Sebelum Abrahah Menyerang Ka’bah

Ditulis oleh admin web   // Mei 15, 2012   // 0 komentar

 

Raisa Aurora - Pemimpin Redaksi Majalah Suara Mahasiswa UI 2012

Buku “Iblis Menggugat Tuhan” karya Shawni membuka pemahaman saya lebih luas tentang kuasa Tuhan. Buku ini mengajak kita berpikir kritis tentang konsep Ilahi tanpa tersesat dalam logika. Intisari dari buku ini adalah kita, umat manusia, meski dikaruniai akal pikiran, tidak sanggup untuk menalar eksistensi dan keputusan Tuhan. Semakin kita berusaha memberi definisi atas setiap keputusan Tuhan, semakin kita disesatkan dan justru bersikap menjadi Tuhan. Seperti dalam kisah The Men Who Have Elephant, bab lanjutan dari Iblis Menggugat Tuhan, menceritakan tentang Raja Abrahah yang menyerang Ka’bah. Sedikit di antara kita yang tahu tentang sejarah di balik penyerangan rumah suci Tuhan ini. Selama ini kita hanya dikisahkan tentang pasukan Raja Abrahah yang dapat diporak-porandakan oleh hujan batu ketika menyerang Ka’bah. Latar belakang sehingga Raja Abrahah menyerang Ka’bah sebenarnya lebih menarik untuk kita ambil hikmahnya.

Abrahah mulanya hanya seorang budak yang melalui berbagai kesulitan dan keuletan dia berhasil diangkat menjadi pemimpin dan seorang raja. Dia dikenal sebagai Nasrani yang taat, arif, rendah hati dan cerdas mengambil keputusan. Sepandai-pandainya tupai melompat pasti jatuh jua, tiada gading yang tak retak, begitu pula Raja Abrahah. Kepemimpinannya diuji oleh Yang Maha Kuasa dan dia kalah dalam ujian tersebut. Suatu kali ia membangun sebuah gereja megah nan elok dengan harapan orang-orang kafir mau berpaling dari berhala mereka dan kembali menyembah Tuhan. Ia menulis surat kepada raja Abyssinia dan menyombongkan diri. Isi surat itu ternyata sampai ke telinga Ibnu Kinana, seorang penduduk Mekkah. Ibnu Kinana sangat geram mendengar kesombongan Raja Abrahah. Diam-diam di malam hari Ibnu Kinana mengotori gereja yang dibangun Raja Abrahah. Singkat cerita, Raja Abrahah marah besar hingga ia menyiapkan pasukan untuk menyerang Ka’bah. Ia tidak lagi dapat mengendalikan nafsu dan menggunakan akal sehat dalam keputusannya ini.

Dialog antara Raja Abrahah dengan panglima sekaligus sahabatnya, Siraaj (yang bernama asli Khidir), membuat kita berpikir tentang keadilan Tuhan. Abrahah menilai bahwa tindakan dia menyerang Ka’bah untuk menghancurkan berhala-berhala adalah perintah Tuhan. Tuhan memerintahkan dalam Injil bahwa orang beriman harus memerangi orang kafir dan memisahkan diri dari mereka. Perintah ini ditelan bulat-bulat oleh Raja Abrahah bahwa kita memang harus memerangi semua orang kafir penyembah berhala. Sementara panglimanya yang bijak berkata lain “Hukum-hukum yang melarang pemujaan terhadap berhala diperuntukkan bagi mereka yang percaya pada Tuhan – karena mereka mengetahui jalan yang benar. Bagi mereka yang menyembah Hubal atau Latta (nama berhala), hukum semacam itu tidak bermakna. Hukum-hukum yang memerintah kita memberantas penyembahan berhala dimaksudkan untuk penyembahan berhala di tengah-tengah kita. Meskipun perintah-perintah ini dibatalkan dengan turunnya Yesus”.

Keadaan ini bisa menjadi cermin terhadap masyarakat saat ini. Betapa sering didengung-dengungkan tentang peperangan terhadap orang kafir di antara umat Islam, apa hasilnya? Berbagai konflik dilahirkan, hilangnya toleransi beragama, permusuhan dan perpecahan. Bukan itu tujuan yang seharusnya dicapai. Orang-orang yang tahu tentang kebenaran dan justru menjadi sesat lebih berbahaya daripada orang-orang yang belum didatangi kebenaran. Jangan memerangi agama lain sementara dalam tubuh Islam sendiri kita belum mampu menyempurnakan diri. Sikap dan cerminan pribadi kita dengan sendirinya membuat kita dan agama kita dihormati dan dikagumi orang lain tanpa perlu memerangi dan memaksa pada mereka.

Setelah melewati perdebatan panjang, Raja Abrahah tetap bersikukuh, ia justru menawan Siraaj dan menudingnya sebagai penghianat. Cerita berlanjut dengan dialog antara Raja Abrahah dan Shayba, pemimpin suku Quraisy (yaitu Abdul Muthalib, kakek dari Nabi Muhammad SAW) yang mengajak damai. Shayba berkata bahwa ia tidak akan melawan karena pemilik Ka’bah lebih berhak untuk mempertahankan rumah-Nya, dan dengan cara-Nya pula Dia menghadapi pasukan Raja Abrahah. Shayba menawarkan Ibnu Kinana untuk diserahkan dan meminta Raja Abrahah untuk mengadili Ibnu Kinana tanpa perlu menyerang Ka’bah. Raja Abrahah menolak dan mencemooh kedatangan Shayba. Esoknya, Raja Abrahah beserta pasukannya menyerang Ka’bah, seperti yang kita ketahui kelanjutan ceritanya, mereka justru ditumpas habis oleh badai pasir dan hujan batu sebelum menyentuh Ka’bah.

Melihat kekalahan ini betapa bersyukurnya Shayba atas pertolongan Tuhan. Tepat setelah kekalahan Raja Abrahah, menantunya, Aminah melahirkan seorang putra yang kelak menjadi cahaya penerang umat manusia. Ketika Shayba tengah berdiri di dalam Ka’bah meminta rahmat atas cucunya, Siraaj yang tengah berduka karena kehilangan sahabat sekaligus rajanya, datang menemui Shayba. Dalam kebahagiaannya karena kekalahan Abrahah, Shayba menganggap bahwa Tuhan berpihak kepada dirinya. Siraaj yang bijak mengoreksi pemahaman Shayba. Tuhan mengalahkan pasukan Abrahah bukan untuk membuktikan bahwa Abrahah salah dan Shayba benar. Abrahah benar dalam keimanannya namun salah dalam tindakannya, di akhir hayat Abrahah akhirnya mengakui kesalahannya dan bertobat. Tuhan dengan kekuasaan-Nya menumbangkan pasukan Abrahah untuk mengantarkan Abrahah ke jalan yang lebih baik dalam memahami Tuhan.

Dari hal ini dapat diambil pelajaran bahwa keputusan Tuhan tidak bisa dinilai atas penalaran manusia. Perintah Tuhan bukan untuk berlaku kejam pada sesama. Keadilan Tuhan tidak bisa didasarkan pada konsep baik dan buruk manusia. Ketika Tuhan menjatuhkan ujian pada seseorang, orang lain boleh jadi menganggapnya sebagai hukuman. Apa yang kita lihat dalam kacamata kita dan apa yang dilihat dari kacamata orang lain tidak bisa digunakan untuk mengukur keadilan Tuhan.

Setelah berdialog, Siraaj lalu berbalik dan meninggalkan Shayba. Sebelumnya ia memberikan pedang peninggalan Raja Abrahah untuk bayi kecil yang berada di gendongan Shayba. Bayi tersebut akhirnya dinamai dengan nama gajah yang pertama kali Shayba jumpai tertunduk dan berlutut di hadapan Ka’bah, sementara di sekitar gajah tersebut bergelimpangan mayat pasukan Raja Abrahah. Nama gajah itu adalah Muhammad.

Buku “Iblis Menggugat Tuhan” karya Shawni membuka pemahaman saya lebih luas tentang kuasa Tuhan. Buku ini mengajak kita berpikir kritis tentang konsep Ilahi tanpa tersesat dalam logika. Intisari dari buku ini adalah kita, umat manusia, meski dikaruniai akal pikiran, tidak sanggup untuk menalar eksistensi dan keputusan Tuhan. Semakin kita berusaha memberi definisi atas setiap keputusan Tuhan, semakin kita disesatkan dan justru bersikap menjadi Tuhan. Seperti dalam kisah The Men Who Have Elephant, bab lanjutan dari Iblis Menggugat Tuhan, menceritakan tentang Raja Abrahah yang menyerang Ka’bah. Sedikit di antara kita yang tahu tentang sejarah di balik penyerangan rumah suci Tuhan ini. Selama ini kita hanya dikisahkan tentang pasukan Raja Abrahah yang dapat diporak-porandakan oleh hujan batu ketika menyerang Ka’bah. Latar belakang sehingga Raja Abrahah menyerang Ka’bah sebenarnya lebih menarik untuk kita ambil hikmahnya.

Abrahah mulanya hanya seorang budak yang melalui berbagai kesulitan dan keuletan dia berhasil diangkat menjadi pemimpin dan seorang raja. Dia dikenal sebagai Nasrani yang taat, arif, rendah hati dan cerdas mengambil keputusan. Sepandai-pandainya tupai melompat pasti jatuh jua, tiada gading yang tak retak, begitu pula Raja Abrahah. Kepemimpinannya diuji oleh Yang Maha Kuasa dan dia kalah dalam ujian tersebut. Suatu kali ia membangun sebuah gereja megah nan elok dengan harapan orang-orang kafir mau berpaling dari berhala mereka dan kembali menyembah Tuhan. Ia menulis surat kepada raja Abyssinia dan menyombongkan diri. Isi surat itu ternyata sampai ke telinga Ibnu Kinana, seorang penduduk Mekkah. Ibnu Kinana sangat geram mendengar kesombongan Raja Abrahah. Diam-diam di malam hari Ibnu Kinana mengotori gereja yang dibangun Raja Abrahah. Singkat cerita, Raja Abrahah marah besar hingga ia menyiapkan pasukan untuk menyerang Ka’bah. Ia tidak lagi dapat mengendalikan nafsu dan menggunakan akal sehat dalam keputusannya ini.

Dialog antara Raja Abrahah dengan panglima sekaligus sahabatnya, Siraaj (yang bernama asli Khidir), membuat kita berpikir tentang keadilan Tuhan. Abrahah menilai bahwa tindakan dia menyerang Ka’bah untuk menghancurkan berhala-berhala adalah perintah Tuhan. Tuhan memerintahkan dalam Injil bahwa orang beriman harus memerangi orang kafir dan memisahkan diri dari mereka. Perintah ini ditelan bulat-bulat oleh Raja Abrahah bahwa kita memang harus memerangi semua orang kafir penyembah berhala. Sementara panglimanya yang bijak berkata lain “Hukum-hukum yang melarang pemujaan terhadap berhala diperuntukkan bagi mereka yang percaya pada Tuhan – karena mereka mengetahui jalan yang benar. Bagi mereka yang menyembah Hubal atau Latta (nama berhala), hukum semacam itu tidak bermakna. Hukum-hukum yang memerintah kita memberantas penyembahan berhala dimaksudkan untuk penyembahan berhala di tengah-tengah kita. Meskipun perintah-perintah ini dibatalkan dengan turunnya Yesus”.

Keadaan ini bisa menjadi cermin terhadap masyarakat saat ini. Betapa sering didengung-dengungkan tentang peperangan terhadap orang kafir di antara umat Islam, apa hasilnya? Berbagai konflik dilahirkan, hilangnya toleransi beragama, permusuhan dan perpecahan. Bukan itu tujuan yang seharusnya dicapai. Orang-orang yang tahu tentang kebenaran dan justru menjadi sesat lebih berbahaya daripada orang-orang yang belum didatangi kebenaran. Jangan memerangi agama lain sementara dalam tubuh Islam sendiri kita belum mampu menyempurnakan diri. Sikap dan cerminan pribadi kita dengan sendirinya membuat kita dan agama kita dihormati dan dikagumi orang lain tanpa perlu memerangi dan memaksa pada mereka.

Setelah melewati perdebatan panjang, Raja Abrahah tetap bersikukuh, ia justru menawan Siraaj dan menudingnya sebagai penghianat. Cerita berlanjut dengan dialog antara Raja Abrahah dan Shayba, pemimpin suku Quraisy (yaitu Abdul Muthalib, kakek dari Nabi Muhammad SAW) yang mengajak damai. Shayba berkata bahwa ia tidak akan melawan karena pemilik Ka’bah lebih berhak untuk mempertahankan rumah-Nya, dan dengan cara-Nya pula Dia menghadapi pasukan Raja Abrahah. Shayba menawarkan Ibnu Kinana untuk diserahkan dan meminta Raja Abrahah untuk mengadili Ibnu Kinana tanpa perlu menyerang Ka’bah. Raja Abrahah menolak dan mencemooh kedatangan Shayba. Esoknya, Raja Abrahah beserta pasukannya menyerang Ka’bah, seperti yang kita ketahui kelanjutan ceritanya, mereka justru ditumpas habis oleh badai pasir dan hujan batu sebelum menyentuh Ka’bah.

Melihat kekalahan ini betapa bersyukurnya Shayba atas pertolongan Tuhan. Tepat setelah kekalahan Raja Abrahah, menantunya, Aminah melahirkan seorang putra yang kelak menjadi cahaya penerang umat manusia. Ketika Shayba tengah berdiri di dalam Ka’bah meminta rahmat atas cucunya, Siraaj yang tengah berduka karena kehilangan sahabat sekaligus rajanya, datang menemui Shayba. Dalam kebahagiaannya karena kekalahan Abrahah, Shayba menganggap bahwa Tuhan berpihak kepada dirinya. Siraaj yang bijak mengoreksi pemahaman Shayba. Tuhan mengalahkan pasukan Abrahah bukan untuk membuktikan bahwa Abrahah salah dan Shayba benar. Abrahah benar dalam keimanannya namun salah dalam tindakannya, di akhir hayat Abrahah akhirnya mengakui kesalahannya dan bertobat. Tuhan dengan kekuasaan-Nya menumbangkan pasukan Abrahah untuk mengantarkan Abrahah ke jalan yang lebih baik dalam memahami Tuhan.

Dari hal ini dapat diambil pelajaran bahwa keputusan Tuhan tidak bisa dinilai atas penalaran manusia. Perintah Tuhan bukan untuk berlaku kejam pada sesama. Keadilan Tuhan tidak bisa didasarkan pada konsep baik dan buruk manusia. Ketika Tuhan menjatuhkan ujian pada seseorang, orang lain boleh jadi menganggapnya sebagai hukuman. Apa yang kita lihat dalam kacamata kita dan apa yang dilihat dari kacamata orang lain tidak bisa digunakan untuk mengukur keadilan Tuhan.

Setelah berdialog, Siraaj lalu berbalik dan meninggalkan Shayba. Sebelumnya ia memberikan pedang peninggalan Raja Abrahah untuk bayi kecil yang berada di gendongan Shayba. Bayi tersebut akhirnya dinamai dengan nama gajah yang pertama kali Shayba jumpai tertunduk dan berlutut di hadapan Ka’bah, sementara di sekitar gajah tersebut bergelimpangan mayat pasukan Raja Abrahah. Nama gajah itu adalah Muhammad.


Berita Terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat surel Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *