti


Berita Terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat surel Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *