Premortem : Tantangan Berfikir dalam Novel

Ditulis oleh admin web   // Juli 2, 2012   // 0 komentar

Judul Buku : Premortem
Penulis : J. Angin
Jumlah Halaman : 135 halaman
Terbit : 23 April 2012
Penerbit : Gramedia Pustaka Utama

Membaca novel identik dengan pelepasan kepenatan dengan membaca tumpukan prosa yang dibukukan dan dibalut oleh suatu alur yang merangkai setiap kisah menjadi suatu cerita yang utuh. Tak jarang imajinasi kita membumbung tinggi membayangkan keindahan, kemuraman atau romantisme yang ditawarkan oleh novel.

Banyak genre yang ditawarkan dalam pilihan membaca novel, seperti misteri, pop, roman dan lain sebagainya. Namun, baru-baru ini
muncul sebuah novel yang menawarkan pengalaman membaca yang berbeda. Premortem, sebuah novel yang tidak hanya memerlukan imajinasi saja, tetapi juga menuntut pembaca untuk menelaah dan meneliti setiap detail yang terpapar pada keseluruhan isi cerita.

Novel karya J. Angin ini tampaknya hendak mendobrak kemapanan penulisan literatur dengan menampilkan sesuatu yang berbeda. Mengusung motto “novel generasi baru pertama di dunia,” Premortem benar-benar menyajikan sajian bacaan yang dapat membuat dahi berkerut dan kepala mengepulkan asap tanda otak bekerja secara maksimal. Dalam novel ini, pembaca diajak untuk merangkai benang kusut dan menentukan jalannya cerita berdasarkan persepsinya masing-masing tanpa harus disuapi oleh si penulis.

Membaca Premortem ibarat membukukan film-film seperti Pulp Fiction, Inception dan Magnolia, lalu mencetaknya pada satu novel. Pembaca diharuskan merangkai kepingan puzzle yang berserakan pada sekumpulan cerita yang “abu-abu” dengan berbagai kisah
berbeda yang pada suatu titik akan saling berkaitan. Penokohan dalam novel ini diambil dari sudut pandang “keakuan” dan dinarasikan oleh berbagai tokoh yang berbeda. Seperti seorang pemilik toko kelontong, orang yang tengah terjebak dalam peperangan, wanita yang kehilangan adik serta keponakannya, dan masih banyak lagi.

Alur cerita pada novel ini terasa seperti dibolak-balikan oleh si penulis.Terkadang pembaca disuguhi dengan kisah problematika keseharian seseorang yang tampak nyata. Namun pada bab-bab selanjutnya, pembaca seakan dihajar dengan kisah yang berbeda sama sekali situasi serta kondisinya, atau bahkan bisa dikatakan bersifat surealis. Absurditas pun dapat terlihat dengan penamaan tokoh yang banyak memakai nama karakter yang sama walaupun sebenarnya berbeda orang, serta tidak adanya tanda bantu semisal tanda kutip untuk membedakan mana kalimat yang berupa dialog dan mana yang berupa monolog.

Promosi yang dilakukan oleh penulis dan penerbit dengan cara membuat video trailer, yang sebenarnya lazim dilakukan untuk mempromosikan sebuah film, menambah keunikan tersendiri pada novel ini. Cover depan buku yang menggambarkan wanita pada wajah seorang lelaki dilukiskan dengan simpel dan elegan tanpa kehilangan unsur ambiguitas.

Diluar semua kenyelenehannya, Premortem merupakan bacaan yang menantang sekaligus mengasyikkan. Sebuah breakthrough yang harus diapresiasi dengan sebesar-besarnya.

Maulandy


Berita Terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat surel Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *