Kesadaran Perlindungan HaKI di Indonesia Perlu Dipertegas

Ditulis oleh admin web   // Mei 16, 2012   // 0 komentar

“Sebagian besar Masyarakat kita tidak mengetahui pentingnya HaKI(Hak atas Kekayaan Intelektual) karena sebagian besar masyarat Indonesia adalah Masyarakat Agraris, sedangkan HaKI hanya banyak diperjuangkan oleh Masyarakat Perdagangan yang sebagian besar tinggal di daerah perkotaan,”

Pernyataan tersebut disampaikan oleh Prof. Agus Sardjono, Guru Besar HaKI FH UI dalam seminar bertema “Perlindungan Hak atas Kekayaan Intelektual terhadap Karya Industri Ekonomi Kreatif”pada acara Justice, Art, Music on Stage(JAMS) 9th pada Rabu(16/5) bertempat di ruang Moot Court FH UI. Selain Agus, pembicara lain seperti Pendiri Saratoga Capital Sandiaga Uno, Pendiri Record Label ‘Demajors’ David Karto, Pimpinan Creative Commons Indonesia Ari Juliano Gema dan Founder Clothing Line Kle’ Kleting Titis Wigati juga turut diundang mengisi acara.

Selain dilatarbelakangi oleh faktor demografi, minimnya kesadaran perlindungan HaKI juga disebabkan karena kekecewaan masyarat terhadap pelaksanaan pengaturan HaKI. Hal ini disampaikan Ari berdasarkan surveynya mengenai sub bidang HaKI yakni Hak Cipta kepada Industri Usaha Kecil Menengah (UKM) di beberapa daerah, “dari hasil survey saya, 50% masyarakat kecewa karena pendaftarannya yang tidak jelas dan tidak ada mekanisme gugatan yang jelas ketika terjadi pelanggaran Hak Cipta.” Pernyataan Ari juga diperkuat kembali oleh Agus yang menyatakan dua permasalahan pokok HaKI di Indonesia yakni Regulasi dan Implementasi Regulasi tersebut.

Minimnya kesadaran masyarakat terhadap pentingnya perlindungan HaKI kerap terjadi bahkan dalam bidang Musik. David Karto menjelaskan dirinya telah menghimbau pentingnya perlindungan HaKIU berulang kali kepada musisi yang bernaung di bawah label nya tetapi menuai hasil yang berbeda. “ Ada kalangan yang peduli untuk mendaftar, tetapi lebih banyak yang tidak peduli sama sekali,” ujar Karto.

Beji-20120516-00979.jpg

Suasana Saat Seminar JAMS 9th - Foto : Irfani Maqoma

Ketidakjelasan dalam pendaftaran Hak Cipta juga dialami oleh Kleting. Ia mengaku telah mendaftarkan Hak Cipta atas merk Clothing Line nya, tetapi ditolak karena merknya dirasa mempunyai kesamaan dengan merk lain, “Padahal tidak ada kesamaan antara merk saya dengan merk pihak yang mengajukan penolakan tersebut.”

Atas permasalahan tersebut, Agus menekankan perlunya sosialisasi mengenai pentingnya perlindungan HaKI kepada masyarakat. Agus juga menyarankan perlunya perbaikan kinerja dari penegak hukum dalam prosedur ataupun penindakan atas pelanggaran HaKI. “semoga dengan adanya seminar ini dapat meningkatkan kesadaran masyarakat tentang pentingnya perlindungan HaKI agar penggiat industri kreatif bisa lebih maksimal dalam berkarya,” ujar Ketua Pelaksana JAMS 9th, Marissa Harfiana.

Teks : Irfani Maqoma

 

 


Berita Terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat surel Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *