Mengkritisi Musik Lewat Karya Jurnalistik

Ditulis oleh admin web   // Mei 16, 2012   // 0 komentar

Grand Launching Majalah Suara Mahasiswa #28

Badan Otonom Pers Suara Mahasiswa meluncurkan Majalah Suara Mahasiswa edisi ke 28 pada Selasa (15/5) di Aula Terapung Perpustakaan Pusat Universitas Indonesia. Majalah Suara Mahasiswa edisi ke 28 tersebut mengangkat wacana mengenai musik Indonesia yang sedang berada di persimpangan antara kreativitas dan komoditas.

Pada peluncuran tersebut, Suara Mahasiswa mengadakan diskusi bersama Aldo Sianturi, Managing Director (Business Partner) di Radio A 96,7 FM dan Gerry Rangga, Ketua Indonesia Rhythm Foundation.

Acara dibuka dengan sambutan dari Raisa Aurora, Pemimpin Redaksi Majalah Suara Mahasiswa. Raisa menjelaskan mengapa ia mengangkat tema musik pada majalah edisi 28. “Label musik saat ini lebih memikirkan keuntungan , bukan segi kualitas” ujar Raisa.

Sampul Majalah Suara Mahasiswa Edisi #28

Setelah Raisa selesai menyampaikan sepatah-dua patah ucapan syukur atas terbitnya Majalah Suara Mahasiswa edisi 28, dimulailah seminar bersama Aldo dan Gerry yang dimoderatori oleh Arif Hanifan. Para pembicara kemudian menyampaikan pandangan mereka mengenai kondisi musik di Indonesia saat ini.

“Di Indonesia itu tidak ada industri musik. Yang ada hanya industri hiburan, industri pembajakan dan industri bintang. Kalau bicara soal musik, yang ada ialah bisnis musik,” kata Aldo Sianturi.

Lewat acara ini, Gerry berpesan agar para pemusik berkarya dengan menjadi diri sendiri.

“Apa pun yang dilakukan, termasuk bermusik, lakukanlah dengan menjadi diri sendiri. Jangan pernah berkarya hanya untuk mendapatkan uang,” kata Gerry.

Selain itu Aldo juga menambahkan agar menghargai proses dalam bermusik. “Hargailah proses dalam bermusik. Jangan ingin terkenal, tapi inginlah diapresiasi dan dikenal,” kata Aldo.

Peluncuran majalah Suara Mahasiswa #28 ditutup dengan penampilan Casavenue, band dari mahasiswa Universitas Indonesia.

Teks : Shintiya

 


Berita Terkait